
Jurnal Etika Spiritual IV
Edisi IV 20 Maret 2026
Redaksional
REDAKSI
Ray San Gayatri Putri
PENANGGUNG JAWAB SENI DAN BUDAYA
Tias Taylor
ALAMAT REDAKSI
Yayasan Widyo Suwarno
Ds. Tanggul, Kel. Boto, Kec. Wonosari, Kab. Klaten.
Karesidenan Surakarta. Provinsi Jawa Tengah, Indonesia
PENGIRIMAN NASKAH
Naskah bisa dikirim melalui email dengan alamat Gayatri.San@hotmail.com
FORMAT NASKAH
- Naskah ditulis dengan menggunakan font Times New Roman atau sejenisnya. Ukuran font adalah 12pt. Sedangkan judul bisa disesuaikan fontnya untuk keperluan estetika atau keindahan penyajian naskah.
- Antar baris berjarak dua spasi atau spasi ganda. Margin kiri kanan seimbang 3 cm. Atas bawah 4 cm.
- Tata Bahasa naskah harus sesuai dengan aturan penulisan naskah dalam Tata Bahasa Indonesia.
- Naskah dikirim sebagai lampiran dalam email. Dan bukan sebagai badan email.
- Naskah yang dilampirkan disarankan memakai MS Word atau PDF untuk kemudahan penerbitan dan keseragaman.
- Judul naskah bisa digunakan sebagai subjek pengiriman email.
- Sinopsis atau Rangkuman Naskah dijelaskan dalam Surat Pengantar. Termasuk didalamnya biodata singkat penulis naskah.
- Silahkan menghubungi Pemimpin Redaksi dengan email; Gayatri.San@hotmail.com Apabila anda memerlukan penjelasan lebih lanjut tentang pengiriman naskah.
HAK CIPTA INTELEKTUAL
Semua Naskah yang diterbitkan menjadi hak milik Jurnal Sufi Koco Miranggi.
Namun karena sifatnya yang sosial, naskah bisa diunduh dengan melalui ijin atau pemberitauan kepada Pemimpin Redaksi terlebih dahulu.
Daftar Isi Jurnal Etika Spiritual
EDISI KHUSUS 20 MARET 2026
1. SALAM DAN PENGANTAR KATA DARI REDAKSI
2. INTI PEMBELAJARAN ETIKA SPIRITUAL
Tema: “Pendekatkan Diri Kepada Tuhan Sebagai Sarana Kemanunggalan”
- “Rahasia Cinta Sakral” – Oleh Dr. Javad Nurbakhsh
- “Intimacy With God”
- “Puasa”
- “Kisah Bayazid ke Mekah” – Rumi
- “Naik Haji”
3. PEMBELAJARAN ETIKA SPIRITUAL
- Wahyu Kasunyatan Jati – Oleh R.Ay San Gayatri Putri Yuwana
- Doktrin Keutamaan Dalam Ajaran Sufi – Oleh Dr. Zailan Moris
- Konsep Pemahaman Pohon “Elm Dalam Matsnawi”, Karya Rumi – Oleh Este’Lami
- Pengkajian Puisi Spiritual Dengan Judul “Nama-Nama” Karya Rumi – Oleh Robert Bly
- Pengkajian Puisi Spiritual Dengan Judul “Pengakuan Palsu” Karya Dr. Alireza Nurbakhsh – Oleh Anna Taylor
4. WAHANA PEMBELAJARAN ETIKA SPIRITUAL
- Belajar ke Negeri China, Bagian Pertama – Oleh S. Kelly-Taylor
- Belajar ke Negeri China, Bagian Kedua – Oleh S. Kelly-Taylor
- Upacara Inisiasi Dalam Tasawuf – Oleh Terry Graham
- Seni Kaligrafi Dalam Islam Sebagai Sarana Media ke Alam Gaib – Oleh Deidre Conway
5. KISAH PARA SUFI
- Cinta Seorang Murid – Oleh Dr. Alireza Nurbakhsh
- Kisah Dervish Yang Gelisah dan Pedagang Karavan Yang Tidak Cerdas – Oleh Dr. Alireza Nurbakhsh
- Manusia Sempurna – Oleh Dr. Alireza Nurbakhsh
- Kisah Seorang Pemburu dan Burung Pipit – Oleh R. Ay San Gayatri Putri Yuwana
6. PUISI SPIRITUAL
Karya Pemimpin-Pemandu dan Guru Spiritual Sufi Nimatullahi: Dr. Javad Nurbakhsh (RIP) dan Dr. Alireza Nurbakhsh (London)
- “Wacana Pemikiran” – Karya Dr. Javad Nurbakhsh
- “Waktu Yang Engkau Miliki Adalah Sangat Berharga” – Karya Dr. Javad Nurbakhsh
- “Rindu Untuk Melihatmu” – Karya Dr. Alireza Nurbakhsh
- “Kekasih Yang Mempertaruhkan Segala-galanya” – Karya Dr. Alireza Nurbakhsh
7. ASMARANDANA
Kumpulan Sajak Asmara oleh S. Kelly-Taylor (Bahasa Inggris):
- “Love”
- “How I miss you”
- “How I remember You”
8. KESENIAN
- MUSIK: Era Emas Musik Chason dari Perancis 1960-1970 yang dinyanyikan oleh Eva Lanoir dan Lara Fabian.
- SENI TARI: “Beksan Gambyong Asmarandana” – Penata Tari: Dona Dhian Ginanjar, Penyusun Gending: Nanang Bayu Aji.
9. TAMAN MAEROKOCO
- Fenomena Alam “Awan Berbentuk Rubah Berekor Sembilan di Angkasa” – Oleh Anna Taylor
- Puisi Kehidupan oleh Anna Taylor:
- “Aria”
- “Karavan Cinta”
- “WWW – Jaringan Internet Dunia”
- “Pantai Bondi Sydney, Australia”
10. BERITA ILMU DAN TEKNOLOGI
- Mengembangkan Seluruh Embrio Tanpa Sperma maupun Telur – Oleh Dr. A.M Arias.
- Bayi dilahirkan dengan 3 DNA bebas dari penyakit keturunan – Oleh New Castle Fertility Centre, England.
- Embrio Terbuat Dari Sel Kulit Manusia (Teknik terbaru bidang kedokteran) – Oleh Prof. Dr. Shoukhrat Mitalipov.
11. HALAMAN DEDIKASI DAN DEKLARASI
Sumber Narasi Dan Penulis Naskah Edisi Khusus 20 Maret 2026
SUMBER NARASI
- Dr. Javad Nurbakhsh (Almarhum) Kemran 10-12-1926 – 10-10-2008 London. Almarhum Dr. Javad Nurbakhsh adalah pembeharu ajaran etika spiritual Sufi. Beliau mengembangkan ajaran Ibnu al-Arabi “Kemanunggalan wujud” dan menjadi dasar pembelajaran etika spiritual pada Sufi Nimatullahi. Selama hidupnya Dr. Javad Nurbakhsh telah menulis banyak buku tentang psikiatri dan banyak menulis serta menerbitkan karya tentang Sufisme. Dr. Nurbakhsh, menjadi Sheikh atau Master Tarekat Sufi Nimatullahi sejak usia dua puluh enam tahun (1952) hingga beliau wafat tahun 2008.
- Dr. Alireza Nurbakhsh Dr. Alireza Nurbakhsh adalah Sheikh dan Pemimpin Sufi Nimatullahi Global sejak tahun 2008 hingga saat ini. Beliau mendapatkan gelar Ph.D dari Universitas Iowa, USA, dan Hukum Magister dari London. Bekerja sebagai Notaris pada perusahaan properti di London disamping memimpin editor Jurnal Sufi dan Sheikh Nimatullahi Sufi Order Global. Berkedudukan di London dan Banbury-Oxford, England, UK.
PENULIS DAN PENYUMBANG NASKAH
- Terry Graham Lulusan Harvard University bidang “History and Literature” dan Post Graduate dibidang Persian Literature pada Teheran.
- Dr. Robert Bly Pujangga dari Amerika Serikat. Lulusan Harvard dan University of IOWA, USA. Terkenal dengan bukunya: Iron John, A Book about A Man , yang bertahan selama 62 Minggu sebagai salah satu “best seller book New York Times 1990”.
- Dr. Sara Sviri Ahli dalam Sufism. Thesis gelar Doktornya membahas “Pemikiran di Dalam Sufism”. Beliau menerbitkan buku di bidang Sufisme pada tahun 2003 dengan judul “Perspective on Early Islamic Mysticism: The world of Al-Hakim Al Thirmidi and His Contemporaries”. Beliau juga ahli bahasa dan penterjemah naskah kuno bahasa Arab di bidang Sufism kedalam bahasa Inggris dan Hebrew. Dr. Sara Sviri mendapatkan gelar Doktor pada Tel Aviv University Israel.
- M. Este’lami Meraih gelar Ph.D. dalam bidang bahasa Persia dari Universitas Teheran pada tahun 1966. Selanjutnya, beliau menjabat sebagai profesor universitas di Iran dan Amerika Serikat. Sebagai penulis dan editor delapan belas volume buku di bidang ini, Dr. Este’lami telah menjabat sebagai Profesor Bahasa Persia di Institut Studi Islam McGill sejak tahun 1986.
- Deirdre Conway Mendapatkan gelar B.F.A dari Massachusetts College of Art dan Post Graduate pada Boston University di bidang Musik.
- Dr. Zailan Moris Ahli Filsafat Islam dari University of Sains Malaysia. Bidang keahlian yang ditekuni adalah Perbandingan Agama-agama dan Sufism disamping Filsafat Islam. Pemikiran keilmuan beliau dipengarui oleh Seyyed Hossein Nasr, Ahli Filsafat Islam dari Iran. Dr. Zailan Moris adalah alumni Carleton University dan University of America dimana beliau mendapatkan gelar Master dan Gelar Doktornya. S1 diselesaikan pada University of Sains Malaysia.
- S Kelly-Taylor Saat ini bekerja pada proyek-proyek sosial di London yang melibatkan penduduk lokal London di bidang Kampanye Persamaan Hak para Penyandang cacat. Alumni Leeds University Program Pasca Sarjana Bidang Pengajaran Agama-agama Dunia dan Spirituality.
- R. Ay San Gayatri Putri Yuwana Editor Jurnal Etika Spiritual dan Penanggung Jawab Sufi Nimatullahi Indonesia. Memaparkan makalah “Etika Spiritual” pada Istanbul Science and Culture Foundation tahun 2015 saat belajar di Leeds Metropolitan University, England program doktor di bidang Etika dan Philosophy dibawah bimbingan Prof. Dr. Robinson. Sebelumnya menyelesaikan MBA dari University of Huddersfield, England, UK dan M. Phil pada University of Newcastle, England. Mengikuti Program Doktor pada Fakultas Ekonomi dan Filsafat universitas Gajah Mada Tahun 2008-2010 dibawah Bimbingan Alm. Prof Dr. Mubyarto dan Prof. Damar Jati Supadjar dengan judul riset “Jalan Lurus Sufi Nimatullahi Sebagai Landasan Etika Spiritual Ekonomi Pancasila”.
Salam Dan Pengantar Kata Dari Redaksi
JURNAL ETIKA SPIRITUAL
Jurnal Tentang Pembelajaran Etika Spiritual
Pertama-tama kami menghaturkan puji syukur kepada Allah SWT atas anugrah yang telah dilimpahkan kepada kita semua. Terutama bagi kami pemimpin dan pengurus Jurnal Etika Spiritual bahwa kami diberi kesehatan lahir dan batin sehingga bisa menyelesaikan penyusunan dan penerbitan Jurnal Etika Spiritual edisi khusus 20 Maret 2026, yang bertepatan dengan 1 Syawal 1447H.
Kami keluarga besar pengurus jurnal Etika Spiritual menghaturkan “Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 H”, yang bersamaan dengan tgl 20 Maret 2026. Mohon maaf lahir batin dan semoga Tuhan selalu bersama kita. Amin.
Yang kedua kami juga menghaturkan Selamat Tahun Baru Imlek 17 February 2026 bagi saudara sekalian yang merayakan. Semoga kita selalu dianugrahi kesejahteraan dan rejeki yang berlimpah hingga ke anak cucu kita. Amin.
Dan yang ketiga dengan rendah hati kami memperkenalkan Jurnal Etika Spiritual Edisi Khusus atau edisi Musim Semi, Maret 2026. Edisi pertama tahun 2026.
“Jurnal Etika Spiritual” merupakan jurnal Sufi Nimatullahi Indonesia yang berbasis non-profit. Di bawah naungan Yayasan Widyo Suwarno dan merupakan bagian dari Pendidikan Masyarakat pada Yayasan Widyo Suwarno. Jurnal Etika Spiritual diterbitkan sebagai wujud partisipasi aktif anak bangsa dalam ikut serta menciptakan keharmonisan dalam masyarakat berbangsa dan bernegara serta keharmonisan dunia pada umumnya.
Jurnal Etika Spiritual bertujuan membuka diskusi aktif di bidang etika, khususnya etika spiritual sebagai sarana pembelajaran etika spiritual bagi seluruh bangsa Indonesia tanpa membedakan suku, ras, agama, bahasa, kepercayaan, budaya, warna kulit, pendidikan, status sosial, dan perbedaan lainnya baik yang terlihat secara lahiriah maupun perbedaan yang tidak kasat mata.
Dasar penerbitan jurnal di bidang etika spiritual adalah sebagai sarana pendidikan tentang etika spiritual yang bisa dipelajari secara terbuka dan bisa dipelajari oleh siapa saja, baik secara perorangan maupun kelompok, oleh badan swasta maupun pemerintahan. Jurnal Etika Spiritual mengutamakan pembelajaran etika spiritual dalam setiap penerbitannya. Karena bersifat terbuka untuk umum, maka dengan senang hati Jurnal Etika Spiritual menerima tulisan ilmiah yang mempromosikan pembelajaran etika, moral maupun tanggung jawab sosial secara luas dan mencakup segala disiplin ilmu. Terutama yang menyangkut dan berhubungan dengan etika spiritual.
Pokok pembicaraan tulisan bisa dari segala pengetahuan yang bermanfaat yang berhubungan dengan kesejahteraan bersama baik lahir maupun batin. Jurnal Etika Spiritual adalah jurnal triwulan yang terbit setiap tiga (3) bulan sekali. Setiap penerbitan dapat diunduh secara gratis untuk dibaca secara online maupun diprint sendiri. Kami juga melayani permintaan cetak apabila diperlukan. Untuk mengirim tulisan, kami persilakan membuka halaman Syarat Pengiriman Naskah.
Terima Kasih telah mengunjungi Jurnal Etika Spiritual, semoga bermanfaat dan kami tunggu kunjungan yang akan datang.
Pemimpin Redaksi
R. Ay San Gayatri Putri Yuwana
# Inti Pembelajaran Etika Spiritual
Kedekatan Dengan Tuhan Sebagai Sarana Kemanunggalan
Oleh R. Ay San Gayatri Putri Yuwana
(Jurnal Etika Spiritual – Wahana Etika Spiritual Terbitan ke-4, Musim Semi 2026 – Edisi Bahasa Indonesia)
“Aku mencintai-Mu bukan dengan pikiran dan napasku. Tetapi dengan hati nurani dan jiwaku. Jika aku lupa, jiwaku akan selalu mengingat-Mu. Dan ketika napasku berhenti, jiwaku akan terus hidup dan mencintai-Mu selamanya.” (Oleh Rumi) .
Tuhan bukanlah sesuatu yang abstrak dan tak terjangkau, jadi bukan hal yang mustahil untuk memiliki hubungan pribadi yang dekat dengan Tuhan. Hubungan antar manusia di dunia, terutama hubungan asmara antara sepasang kekasih dan orang yang mereka cintai serta yang mencintai mereka, dapat digunakan sebagai peta pendekatan, atau kerangka dasar untuk memahami bagaimana hubungan antara seorang hamba Tuhan yang “mencintai dan menjadikan Tuhan” sebagai kekasihnya. Karena mereka para pecinta Tuhan jatuh cinta kepada Tuhan dan bukan yang lainnya. Sehingga Tuhan disini adalah sebagai Sang Pencipta dan Sang Yang Terkasih.
Namun, lompatan dari hubungan asmara antar manusia menuju hubungan Asmara sakral yang suci antara manusia dengan Tuhan adalah sesuatu yang sangat pribadi dan sangat rahasia. Karena itu adalah merupakan suatu perjalanan spiritual yang bersifat sangat pribadi dan penuh keajaiban dalam alam ruh dan batin si pelaku perjalanan spiritual (Sufi). Dan perjalanan spiritual ini (Tasawuf), untuk mencapai tujuannya, hanya dapat dilakukan apabila dijadikan sebagai pilihan perjalanan hidup sehari-hari yang secara sengaja memilih untuk mempersembahkan hidupnya hanya kepada dan hanya untuk Tuhan semata.
Hanya dengan melalui pengalaman hidup sehari-hari dengan penuh kesadaran akan keberadaan Tuhan yang dekat bahkan akrab dengan Tuhan, maka keintiman dengan Tuhan dapat diwujudkan dan dirasakan. Sufisme menekankan bahwa keintiman atau kedekatan dengan Tuhan adalah melampaui wacana manusia. Jadi tidak ada jaminan bahwa perjalanan cinta yang suci dan sakral dan bersifat spiritual, yang dilaksanakan oleh para pencinta Tuhan sebagai jalan hidup mereka, belum tentu akan mencapai tujuannya. Yaitu kesatuan diri sejati antara hamba sebagai pencinta dan Tuhan sebagai Yang Dicintai. Atau dalam istilah spiritual disebut sebagai “manunggaling kawula Gusti”.
Tidak ada seorangpun yang bisa mengetahui kedekatan antara seorang hamba yang sedang dalam perjalanan cinta spiritual yang menjadikan Tuhan sebagai tujuan perjalanan cinta mereka. Tetapi hanya orang yang melakukan perjalanan itu sendiri yang mengetahui keadaan spiritualnya. Mungkin juga guru dan pembimbing spiritual yang dipilihnya.
Ketulusan hati nurani dalam mencintai Tuhan adalah satu-satunya cara untuk mencapai keintiman dengan Tuhan dalam perjalanan spiritual cinta sakral yang suci. Karena Tuhan hanya akan bersatu dan menjalin keintiman dengan mereka yang mengasihi-Nya dengan tulus dan dengan kesetiaan mutlak. Hanya ketika hati nurani para kekasih berada dalam keadaan sempurna dan murni, yaitu dengan menjauhkan diri dari segala nafsu dan keinginan duniawi, barulah persatuan dapat tercapai dan dimungkinkan.
Semakin dekat (secara mental dan spiritual) sepasang kekasih dengan kekasihnya, semakin sulit untuk berpisah. Demikian pula, dalam perjalanan spiritual cinta sakral yang suci (Tasawuf), semakin dekat seorang kekasih dengan Tuhan, semakin sulit untuk berpisah. Dengan demikian, dalam hubungan antara kerinduan akan keintiman antara manusia dan Tuhan bisa diterangkan sebagai berikut: Semakin dekat kita dengan Tuhan, semakin besar pula kerinduan kita kepada Tuhan.
Dalam kehidupan sehari-hari, para kekasih dan orang-orang yang dicintai Tuhan dapat merasakan kesedihan atau ketegangan di hati mereka ketika terpisah dari Tuhan. Hal ini karena kerinduan untuk bersatu kembali. Terkadang para kekasih dan pecinta Tuhan merasakan kesedihan dan merasakan nelongso atau menderita batinnya ketika mereka disibukan dengan urusan duniawi. Karena hati nurani, pikiran, dan jiwa para kekasih dan pecinta merasa menjauh dari Tuhan.
Sebagaimana Rumi mengatakan: “Seorang kekasih selalu sendirian. Meskipun dikelilingi banyak orang, hatinya tertuju dan hanya merindukan Sang Yang Terkasih (Tuhan).”. Seperti minyak dan air, mereka para kekasih, hati mereka selalu terpisah dari keramaian. Keakraban dan kedekatan kita dengan Tuhan menjadikan kita orang-orang yang memahami kehendak Tuhan. Kita dapat menerima kebaikan dan keburukan di dunia sebagai sesuatu yang sama-sama mengingatkan kita akan keberadaan dan kehendak Tuhan. Misalnya, kita dapat memahami dan menerima segala sesuatu yang terjadi di dunia dengan tulus. Baik dalam peristiwa sedih maupun bahagia. Kita dapat menerima semuanya dengan penuh keiklasan.
Kedekatan dan keintiman kita dengan Tuhan menjadi obor pengetahuan tentang Tuhan itu sendiri sebagai Yang Mahakuasa. Bukan hanya sebagai Pencipta tunggal alam semesta dan semua isinya beserta tujuh langit dan tujuh Surga di atas dunia, tetapi Tuhan juga sebagai Penguasa tunggal atas seluruh ciptaan-Nya. Oleh karena itu, terlepas dari semua peristiwa di dunia, baik atau buruk, dan semua keindahan dari segala sesuatu yang ada di dunia, serta semua kesempurnaan dan ketidaksempurnaannya, semua adalah bukti keberadaan Tuhan dan kasih sayang Tuhan kepada semua ciptaan-Nya di mata para pencinta Tuhan.
Bagi para pencinta Tuhan, melihat kebaikan atau keburukan di dunia tidak akan menghilangkan cinta mereka kepada Tuhan. Namun sebaliknya, menyaksikan dan mengalami sendiri keduanya, baik dan buruk, justru semakin menambah cinta mereka kepada Tuhan. Begitu pula dengan mengalami sendiri peristiwa yang menyedihkan maupun yang membahagiakan. Peristiwa baik atau buruk tersebut justru meningkatkan rasa syukur mereka kepada Tuhan. Rasa syukur bahwa mereka diingat khusus oleh Tuhan dengan segala kejadian dalam hidupnya, baik sedih maupun suka. Dan semua kejadian yang dialami di dunia bagi para pecinta adalah sebagai tanda bahwa secara khusus mereka dipilih untuk menghadapi situasi tertentu agar lebih dekat dengan Tuhan. Sebagaimana Rumi menyatakan: “Aku bersyukur kepada Tuhan atas semua berkat-Nya dan semua murka-Nya”.
Kemampuan mental untuk menerima situasi dan keadaan di dunia dengan tulus dan iklas inilah yang memungkinkan para pencinta Tuhan untuk bisa menjalani hidup secara damai dan tenteram. Karena, apa pun yang terjadi di dunia, bagi para pencinta Tuhan, hanya cinta kepada Tuhanlah yang ada. Keadaan para pecinta dan kekasih Tuhan ini mirip dengan “ketika seseorang sedang jatuh cinta”. Segala sesuatu tentang orang yang mereka cintai terasa indah dan menakjubkan. Sehingga tidak ada apapun yang dapat menggoyahkan cintanya. Semakin digoyah semakin kuat rasa cintanya.
Selanjutnya adalah bahwa semakin dekat dan semakin intim kita dengan orang yang kita cintai, semakin kita akan menyatu dengan kehendak mereka. Inilah tujuan yang ingin dicapai oleh para pencinta Tuhan yang memulai dan melakukan perjalanan spiritual. Dalam keadaan ini, tidak ada lagi pemisahan antara Kekasih dan Sang Yang Terkekasih. Ketika persatuan antara para kekasih dan Sang Yang Terkekasih terjadi, tidak ada lagi “engkau dan kita” namun hanya satu “Aku” Sang Yang Terkasih sendiri yang hadir. Dalam Sufisme, keadaan bersatunya antara kekasih dan yang dicintai diungkapkan sebagai berikut: “Tidak ada lagi sesuatu pun di antara engkau dan aku, atau di antara kita, melainkan hanya satu ‘aku’.”.
Perpaduan perasaan dan jiwa yang bersatu dengan Sang Kekasih adalah tujuan keintiman dengan Tuhan dalam perjalanan spiritual cinta sakral yang suci. Namun keintiman tidak dapat dicapai tanpa hilangnya “Identitas diri” yang melekat pada kita sebagai makhluk yang dipenuhi keinginan duniawi dan ego. Satu-satunya cara untuk membangun keintiman dengan Tuhan adalah dengan menghilangkan keinginan duniawi dan melepaskan semua ego yang melekat dalam keberadaan kita. Dan disertai dengan melakukan pembersihan dan penyucian jiwa dan tubuh secara terus-menerus dan lumintu tanpa henti guna untuk mencapai kemurnian jiwa yang dipadukan dengan “kesadaran spiritual yang dipenuhi cinta dan kerinduan semata” kepada Sang Kekasih Yang Mahakuasa. Keadaan jiwa yang sempurna dan murni inilah yang ingin dicapai oleh para Sufi dalam melakukan perjalanan spiritual. Karena hanya dengan jiwa yang murni dan suci, persatuan antara pencinta dan Yang Dicintai menjadi mungkin. Persatuan suci antara hamba-hamba Tuhan sebagai ciptaan dengan Tuhan sendiri sebagai Pencipta mungkin bisa terjadi apabila persyaratan pensucian lahir batin dipenuhi.
R. Ay San Gayatri London, 16 Desember 2025
Referensi:
- Love and Intimicy in Sufism, Dr. Alireza Nurbakhsh, Sufi Nimatullahi, London, UK 2025.
- Masnavi, Jallaludin Rumi Mehlevi, Terjemahan oleh Javed Mojaddedy, Oxford-UK.
- Jurnal Wacana Etika Spiritual Etika Spiritual edisi ke-4, Musim Semi 2026 – Edisi Indonesia.
– Rahasia Cinta Sakral
Oleh Dr. Javad Nurbakhsh
Mereka yang tertusuk panah asmara cinta sakral, Mereka adalah orang orang yang bergerak berbeda dengan yang lainnyaMelihatpun berbeda dengan yang lainnya
Logika dan kecerdasan tidak bisa menerangkan tentang orang- orang ini, Orang-orang orang yang berbicara dengan bahasa dan lidah yang berbeda dengan yang lainnya
Mereka adalah orang orang yang berbeda
Diterjemahkan oleh Anna San Taylor kedalam bahasa Indonesia dari naskah asli bahasa Inggris dan bahasa Parsi (Iran).
Majlis Khaniqah Nimatullahi, London 12 Oktober 2025.
– Intimacy with the “Alone”
Sweet Beloved, Lord
One Glorious God.
Most benevolent, most magnificent
Most compassionate most loving kindness
San, your very own devoted servant
In absolute surrender to your will
Today, tomorrow and ever
For being intimate with you is surpass all joy of the world
Oh The Glorious One,
One God and The Alone One.
You sent Bulbul to Sheba when her enquiry mind couldn’t pathom the Creator of the universe
The Creator that should be Superior above all
The Creator that should be Constant and everlasting
The Creator that should be incomparable to any of His creation
The Creator that should be perfect in any form of beauty ever could imagine
The Creator that magnificent in loving and giving
The Creator that Glorious in any form
The Creator that His benevolent beyond measure
The Creator that both Divine and Transcend
Dear Lord The Most Magnificent of All
The Creator of seven realms, seven heavens and all its content
The King of heaven kingdoms, The King of all Kings
In time of love sickness of union with you this very moment
When only your glorious beauty and unmeasured benevolent moved your servant heart
You sent flock of ChiffChaff to sing the song of contentment and gratitude cheerfully
Chiffchaff, chiffchaff, chiffchaff
Sending your message for all to be happy and settle
And a loving reminder for all to be patience for your trial
To be stay still and keep silent, in the moment of union
This is it – the time of intimacy between the lover and her Beloved alone
Not in Jawa nor in China but here in Suburb of London neighbourhood
To be intimate with God, no need in the mountain nor in far away land
Not need in the jungle or in deep forest
No need in isolated island nor in secluded valley nor dessert
Every place and any place is sacred place
When love union exist
Love is forever present
The lover never alone
The Beloved’ present is constant and forever
In the serenity of the surrounding and the companion of chestnut tree
Where flock of ChiffChaff birds percing
Intimacy with God alone forever present
The perfection of love union is in the lover very own being
May God own presents of beauty to be seen by all
Through the singing chiffchaff percing on chestnut tree
Ya Haqq
S. Kelly- Taylor
London, 21 January 2026
– PUASA
Ada tiga tingkatan dalam puasa.
Tingkatan pertama adalah Puasa tingkat awam. Tidak makan minum mulai saat matahari terbit hingga matahari terbenam. Menyatakan puasanya kemana mana dan kepada siapa saja. Memikirkan santapan berbuka pada saat saur. Membayangkan santapan saur saat berbuka. Meminta semua orang menghormati puasanya. Merampas hak hak orang yang tidak berpuasa. Menganggap dirinya yang paling taat ibadahnya.
Lupa bahwa puasa adalah latihan melembutkan nurani. Melalui rasa lapar dan menahan diri Dari segala hawa nafsu duniawi. Agar hati tergugah akan penderitaan dan kepapaan pada Titah lain yang mengalami. Puasa adalah ujian Tuhan Atas kemampuan menahan diri dari segala godaan. Godaan yang terlihat dengan mata Dan godaan yang ada dan datang dari dalam alam pikiran kita sendiri. Yang dinamakan sebagai nafsu duniawi.
Puasa adalah cara Tuhan melatih manusia untuk bisa bertenggang rasa Dengan cara menghormati hak hak mereka yang tidak berpuasa. Sebagai pernyataan Keagungan Tuhan atas keaneka ragaman ciptaanNya Bahwa Semua ciptaan ada hanya karena berkat Kasih Sayang Tuhan semata. Semua sejajar derajatnya di dunia.
Taukah engkau, semakin besar cobaan yang kau hadapi saat engkau berpuasa Semakin berlipat pula anugrah Yang Maha Kuasa. Saat engkau menghormati hak hak orang yang tidak berpuasa. Engkau mendapatkan kunci surga. Apabila engkau mengabaikan hak hak orang yang tidak berpuasa Rahmat Allah tertutup bagimu. Dan puasamu menjadi sia sia belaka.
Puasa yang kedua adalah Puasa tingkatan Iman. Menghindari makanan dan minuman dari Subuh hingga Magrib. Menahan diri dari segala tindakan yang membatalkan puasa. Melakukan sembahyang sunnah dan dzikir hingga tertidur Dan lupa tentang puasanya. Kenikmatan tidur yang melupakan puasa Menutup kesempatan pembelajaran tentang puasa sesuai kehendak Allah. Tentang menajamkan welas asih terhadap sesama yang hidup dalam kekurangan. Tentang melebarkan pintu maaf. Tentang meninggikan rasa tepo sliro bagi mereka yang berbeda dengan kita. Tentang meningkatkan pertahanan diri Dari segala gejolak nafsu duniawi. Apabila masih tertidur saat puasa usai Jiwa seperti batu akik yang belum diasah. Tidak ada perubahan rohani yang dicapai Kehidupan sehari-hari sama sebagaimana sebelum puasa. Namun Tuhan Maha Besar dan Maha pengasih serta penyayang. Karena orang-orang ini meminum anugrah Illahi sebatas kemampuan mereka sendiri. Lebih baik daripada yang tidak mampu mengekang hawa nafsu sendiri.
Puasa ketiga adalah puasa Iksan. Puasa yang penuh anugrah dan rahmat Karena semata menjalankan amanat. Ibadah yang hanya Tuhan menjadi Hakim dan juri dari puasa itu sendiri. Malaikatpun dilampui. Kesakralan puasa adalah yang terjadi hanya setahun sekali. Suatu keberuntungan dan anugrah Bagi siapapun yang mempersembahkan puasanya dengan keiklasan total. Satu satunya upeti yang pantas bagi Illahi.
Puasa adalah ibadah paling sakral. Para yang iksan menyembunyikan puasanya. Sebagai penghormatan rahasia kedekatnnya dengan Illahi. Hanya Tuhanlah yang berhak menjadi saksi. Dari luar, tidak ada perubahan semua berjalan seperti biasa dalam kehidupan sehari-harinya. Tidak ada kegiatan yang menandakan puasanya. Namun dalam batinnya, berdzikir tiada henti. Seiring dengan detak nadi. Tidak saja menghormati hak hak mereka yang tidak berpuasa. Merekapun tidak keberatan duduk bersama. Menjamu dan melayani sebagaimana biasanya.
Menyadari bahwa semua adalah titah Illahi. Menyadari bahwa puasa adalah jalan pribadi yang suci mencapai Illahi. Orang lain tidak perlu mengetahui. Hati tersentuh setiap saat Melihat kesedihan disetiap tempat Memberikan apa yang dimiliki Harta benda dan hati. Bukan karena kemurahan hati. Namun ketidak berdayaan melihat kesedihan dan kepapaan sesama manusia dan semua mahkluk lainnya. Kelaparan saat berpuasa menjadi pengasah ketajaman mata hati dan nuraninya.
Semakin puasa kita tersembunyi. Semakin tinggi kemungkinan kedekatan kita dengan Illahi. Karena tidak ada yang mampu menilai puasa setiap pribadi. Hanya Illlahi. Hanya Illahi sebagai Hakim dan sekaligus juri. Karena puasa adalah satu satunya ibadah. Yang memungkinkan kita mencapai altar surga. Setiap saat dalam bulan puasa.
Puasa yang suci dan penuh keiklasan sesuai amanat Illahi. Menjadi kendaraan pribadi menghadap langsung Illahi. Dimana pintu gerbang surga. Dibuka sebanyak manusia yang diterima puasanya. Puasa para Sufi adalah Melakukan Puasa para Ikshan terus menerus sebatas kemampuan. Tidak hanya pada bulan Puasa atau menunggu bulan Puasa tiba. Karena setiap hari, setiap waktu adalah sakral saat mengingat Tuhan. Setiap saat sama sakralnya saat menghadap Yang Maha Kuasa.
Ya Haqq
S. Kelly-Taylor
London, 28 Januari 2026
Pembelajaran Etika Spiritual – Sufi Nimatullahi Indonesia
– Ziarah Bayazid Ke Mekkah
Karya RUMI
Suatu hari Bayazid berangkat untuk berziarah ke Mekkah, untuk menjadi taat sebagaimana orang-orang lainnya. Di setiap kota yang dilewatinya, ia akan berhenti dan mencari orang bijak yang terkenal di kota itu. Dalam pengembaraannya, Bayazid bertanya pada siapa saja, “Siapa di sini yang memiliki cahaya? Siapa yang hanya bersandar pada kekuatan kebenaran?”. Semua dilakukan karena Tuhan berkata, “Ketika dalam perjalananmu, carilah selalu orang-orang yang mengambil sedikit dariku. Kenalilah mereka melalui setiap kata yang mereka ucapkan!”
Carilah harta yang memberimu manfaat di dunia fana, Itulah dunia yang utama. Jauhi semua keuntungan dan kerugian duniawi. Dunia ini tidak lebih dari pelajaran. Siapapun yang menabur benih gandum di ladangnya juga akan menumbuhkan beberapa gulma, Tetapi jika gulma yang kau tabur, gandum tidak akan tumbuh
Carilah penguasa hati, yang lemah lembut dan bijaksana! Pergilah ke Ka’bah ketika saatnya pergi dan kau juga akan melihat Mekkah. Seperti yang harus diketahui semua orang: “Mengetahui Tuhan”, karena inilah yang utama.
Saat Nabi naik ke kerajaan-Nya, Dia melihat singgasana dan para malaikat. Sama dengan Bayazid yang merasakan bagaikan di surga.
KISAH SEBUAH JENDELA
Seorang murid sedang membangun sebuah rumah. Suatu hari, dalam perjalanan Sang guru lewat dan melihatnya, ia bertanya kepada murid itu sebagai ujian, meskipun yakin bahwa niatnya adalah yang terbaik: “Mengapa kau memasang jendela di sini?” tanya sang guru.
“Agar cahaya masuk dan memperjelas segalanya,” jawab muridnya.
“Itu tidak utama. Yang utama adalah menghirup udara. Kebutuhan utamamu adalah mendengar azan dan melaksanakan panggilan-Nya,” kata gurunya.
Selama perjalanan, Bayazid mencari jauh dan luas, untuk menemukan Khidr (Nabi Khidir/Khadir) pada zamannya, seorang pemandu yang sempurna. Namun yang dia temukan bagaikan bulan sabit: tipis dan pucat, dan bukan cahaya yang meneranginya.
Sungguh megah, kerajaan Tuhan, ia berbicara seperti mereka yang kita puja (Nabi Muhammad Saw). Hatinya seperti sinar matahari, meskipun matanya terpejam rapat. Seperti gajah yang melihat India dalam pikiran mereka: Kenikmatan yang tiada tara terlihat dengan mata tertutup rapat, tetapi ketika mata terbuka, tak satu pun melihat cahaya!
Saat engkau merenungkan Tuhan dengan cinta dalam hatimu, semua misteri kegaiban yang indah akan terungkap dalam tidurmu. Hatimu adalah jendela yang mampu melihat rahasia gaib.
PEMBELAJARAN ETIKA SPIRITUAL DARI KISAH BAYAZID ZIARAH KE МЕККАН
Ada tiga pembelajaran Tentang Ketuhanan pada kisah Bayazid ziarah ke Mekkah atau Naik Haji
Pertama bahwa Mengetahui Tuhan adalah merupakan pengetahuan yang utama dan harus bagi setiap manusia. Pengetahuan tentang Tuhan adalah berhubungan dengan keberadaan Tuhan yang terlihat pada wujud setiap ciptaan. Inilah konsep Al -wadat – al-Wujud oleh Ibnu-al-Arabi. Apabila manusia mampu memiliki kemampuan ini maka orang orang inilah yang disebut orang yang “melihat”. Melihat todak hanya dengan mata sebagai media panca indra penglihatan, namun kemampuan melihat Tuhan pada setiap ciptaan juga merupakan tanda mata batin yang dipenuhi nur cahaya Tuhan. Karena Cahaya Cinta Kasih Tuhan telah menerangi hati si individu ini. Penerangan disini juga merupakan kemampuan memahami Ilmu tentang Tuhan sebagai Sang Yang Maha Gaib.
Dengan kata lain bahwa individu yang diberi cahaya cinta sakral mempunyai sasmita atau kepekaan dalam membaca ilmu gaib. Ilmu tentang Tuhan sebagai Sang Yang Maha Gaib. Orang-orang inilah yang dimsksud Tuhan untuk kita belajar untuk mendapatkan ilmu tentang Tuhan sebagai Sang Yang Maha Gaib. Karena sifatnya yang gaib maka Ilmu Tuhan adalah ilmu Rahasia. Inilah ungkapan yang sering kita dengar dan baca. Padahal pada kenyataannya, manusia jiga merupakan mahkluk gaib. Yaitu merujuk pada sifat ruh atau keruhaniannya. Karena setiap ruh manusia dihembuskan oleh Tuhan sendiri. Ini membuat setiap ruh manusia juga mempunyai sifat gaib. Sehingga sangatlah mungkin setiap orang bisa belajar dan mendapat pengetahuan tentang Tuhan sebagai Sang Yang Maha Gaib.
Dengan kata lain bahwa individu yang diberi cahaya cinta sakral mempunyai sasmita atau kepekaan dalam membaca ilmu gaib. Ilmu tentang Tuhan sebagai Sang Yang Maha Gaib. Orang-orang inilah yang dimsksud Tuhan untuk kita belajar untuk mendapatkan ilmu tentang Tuhan sebagai Sang Yang Maha Gaib. Karena sifatnya yang gaib maka Ilmu Tuhan adalah ilmu Rahasia. Inilah ungkapan yang sering kita dengar dan baca. Padahal pada kenyataannya, manusia jiga merupakan mahkluk gaib. Yaitu merujuk pada sifat ruh atau keruhaniannya. Karena setiap ruh manusia dihembuskan oleh Tuhan sendiri. Ini membuat setiap ruh manusia juga mempunyai sifat gaib. Sehingga sangatlah mungkin setiap orang bisa belajar dan mendapat pengetahuan tentang Tuhan sebagai Sang Yang Maha Gaib.
Karena kerinduan Sufi adalah kerinduan para pecinta yang selalu ingin dekat dengan Sang Yang Maha Gaib. Sehingga hanya dengan melakukan perjalanan spiritual yang akan mungkin mendapatkan pelajaran dan ilmu pengetauan tentang Tuhan yang akan mendekatkan para Sufi kepada Sang Yang Maha Gaib.
– Naik Haji
Ketika engkau berniat untuk melakukan ibadah haji,
buku catatan amal kebajikanmu bertambah satu.
Ketika engkau mulai bekerja dan menabung untuk biaya naik haji,
catatan amal baikmu bertambah satu.
Ketika engkau mulai mempersiapkan sarana dan prasarana,
belajar tata cara dan upacara ritual melakukan ibadah haji,
catatan amal kebaikanmu kembali bertambah satu.
Ketika engkau melupakan tentang keberangkatanmu
dan hanya memikirkan pertemuanmu dengan Allah,
serta mengingat hanya Allah dalam setiap detak nafasmu,
catatan buku amalmu penuh. Karena engkau telah “naik haji”.
Buku amal baru dipersiapkan untukmu.
Setiap kali engkau menyatukan nafasmu dalam mengingat Illahi
dalam hati dan pikiran serta perbuatanmu,
buku amal kebajikanmu penuh.
Buku baru dipersiapkan untukmu.
Ya Haqq
Anna Kelly – Taylor
London, 27 January 2026
# Pembelajaran Etika Spiritual
– Wahyu Kasunyatan Jati
Oleh R.Ay San Gayatri Putri Yuwana
Untuk mencapai pemahaman tentang Kasunyatan Jati atau Divine Reality. Yaitu kemutlakan akan keberadaan Tuhan, ada syarat tertentu yang harus dicapai. Baik secara rohani dan spiritual maupun secara jasmani atau tindakan duniawi.
Karena sifat wujud Kasunyatan Jati adalah baqa atau abadi, maka cara pendekatan satu satunya hanya dengan melalui pendekatan spiritual. Karena hanya pendekatan melalui jalan spiritual akan bisa mendekati keberadaan Kasunyatan jati yang abadi. Walaupun demikian dengan sifat wujud yang lainnya yaitu ada dimana mana disetiap waktu dan tempat, baik di alam baqa maupun alam fana maka juga diperlukan pendekatan yang bersifat duniawi untuk memahami keberadaan Sang Yang Kasunyatan Jati yang keberadaannya berada disetiap tempat dan waktu di seluruh jagad raya dan surga tingkat tujuh.
Karena keadaan wujud manusia yang terdiri dari dua wujud. Yaitu wujud ruhani yang bersifat baqa dan jasmani yang bersifat fana, maka bisa menjadi kemungkinan bahwa manusia bisa merasakan dan mengalami keberadaan Kasunyatan Jati yang hadir pada dirinya sebagai manusia pada saat hidup di alam fana. Hal ini dimungkinkan karena adanya persamaan sifat wujud spiritual nya.
Kedekatan Allah kepada hambanya sebagaimana disabdakan dalam kitab suci Al-Quran Surat Qaf, ayat 16 dimana Tuhan menyatakan bahwa, kedekatan keberadaan Tuhan dengan manusia adalah lebih dekat dari urat leher manusia itu sendiri. Kedekatan yang secara fisik disebutkan secara jelas oleh Tuhan sendiri, namun tidak semua manusia bisa merasakan kedekatan tersebut. Karena kedekatan yang dimaksud Tuhan adalah diluar jangkauan manusia pada umumnya. Dengan ayat tersebut diatas Tuhan dengan jelas menerangkan bahwa, kedekatannya adalah pada setiap manusia. Namun pada kenyataannya tidak semua manusia bisa merasakannya.
Di dalam Sufisme, hanya cinta yang mutlak, yang diejawantahkan melalui pengabdian kepada segala ciptaan dan pensucian diri secara terus menerus yang bisa menjadi sarana pendekatan kepada Tuhan Sang Yang Wujud Mutlak. Dan hanya dengan cinta sebagaimana diterangkan tersebut diatas memungkinkan manusia untuk bisa merasakan kedekatan akan kehadiran Tuhan pada dirinya. Dan hanya dengan cinta manusia bisa mampu dan mungkin menjalin dan mempunyai hubungan dekat dengan Tuhannya.
Hanya dengan jalan cinta yang diejawantahkan melalui pensucian diri lahir batin terus meneruslah yang akan memungkinkan manusia untuk mampu menerima hidayah wahyu Kasunyatan Jati. Yaitu suatu pengetahuan rahasia gaib atas keberadaan Sang Yang Mutlak wujud abadi itu sendiri dan kedekatan Nya dengan si penerima hidayah.
Kemampuan bisa merasakan kehadiran Sang Yang Wujud sejati hanya bisa terjadi apabila kita sebagai manusia memenuhi syarat syarat sebagai berikut:
- Mempunyai kedalaman cinta mutlak kepada Sang Yang Maha Wujud sejati yang diejawantahkan melalui: Pensucian diri terus menerus.
- Pensucian diri terus menerus juga berarti melakukan kebajikan dalam hidup dan menjalankan kebaikan selama hidupnya.
- Melakukan kebajikan dalam Sufi Nimatullahi adalah melakukan segala tindakan yang bermanfaat bagi semua ciptaan Tuhan tanpa mengenal ras, suku bangsa, asal usul, bahasa dan agama.
- Memandang semua ciptaan Tuhan terutama ras manusia mempunyai derajat yang sama dengan dirinya.
- Berbuat kebaikan pada Sufi Nimatullahi adalah tindakannya tidak merugikan siapapun juga termasuk semua ciptaan Tuhan.
- Dan tidak menyakiti jasmani dan hati orang lain. Karena di dalam Sufi Nimatullahi menyakiti hati orang lain adalah dosa terbesar. Termasuk juga tindakan yang merugikan orang lain, alam dan lingkungannya.
Semua tindakan kebajikan dan kebaikan yang merupakan jalan kehidupan sehari hari adalah sebagai sarana pensucian diri untuk bisa mencapai memahami dan merasakan keberadaan alam wujud gaib yang sakral dan abadi.
Syarat selanjutnya, dalam Sufi Nimatullahi, setiap janji harus ditepati walaupun harus kehilangan harta benda maupun nyawa sebagai konsekwensinya. Karena setiap janji yang ditepati adalah salah satu kunci pembuka rahasia keajaiban keindahan sejati.
Sebagai manusia yang ditakdirkan tidak sempurna, melakukan tindakan perjalanan spiritual melalui tindak kebajikan yang didasari cinta mutlak kepada Sang Yang Wujud Sejati, adalah merupakan sarana untuk mencapai kesempurnaan diri. Kesempurnaan diri menjadi tujuan utama para pelaku perjalanan spiritual dalam Sufi Nimatullahi, karena hanya dengan mencapai kesempurnaan diri, kemanunggalan wujud ruh bisa mungkin terjadi. Kesempurnaan yang ingin diraih oleh para Sufi Nimatullahi adalah kesempurnaan lahir batin. Yaitu suatu keadaan batin yang bebas dari nafsu dunia dan segala tindakannya. Dan tindakan lahir yang berupa pengabdian mutlak kepada Sang Yang Maha Pencipta yang didasari atas cinta tulus ikhlas kepada Sang Yang Maha Wujud Mutlak, yaitu Sang Yang Pencipta itu sendiri.
Dalam membantu para pelaku perjalanan spiritual, Guru dan pemandu spiritual Sufi Nimatullahi menyediakan tempat pertemuan dan pendidikan spiritual untuk mencapai kesempurnaan. Tempat tersebut yang bernama khaniqah atau padepokan. Para Sufi Nimatullahi melakukan pertemuan dua kali seminggu untuk bermeditasi bersama di khaniqah atau padepokan. Meditasi ini merupakan sarana untuk mengingat Tuhan tanpa batas. Kemampuan untuk mengingat Tuhan dalam setiap nafas akan menjadikan kita selalu dekat dengan Tuhan. Dengan kedekatan yang tidak lagi terpisahkan dan disertai kesempurnaan dalam perilaku sehari hari maka kemungkinan untuk mengalami dan merasakan kehadiran Kasunyatan jati bisa mungkin terjadi.
Setelah mengetahui syarat-syarat mencapai kesempurnaan diri, maka sangat penting untuk mengetahui apa saja yang menjadi penghambat dan penghalang mencapai kesempurnaan lahir batin? Nafsu-nafsu yang bersifat duniawi adalah penghambat terbesar untuk mencapai kesempurnaan. Nafsu-nafsu duniawi ini dikuasai oleh ego atau nafsu mementingkan diri sendiri.
Didalam Sufi Nimatullahi, ego, atau nafsu mementingkan diri sendiri digambarkan sebagai akar yang tumbuh disetiap urat nadi yang hanya bisa dilenyapkan melalui tindakan pengabdian absolut tanpa batas kepada kemanusiaan dan semua ciptaan. Pengabdian yang menyeluruh tanpa pamrih yang dilakukan berdasarkan cinta belaka bisa dilakukan kepada pekerjaan, atau hubungan antar manusia.
Untuk para pelaku perjalanan spiritual, pengabdian kepada guru spiritual adalah pilihan terbaik untuk menghilangkan ego. Namun harus hati-hati dalam memilih guru spiritual. Karena tidak setiap guru spiritual tulus dalam menuntun para muridnya. Untuk mengetahui apakah Guru spiritual itu benar-benar tulus dan penuh pengabdian kepada muridnya, serta mempunyai ilmu spiritual yang linuwih maka harus kita temukan tanda-tanda ketulusannya sebagai berikut:
- Seorang guru spiritual sejati mempunyai nafkah untuk memenuhi kehidupannya sendiri dan keluarga. Baik melalui perdagangan, pertanian maupun pekerjaan halal lainnya yang menjamin kehidupan keuangan keluarganya mencukupi dan tidak memerlukan bantuan dari yang lainnya. Disini jelas ditunjukkan kemampuan keuangan atau materi yang bebas dari bantuan orang lain.
- Tanda kedua Guru pemandu spiritual sejati tidak akan mengambil keuntungan material, maupun keuntungan lainnya. Bahkan sebaliknya menyediakan dan memberi secara ikhlas kebutuhan muridnya dibidang material apabila diperlukan guna membantu memudahkan perjalanan spiritualnya.
- Tanda Guru dan pelaku spiritual yang sejati ketiga adalah membatasi pengabdian muridnya kepada dirinya dan mengarahkan pengabdian muridnya kepada wujud pengabdian yang bermanfaat bagi orang banyak dan lingkungannya. Dengan demikian hubungan murid dan guru terbatas dan terjaga murni untuk kemajuan perjalanan spiritual muridnya dan bukan untuk melayani gurunya. Sebaliknya guru dan pemandu spiritual melayani muridnya dalam bentuk memberikan ilmu kesempurnaan dengan ikhlas dan tulus tanpa pamrih.
Apabila tiga tanda-tanda guru dan pemandu spiritual sejati itu tidak ditemukan pada orang yang mengaku sebagai Guru dan pemandu spiritual maka lebih baik melakukan perjalanan spiritual secara mandiri dan pribadi. Karena pada dasarnya, setiap orang mempunyai jalan spiritual sendiri-sendiri. Memilih guru spiritual yang salah bukan saja akan merugikan hidup kita sendiri. Karena guru spiritual palsu hanya akan menjadikan murid-muridnya sebagai budak dan pelayan untuk memenuhi segala nafsu duniawinya. Para murid dari guru spiritual palsu diarahkan untuk mengabdi pada keperluan pribadi guru spiritual palsu. Sehingga pengabdian yang seharusnya ditujukan kepada Tuhan, menjadi pengabdian kepada guru spiritual palsu itu sendiri. Ini tidak saja merupakan penyelewengan namun juga pengkhianatan kepada kepercayaan dari mereka yang menyerahkan hidupnya kepada guru spiritual yang dipilihnya.
Bahaya yang kedua dan yang paling merugikan adalah para murid yang mengabdi pada guru dan pemandu spiritual palsu akan menjadikan dirinya seperti gurunya. Yaitu menyalahgunakan kepercayaan orang-orang yang mengira mereka guru spiritual yang seharusnya. Hal ini akan berdampak negatif terhadap kelanjutan pendidikan dan pelaksanaan ibadah keagamaan. Dampak negatif yang paling merugikan adalah hilangnya kepercayaan terhadap praktek-praktek ibadah yang mengatasnamakan agama. Murid-murid yang berguru pada guru dan pemandu spiritual palsu akan menjadi seperti gurunya apabila tidak segera menyadari bahwa guru yang dipilih untuk mengajarkan dirinya agar menjadi manusia sempurna dalam mendekatkan dirinya kepada Tuhan telah menjadikan mereka penyimpang ajaran utama agama yang dipercayai atau dianutnya.
Gambaran betapa bahayanya guru spiritual dan pemandu spiritual palsu dalam perjalanan spiritual seseorang dan terhadap masyarakat disekitarnya, dan penjelasan bahwa melakukan perjalanan spiritual secara mandiri lebih baik daripada berguru pada guru spiritual palsu. Dibawah ini 4 pesan dari Dr. Javad Nurbakhsh tentang Ilmu Kasunyatan Jati dalam perjalanan spiritual:
- “Saat engkau menyadari, masuk kedalam sarang guru dan pemandu spiritual palsu, segeralah terbang dan bebaskan dirimu dari cengkeraman kepalsuannya”.
- “Karena sesungguhnya, engkau akan menjadi seperti mereka yang mengurungmu dan memperbudak serta meringkus kebebasanmu”.
- “Lebih baik melakukan perjalananmu sendiri dan menjadikan Tuhan satu-satunya sebagai guru dan pemandumu. Dan jadikan Tuhan sebagai satu-satunya teman dekatmu melalui dzikir dan ibadah tanpa pamrih yang diwujudkan dalam pengabdian kepada kemanusiaan. Sehingga engkau bebas dari dirimu sendiri dan tidak lagi memerlukan guru dan pemandu. Namun Tuhan sendiri yang akan membimbingmu”.
- Apabila engkau telah menyerahkan sepenuhnya hidupmu dan kepercayaanmu hanya kepada Tuhan Yang Maha Sempurna, engkau akan sampai pada kesempurnaan diri yang akan menghantarkanmu kepada Kasunyatan Jati. Tidak ada guru dan murid. Namun hamba dan Tuhannya. Saat engkau melupakan keberadaanmu melalui menghilangkan egomu sendiri, maka Tuhan akan selalu hadir bersamamu.
Anna Kelly Taylor
London, 11 Februari 2026
Referensi: Majlis Sufi Nimatullahi, London 26 Januari 2026
– Doktrin Tentang Keutamaan Dalam Sufi
oleh Zailan Moris
PENDAHULUAN :
Secara tradisional di Barat, kebajikan menempati posisi dan peran sentral dalam moralitas. Kata ‘keutamaan’ yang digunakan untuk menerjemahkan istilah etika Yunani yang penting, selalu dikaitkan dengan gagasan-gagasan berikut: pertama, dengan semua yang unggul dan terpuji; kedua, dengan pemenuhan fungsi atau manfaat suatu hal; dan ketiga, dengan pengejaran kebahagiaan dan kesejahteraan manusia (eudaimonia). Tidak ada tempat gagasan-gagasan ini yang lebih jelas dan dikembangkan secara sistematis daripada dalam Etika Nikomakhean karya Aristoteles. Di dalamnya, Aristoteles mencoba menunjukkan bagaimana manusia dapat mencapai kebahagiaan dengan menjalani kehidupan yang etis berdasarkan pengembangan berbagai kebajikan.
Bagi Aristoteles, pengejaran kebahagiaan dan kehidupan yang berbudi luhur adalah satu dan sama. Kehidupan yang bahagia adalah kehidupan di mana manusia memenuhi sifat spesifiknya, dan realisasi sifat manusia adalah kehidupan yang berbudi luhur (Lear 1988, hlm. 156). Dalam makalah ini, kita akan mengkaji doktrin Sufi tentang kebajikan. Seperti Aristoteles, para Sufi menghubungkan kebajikan dengan apa yang baik dan unggul, dan dengan pengejaran kebahagiaan dan kesejahteraan manusia melalui realisasi hakikat manusia yang unik. Namun, perspektif Sufi berbeda dari perspektif Aristoteles dalam beberapa hal penting.
Jika Aristoteles cenderung ke arah konsepsi kebajikan yang lebih naturalistik dan rasionalistik, pandangan Sufi lebih bersifat Platonis. Baik Plato maupun para Sufi mendasarkan kebajikan pada sumber transenden yang berada di luar dan melampaui hakikat manusia. Aristoteles mendefinisikan kebajikan sebagai jalan tengah antara dua ekstrem, sementara para Sufi di sisi lain, menganggap kebajikan berasal dari Nama dan Sifat Ilahi. Manusia, menurut Aristoteles, pada dasarnya adalah makhluk politik, dan ia dapat sepenuhnya mewujudkan hakikatnya dalam masyarakat politik yang mendorong kebahagiaan manusia. Sebaliknya, para Sufi, sesuai dengan pandangan umum Islam, menganggap manusia sebagai khalifah Tuhan di bumi. Dan keunggulan manusia, menurut para Sufi, terletak pada keberadaannya sebagai teofani sentral (tajalli) yang mencerminkan Nama-nama dan Kualitas ilahi dalam tatanan kosmik.
Tujuan Sufisme dan Konsep Sufi tentang Manusia
Ada banyak cara berbeda di mana tujuan Sufisme dapat dicirikan sebagaimana terlihat dari berbagai definisi yang ditawarkan oleh para Guru Sufi sepanjang masa. Namun, semua definisi Sufisme yang beragam berkaitan dengan satu kebenaran atau realitas yang sama, yaitu untuk mencapai Tuhan dan bersatu kembali dengan-Nya. Pada hakikatnya Sufisme, yang merupakan cara kontemplasi atau realisasi spiritual, terdiri dari tiga elemen dasar. Mereka adalah: sebuah doktrin, seni atau ilmu konsentrasi, yang juga disebut sebagai ‘alkimia spiritual’ (al-kimiyā as-sa’ada), dan kebajikan (Burckhardt 1988, hlm. 99). Sementara doktrin dan metode konsentrasi dianggap milik Tuhan karena diwahyukan secara ilahi, perolehan kebajikan dianggap sebagai hasil usaha dan pengerahan tenaga manusia.
Sufisme, yang merupakan dimensi batin atau esoterik Islam, memandang manusia (ensan) sebagai teofani sentral (tajalli) dari Nama-nama dan Kualitas ilahi dalam ciptaan. Manusia diciptakan menurut gambar Tuhan. Bagi para Sufi, ada korespondensi antara sifat manusia dan Sifat ilahi. Bagi Terner ilahi: Menjadi, Kesadaran dan Kebahagiaan atau Kualitas ilahi Qodrat (Kekuatan), Hekmat (Kebijaksanaan) dan Rahmat (Kebahagiaan), sesuai dengan tiga fakultas dasar manusia yaitu Kehendak, Kecerdasan dan Jiwa (Schuon 1981, hlm. 95). Dan masing-masing dari ketiga fakultas ini diciptakan untuk dan terkait dengan Yang Mutlak (Haqq). Menurut para Sufi, kecerdasan manusia (‘aql) mampu melakukan dua cara kerja dasar: diskriminasi dan kontemplasi (ibid., hlm. 101). Kecerdasan memiliki kemampuan untuk membedakan antara yang nyata dan yang ilusi, yang absolut dan yang relatif, baik dan yang jahat . la juga dapat merenungkan Tuhan baik dari sudut pandang transendensi-Nya (tanzih) dan imanensi (tashbih); yaitu, Tuhan sebagai sesuatu yang melampaui ciptaan dan di dalam ciptaan.
Kehendak (erāda) diberdayakan dengan kebebasan dan kekuatan . la bebas untuk memilih antara yang nyata dan yang ilusi, yang absolut dan yang relatif, yang baik dan yang jahat. Lebih jauh lagi, kehendak dapat bertindak atas dan mewujudkan pilihan bebasnya, seperti meninggalkan kejahatan dan mencapai kebaikan. Pada akhirnya, jiwa manusia dapat mencintai Tuhan dan ciptaan-Nya; Misalnya, manusia mampu mencintai manifestasi ilahi dari keindahan dan kebaikan serta Tuhan Sendiri, Yang adalah Kebaikan dan Keindahan (ibid.). Mengenai keutamaan-keutamaan tersebut, para Sufi menganggapnya mewakili asimilasi jiwa terhadap Kualitas-kualitas ilahi melalui partisipasi atau identifikasinya dengan Kualitas-kualitas tersebut. Sebagai ilustrasi: keutamaan kemurahan hati (karāmat) berpartisipasi dalam Kualitas Ilahi, yaitu Belas Kasih. Tiga kemampuan dasar manusia yang pada hakikatnya diberikan kepada setiap manusia tanpa pilih kasih. Karena ini adalah berkah dasar penciptaan.
SUFI TIDAK MEMIHAK PADA ALAM
Akal budi dapat bernalar secara tidak memihak dan memberikan penilaian yang objektif . la juga mampu bermeditasi dan berkontemplasi. Kehendak memiliki kekuatan untuk meniadakan dan melampaui keinginan serta kepentingan langsung atas diri sendiri dan atau setalh terinspirasi oleh Kebenaran. Dan Jiwa dapat menemukan kebahagiaannya dalam kebahagiaan orang lain serta di atas dan melampaui dirinya sendiri, yang ada di dalam Tuhan (ibid., hlm. 93). Bagi para Sufi, objektivitas dan integritas ketiga fakultas tidak hanya mendefinisikan manusia tetapi juga menyediakan dasar metafisik bagi tujuan sejati keberadaan manusia, yaitu untuk menyadari Tuhan dan mewujudkan-Nya.
Dengan demikian, tiga elemen Jalan (tariqat) dapat disamakan dengan tiga fakultas fundamental manusia sebagai berikut: doktrin sebagai pembedaan bagi Akal budi, alkimia spiritual sebagai konsentrasi bagi Kehendak, dan kebajikan sebagai kesesuaian Jiwa dengan Kualitas-kualitas ilahi (ibid., hlm. 103). Menurut para Sufi, ketiga fakultas saling menembus satu sama lain dan pada dasarnya membentuk satu kesatuan. Para Sufi menjelaskan bahwa manusia harus mendedikasikan dirinya pada apa yang ia ketahui dengan Kecerdasannya sebagai kebenaran yang pasti, dengan bersedia untuk merealisasikannya; dan ia tidak dapat merealisasikan sekumpulan pengetahuan, kecuali ia mempercayainya sebagai kebenaran dan mencintai realisasinya (ibid., hlm. 95). Ketiga fakultas yang berhubungan dengan Tuhan ini disatukan oleh objek dan fungsinya. Dalam perspektif Sufi, satu-satunya tujuan keberadaan manusia adalah untuk mengenal Tuhan, menghendaki-Nya dan mencintai-Nya. Yang membedakan satu orang dari yang lain adalah tingkat realisasi panggilan manusia yang tepat sebagaimana ditetapkan oleh Tuhan.
Hakikat Keutamaan
Dapat dikatakan bahwa ada tiga tingkatan derajat Islam. Satu, tingkat penyerahan diri (eslām), dua, tingkat keimanan (iman) dan tiga, tingkat kebajikan (ehsan). Dalam sebuah hadis terkenal yang diriwayatkan bahwa ketika malaikat Jibril, yang menjelma menjadi seorang pemuda, bertanya kepada Nabi Islam tentang tiga prinsip di atas, Nabi menjawab: Islam yang ulung adalah mengucapkan syahadat, melaksanakan salat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menunaikan zakat, dan menunaikan ibadah haji. Iman adalah percaya kepada Allah, para malaikat-Nya, Kitab Suci-Nya, para Rasul-Nya, Hari Pembalasan, dan takdir kebaikan dan kejahatan. Ihsan adalah menyembah Tuhan seolah-olah Anda melihat-Nya, dan jika Anda tidak melihat-Nya, Dia tetap melihat Anda (Danner 1987, hlm. 242).
Ketiga prinsip diatas dikenal baik dalam Islam eksoterik maupun esoterik. Namun, dalam Sufisme, prinsip ketiga, yaitu ihsan, yang memberikan para Sufi kunci penting bagi kehidupan kontemplatif, karena menjadi seorang muhsin, atau pribadi virtual, menyiratkan komitmen diri yang total. Dalam perspektif Sufi, kebajikan tidak dipandang hanya sebagai tindakan moral atau sebagai atribut eksternal; Melainkan dianggap pada dasarnya sebagai keadaan internal atau cara menjadi (Nasr 1972, hlm. 74). Artinya, kebajikan terkait dengan pengetahuan dan Menjadi. Bagi para Sufi, untuk Kebenaran yang diberikan, harus ada sikap kehendak dan afektif tertentu yang sesuai (Schuon 1987, bab 1). Sebuah prinsip yang diketahui oleh Kecerdasan juga harus tercermin dalam Kehendak dan dibentuk oleh Jiwa. Kebenaran metafisik dianggap tidak efektif dan steril jika tidak ditindaklanjuti oleh Kehendak maupun diambil alih oleh jiwa. Kebajikan justru merupakan kebenaran metafisik yang diketahui oleh Kecerdasan dan yang dibuat nyata dan konkret oleh aktivitas Kehendak dan diambil alih oleh keberadaan individu yang bersangkutan.
Secara khusus, kebajikan adalah mengenal Tuhan yang adalah Kebaikan yang sempurna dan Keindahan yang tak terbatas, menghendaki-Nya dan mencintai-Nya, yang akibatnya adalah menjadi seperti-Nya (Schuon 1981, hlm. 96). Kebajikan terkait dengan pengetahuan, di satu sisi, karena merupakan refleksi pengetahuan dalam Kehendak dan dengan Keberadaan di sisi lain, karena merupakan cara menanggapi Realitas ilahi. Di sisi lain, para Sufi menegaskan bahwa, agar refleksi eksistensial pengetahuan dan cara keberadaan dianggap sebagai kebajikan sejati, keduanya harus memiliki cap keabadian. Artinya, kebajikan adalah refleksi pengetahuan yang tetap teguh dalam Kehendak dan cara keberadaan yang abadi. Dengan demikian, kebajikan tidak bisa menjadi improvisasi pikiran; Sebaliknya, kebajikan adalah cara atau kondisi keberadaan yang diperoleh secara permanen yang mencerminkan berbagai tahap atau cara pengetahuan dalam perjalanan manusia menuju realisasi sifat dan tujuan sejatinya. Sejauh ini, mereka berfungsi sebagai pendukung pengetahuan yang diperlukan dan indikator yang dapat diandalkan untuk derajat atau pencapaian spiritual (Burck-Hardt 1988, hlm. 102-103).
Dalam Sufisme, derajat spiritual ditunjukkan dan dipastikan oleh keadaan (ahwal) dan stasiun (maqāmāt) yang dialami individu. Suatu keadaan atau hal biasanya didefinisikan sebagai kondisi spiritual sementara atau yang berlalu yang merupakan hasil dari kebaikan atau rahmat ilahi atas individu. Suatu stasiun atau magām, di sisi lain, didefinisikan sebagai kondisi spiritual yang permanen dan abadi yang lahir dari pengerahan dan ketekunan individu di jalan spiritual (Nasr 1972, hlm. 74). Ada hubungan yang pasti tetapi kompleks antara berbagai keadaan dan stasiun spiritual dan kebajikan. Ini menjelaskan mengapa dalam teks-teks Sufi, diskusi dan penghitungan keadaan dan stasiun dalam urutan hierarkis, selalu digabungkan dengan kebajikan. Secara sederhana, suatu keadaan atau maqam seperti kesabaran (sabr) juga merupakan suatu keutamaan karena ketika jiwa mencapai maqam tersebut, jiwa tersebut secara substansial diubah oleh keutamaan kesabaran dan pada kenyataannya menjadi maqam tersebut (ibid., hlm. 76).
Dalam perspektif Sufi, esensi atau pola dasar suatu keutamaan adalah Kualitas Ilahi. Keutamaan dianggap sebagai refleksi Kualitas Ilahi pada tingkat mikrokosmik atau tatanan manusia. Misalnya, keutamaan kewaspadaan berakar pada Kekuatan Ilahi. Keutamaan lahir dari kesadaran akan suatu aspek atau kualitas Realitas Ilahi yang secara bertahap menembus, menerangi, dan mengubah Kehendak dan jiwa individu hingga jiwa tersebut sepenuhnya teridentifikasi dengan keutamaan tertentu yang dimaksud. Ketika ini terjadi, individu tersebut dianggap telah memperoleh keutamaan spesifik tersebut secara permanen dan mencapai maqam yang sesuai dengannya. Jika dan ketika Individu SUFI maju di sepanjang jalan spiritual dan mencapai maqam yang lebih tinggi, namun ia tetap memiliki keutamaan maqam yang lebih rendah. Para Sufi sering menggambarkan perolehan suatu keutamaan dan maqam yang diidentifikasi sebagai kematian jiwa. Hsl ini sehubungan dengan sifatnya yang keji dan sekunder, khususnya padamnya sifat-sifat buruk yang bertentangan dengan keutamaan tertentu – dan kebangkitan jiwa di dalam Tuhan (ibid., hlm. 70). Pandangan ini diungkapkan secara ringkas oleh Syaikh Sufi ternama abad kesembilan dari Mazhab Baghdad, Jonayd, yang menyatakan, “Sufisme adalah bahwa Tuhan membuatmu mati bagi dirimu sendiri dan menjadi bangkit kembali di dalam-Nya” (ibid., hlm. 69).
Peran Keutamaan dalam Spiritualitas dan Etika Sufi
Keutamaan menjalankan beberapa fungsi penting dalam kehidupan para Sufi. Yang terutama di antaranya adalah: untuk mewujudkan kebenaran metafisik dalam Kehendak dan untuk memurnikan jiwa manusia dari sifat-sifat buruk yang menentang manifestasinya. Ini merupakan dua persyaratan yang diperlukan agar manusia dapat menyadari sifat dan tujuan hidupnya yang sebenarnya, dan yang akan menghasilkan kebahagiaan yang dicarinya. Dalam Sufisme, metafisika dianggap sebagai ilmu suci yang menggambarkan prinsip-prinsip Wujud dalam istilah intelektual. Kesesuaian dengan ilmu suci ini adalah kebajikan. Kebenaran metafisik yang dikenali oleh Kecerdasan harus tercermin dalam aktivitas Kehendak dan dibentuk oleh Jiwa (Schuon 1987, hlm. 183). Dengan kata lain, jika pengetahuan metafisik harus efektif secara spiritual dan moral, itu harus diterapkan pada fakultas kehendak dan afektif. Konsekuensi moral dan spiritual dari pengetahuan adalah kesesuaian wujud dengan pengetahuan itu. Pengetahuan harus mengubah yang mengetahui, dan kebetulan antara objek pengetahuan dan subjek yang mengetahui menimbulkan keadaan bahagia atau terberkati. Kemungkinan penyatuan pengetahuan dengan Wujud adalah potensi dalam setiap individu manusia; Manusia diciptakan menurut gambar Tuhan, dan identitas sempurna antara pengetahuan ilahi dan Wujud adalah kebahagiaan murni. Dalam bahasa Arab, hubungan timbal balik ini secara signifikan dilambangkan oleh istilah wojud untuk Wujud, wojdan untuk Kebijaksanaan ilahi, dan wajd untuk Kebahagiaan ilahi. Ketiga kata ini berasal dari akar kata yang sama, wjd.
Perlunya kebajikan dalam realisasi sifat dan tujuan sejati manusia, sebagian disebabkan oleh keterbatasan pikiran manusia itu sendiri (Burckhardt 1988, hlm. 101). Pikiran atau fakultas rasional membatasi dan mendefinisikan segala sesuatu yang diketahuinya menurut kategorinya sendiri. Pikiran tidak dapat mengetahui dengan pasti hal-hal yang berada di luar batasan dan definisi dan yang melampaui tatanan spasio-temporal. Agar pengetahuan manusia dapat mengatasi batas-batas pikiran, ia membutuhkan dukungan kebajikan. Menurut para Sufi, kebajikan adalah sarana untuk mewujudkan dan membuahkan kebenaran yang diketahui oleh Kecerdasan. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa tidak semua aspek dan implikasi dari kebenaran yang diketahui oleh fakultas teoritis secara otomatis memberikan pada jiwa individu efek dan implikasi dari kebenaran yang diketahui (Schuon 1987, hlm. 189). Misalnya, memiliki pengetahuan tentang Kebaikan tidak sama dengan menjadi baik. Dalam diri manusia, jelas ada jurang antara pikiran dan keberadaan; dan hubungan yang dapat menghubungkan keduanya adalah kebajikan. Kebajikan menghilangkan semua rintangan dan kelemahan nafsu dan kejahatan – yang menghalangi kemungkinan realisasi Kebenaran dalam diri individu. Kebajikan, yang merupakan kesesuaian total jiwa dengan Kebenaran, menyediakan dasar untuk realisasi ini. Jiwa yang menyesuaikan diri dengan kebaikan yang merupakan refleksi dari Kebaikan Berdaulat di alam manusia, tahu pasti apa kebaikan itu karena ia sendiri telah menjadi kebaikan (ibid., hlm. 187-9).
Doktrin bahwa tujuan eksistensi manusia adalah menjadi teofani sadar yang mencerminkan Nama dan Sifat Ilahi didasarkan pada pandangan metafisika tertentu mengenai manusia dan hubungannya dengan Tuhan. Dalam Sufisme, manusia dianggap sebagai mikrokosmos. “Adam,” sebagaimana ditegaskan oleh Sufi Ruzbehân Baqli, “adalah cermin dari kedua dunia. Dan apa pun yang telah ditempatkan di kedua kerajaan ini telah divisualisasikan dalam wujudnya” (Schimmel 1978, hlm. 188). Kedua kerajaan di sini merujuk pada perbedaan kosmologis Al-Qur’an antara ‘Dunia yang Terlihat’ (‘alam asy-syahadat) dan ‘dunia yang Tak Terlihat’ (‘alam al-Ghayb), yang kemudian diuraikan lebih lanjut oleh para Sufi, seperti pembagian lima tingkatan keberadaan atau lima Hadirat Ilahi dalam mazhab Ebno’l-‘Arabi yang terkemuka dan berpengaruh. Antara manusia dan Tuhan terdapat analogi dan resiprositas yang mendalam. Doktrin analogi dan resiprositas antara Tuhan dan manusia, yang merupakan landasan hakiki ajaran Sufi serta praktik spiritual dan etikanya, muncul dari beberapa hadis qodsi (‘tradisi suci’) dan ayat-ayat Al-Qur’an. Misalnya, hadis qodsi (‘tradisi suci’), “Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya,” pada hakikatnya merumuskan doktrin analogi antara manusia dan Tuhan. Dan dalam Al-Qur’an, dinyatakan bahwa “Dia [Tuhan] mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya” (5:59). Para Sufi menafsirkan ayat ini bahwa cinta manusia kepada Tuhan sebenarnya merupakan akibat dari cinta Tuhan kepada manusia. Artinya, cinta manusia kepada Tuhan tidak hanya didahului oleh cinta Tuhan kepada manusia, tetapi karena Tuhan mencintai manusia, maka manusia dapat mencintai Tuhan sebagai balasannya. “Tak seorang pun pecinta akan mencari persatuan jika Sang Kekasih tidak juga mencarinya, tulis Jalalo’d-din Rumi, penyair Sufi dan pendiri Tarekat Mawlawi, dalam karyanya yang tersohor, Matsnawi (ibid., hlm. 139).
Untuk mengaitkan doktrin analogi dan resiprositas antara manusia dan Tuhan dengan pembahasan tentang kebajikan: setiap kebajikan adalah cara identitas dengan atau partisipasi dalam Wujud ilahi. Setiap kebajikan memiliki esensinya, Kualitas ilahi, dan esensi supernatural dari kebajikanlah yang memberinya sifat impersonal, universal, dan surgawi (Burckhardt 1988, hlm. 102). Jiwa dalam keadaan primordialnya (fetrat) berbudi luhur, yaitu, sepenuhnya selaras dengan Keindahan dan Kebaikan ilahi.
DALAM BAHASA SPIRITUAL Alkimia SUFI, keadaan jiwa manusia yang asli dan murni, dilambangkan oleh logam emas, yang dianggap sebagai logam sempurna, yang mewujudkan kualitas cahaya dan kekekalan. Namun, pada manusia yang jatuh (yaitu, manusia yang diusir dari Surga), jiwa diselimuti oleh lapisan atau tabir tebal ketidaktahuan dan kekejian yang lahir dari nafsu dan keinginan. Pengembangan kebajikan diperlukan untuk pemurnian jiwa dari karat nafsu dan sifat buruk yang telah mendarah daging dan menjadi kodratnya. Doktrin Sufi tentang Keutamaan menggerakkan kodrat sekunder yang menyembunyikan keindahan dan kebaikan abadi dari kodrat aslinya. Penghapusan kodrat sekunder secara bertahap dari kodrat aslinya dianggap oleh para Sufi sebagai proses merebut kembali keadaan surgawi yang telah ditinggalkan manusia. Artinya, pengembangan kebajikan memungkinkan manusia untuk mewujudkan kebahagiaan yang merupakan haknya sebagai umat pilihan di antara ciptaan Tuhan. Dari semua ciptaan Tuhan, hanya manusia yang memiliki potensi atau kemungkinan untuk mewujudkan semua Nama dan Sifat ilahi secara bebas dan sadar, dan sebagai satu kesatuan utuh dalam keberadaannya dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Ketiga hal ini merupakan syarat dan fondasi bagi kehidupan yang baik, yang akan membawa manusia pada kedamaian dan kebahagiaan yang dicarinya, dan yang merupakan warisan sejatinya sebagai khalifah Tuhan di bumi.
Sejak zaman Sokrates, pertanyaan klasik yang mendominasi Bidang etika adalah: Apa kehidupan yang baik bagi manusia? Dan setiap sistem etika, dalam arti tertentu, merupakan upaya untuk menjawab pertanyaan ini. Namun, pertanyaan mendasar ini tidak dapat dijawab secara memuaskan tanpa terlebih dahulu mendefinisikan apa yang dimaksud dengan ‘baik’ dan apa yang membentuk hakikat manusia sejati. Bagi para Sufi, Kebaikan adalah Tuhan, CINTA adalah Tuhan, karena tidak ada realitas selain Dia, sebagaimana diuji oleh Syahadat. Semua kebaikan di dunia ini hanyalah refleksi dari Kebaikan Ilahi. Menurut para Sufi, agar seseorang menjadi benar-benar baik dan sempurna, ia perlu berpartisipasi dan mengidentifikasi dirinya dengan Kebaikan Yang Maha Kuasa. Dan ini hanya mungkin melalui pengembangan kebajikan yang didasarkan pada Kualitas-kualitas Ilahi. Dengan kata lain, hanya Tuhanlah Kebaikan mutlak, dan manusia menjadi baik hanya dengan berpartisipasi secara sadar dan sukarela dalam Kebaikan-Nya. Menurut para Sufi, manusia dapat berpartisipasi dan mengidentifikasi dirinya dengan Kualitas-kualitas Ilahi karena terdapat analogi dan timbal balik yang mendalam antara Yang Ilahi dan manusia.
Manusia, sebagaimana diuji oleh Al-Qur’an, diciptakan menurut Gambar Allah. Keutamaan adalah kondisi tanpa adanya keburukan. Oleh karena itu, memiliki keutamaan berarti memungkinkan terwujudnya Kualitas Ilahi dalam jiwa. Melalui keutamaan, Kualitas Ilahi terpancar dan keutamaan berkembang sebanding dengan tingkat asimilasinya dengan Kualitas Ilahi (ibid., hlm. 102). Dalam perspektif Sufi, asimilasi sempurna Kualitas Ilahi hanya mungkin melalui penyangkalan diri atau penghapusan ego. “Al-faqr fakhri” (“kemiskinan spiritual adalah kebanggaanku”), klaim Nabi Islam. Kemiskinan spiritual adalah kondisi yang diharapkan oleh setiap individu, yang bercita-cita untuk menyadari hakikat sejatinya dan, dengan demikian, mencapai kebahagiaan sejati. Jalan Sufisme sering digambarkan oleh para eksponennya sebagai jalan untuk meniru kemiskinan spiritual Nabi Islam. Kemiskinan spiritual menunjukkan kondisi kekosongan di hadapan Tuhan. Apa yang merupakan kekosongan di sisi manusia adalah kelimpahan di sisi Tuhan (ibid., hlm. 104). Oleh karena itu, setiap kebajikan agar sempurna, tentu saja harus melibatkan penghapusan batin dalam hubungannya dengan Tuhan. Hanya mereka yang ‘miskin’ secara spiritual yang dapat memancarkan dan mewujudkan kepenuhan ilahi dalam tatanan kosmik.
Para Sufi sering mengutip ayat Al-Qur’an yang bersaksi: “Hai manusia, kamulah yang miskin dalam hubungannya dengan Tuhan. Dan Tuhan, Dialah Yang Maha Mutlak, Pemilik Segala Puji…” (35:15), untuk menggambarkan ketiadaan ontologis manusia dan kemahaesaan Tuhan. Hanya individu yang benar-benar miskin dalam hubungannya dengan Tuhannya yang dapat memikul amanah (amāna) dan hak prerogatif untuk mewujudkan Nama-nama dan Sifat-sifat-Nya. Sufi didefinisikan sebagai “dia yang telah mati”. Para Sufi memandang manusia sebagai teofani sentral dari Nama-nama dan Sifat-sifat ilahi dalam ciptaan. Namun, fungsi ini hanya potensial dalam diri setiap manusia. Itu menjadi aktual hanya ketika manusia menyadari sifat dan tujuan sejatinya. Agar manusia dapat menyadari hakikat sejati dan asli adirinya, ia harus terlebih dahulu melepaskan hakikat sekunder yang telah diperolehnya sejak pengusirannya dari Surga. Karena “Hakikat Primordial ” manusia pada hakikatnya berbudi luhur, yaitu, sesuai dengan Nama-nama dan Kualitas ilahi. Akan tetapi, hakikat berbudi luhur yang diperoleh ini, yang pada dasarnya bersifat alami, terselubung oleh sifat-sifatnya yang kedua, yaitu jahat dan penuh gairah. Pemupukan kebajikan melalui usaha, pembiasaan, dan rahmat ilahi, secara bertahap kembali yang menggerakkan sifat sekunder yang menyembunyikan keindahan dan kebaikan abadi dari yang asli.
Penghapusan bertahap yang pertama dari yang terakhir dianggap oleh para Sufi sebagai proses merebut kembali keadaan surgawi dari mana manusia telah jatuh. Artinya, pengembangan kebajikan memungkinkan manusia untuk mewujudkan kebahagiaan yang merupakan haknya sebagai orang pilihan di antara ciptaan Tuhan. Dari semua ciptaan Tuhan ini, hanya manusia yang memiliki potensi atau kemungkinan untuk mewujudkan semua Nama dan Kualitas ilahi dengan cara yang bebas dan sadar, dan sebagai satu kesatuan utuh dalam dirinya. Tiga kebajikan utama Nabi yaitu kewaspadaan, kemurahan hati, dan ketulusan memiliki prototipe surgawi mereka dalam Kekuatan ilahi, Rahmat, dan Kebenaran. Dalam ranah perilaku manusia, kebajikan-kebajikan ini diterjemahkan sebagai kekuatan dalam hubungannya dengan diri sendiri, amal terhadap orang lain, dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Ketiga hal ini merupakan syarat dan landasan bagi kehidupan yang baik, yang akan mendatangkan kedamaian dan kebahagiaan yang dicari manusia, dan yang merupakan warisan sejati manusia sebagai khalifah Tuhan.
Referensi
- Burckhardt, T. (1988). An Introduction to Sufi Doctrine. Lahore: Muhammad Ashraf Publishers.
- Hojwiri. (1980). Kashf al-Mahjub. R.A. Nicholson (terj.). Lahore: Islamic Book Foundation.
- Lear, J. (1988). Aristotle: The Desire to Understand. New York: Cambridge University Press.
- Nasr, S. H. (1972). Esai-esai Sufi. New York: State University of New York Press.
- Nasr, S. H. (1987). Spiritualitas Islam: Fondasi. New York: Crossroad Publications.
- Nasr, S. H. (1981). Pengetahuan dan yang Sakral. New York: Crossroads Publications.
- Schimmel, A. (1978). Dimensi Mistik Islam. Chapel Hill: University of North Carolina Press.
- Schuon, F. (1981). Esoterisme sebagai Prinsip dan Jalan. Middlesex: Perennial Books.
- Schuon, F. (1987). Perspektif Spiritual dan Fakta Manusia. Middlesex: Perennial Books.
- Schuon, F. (1981). Memahami Islam. London: Unwin Paperbacks.
Diterjemahkan dari asli naskah Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia Oleh Anna Taylor London, 9 Oktober 2025.
Konsep Pemahaman
– Pohon “ELM” Dalam Matsnawi Karya RUMI
Hal ini merupakan sebuah ayat dalam jilid keenam Matsnawi-nya; RUMI sebagaimana dimuat dalam “Sejarah Dunia”
Oleh: ESTE ‘LAMI

Definisi ‘elm’ pada Matsnawi oleh Rumi adalah kedamaian dan kepuasan spiritual.
Sebagaimana ekspresi kami yang sangat jelas tentang ketertarikan kami pada Matsnawi Rumi tentang pemahaman pohon elm adalah sama, tetapi juga berbeda, dengan definisi sains, pengetahuan, filsafat, teologi, atau mistisisme dalam kamus. Dalam pandangan Rumi, ‘elm adalah sebuah konsep yang mungkin sebagian mencakup makna istilah-istilah ini, tetapi juga berbeda dari semuanya. Meskipun anda percaya pada keakuratannya, hal itu tidak akan membuka mata batin anda terhadap pengetahuan skolastik, terhadap keberadaan yang tak terlihat.
Ada dua definisi utama untuk ‘elm’ dalam Matsnawi: Salah satunya, ‘elm’ terkait dengan keberadaan yang terlihat dan material dan dapat diakses melalui indra eksternal.
Dunia beradab memiliki kebutuhan untuk perdamaian dan kepuasan spiritual. Para pencari kepuasan spiritual mendesak untuk mencari jalan tersebut, dan dalam hal ini Rumi dapat menjadi pemandu dan guru dalam pencarian tersebut, dan Matsnawi-nya dapat mencerahkan para pengelana di sepanjang jalan ini. Pendidikan spiritual Rumi membuka jendela menuju sekolah tak kasatmata di dalam hati manusia dan misteri-misteri yang hanya dapat dipahami melalui penglihatan batin.
Setelah bertahun-tahun belajar di sekolah-sekolah teologi tempat ia mengenal Al-Qur’an, yurisprudensi, hadis kenabian, filsafat dan sastra Islam dengan baik, Rumi menemukan bahwa pengetahuan skolastiknya tidak memenuhi harapan spiritualnya. Ia menyadari bahwa ada jalan lain menuju wahyu yang tak kasatmata bagi sebagian besar cendekiawan skolastik.
Dalam tradisi sejarah Eropa dari abad pertengahan hingga modern, terutama dalam dua abad terakhir dengan berdirinya lembaga-lembaga akademik modern, kita menemukan definisi spesifik untuk istilah-istilah ini dalam karya-karya ilmiah, yang semuanya kurang lebih berbeda dari definisi Rumi tentang ‘elm’.
Dunia modern abad ke-20 patut berbangga atas kemajuannya dalam sains, industri, teknologi, dan juga dalam modernisasi pendidikan dan hubungan sosial. Di banyak belahan dunia terdapat fasilitas modern untuk kehidupan, dan sumber daya alam telah dimanfaatkan oleh manusia untuk melayani peradaban. Namun, sisi spiritual dari keberadaan tampaknya diabaikan oleh orang-orang modern. Di sini saya tidak sedang berbicara tentang efek samping kemajuan industri dan teknologi, atau tentang pencemaran lingkungan alam. Saya juga tidak sedang berbicara tentang penemuan dan inovasi yang telah dan sedang digunakan untuk menciptakan senjata pemusnah massal. Sebaliknya, saya menyinggung fakta bahwa ada cara lain untuk belajar dan memahami, karena yang melaluinya dapat mencapainya.
Dengan cara yang serupa, di dunia kita saat ini, kita dapat menyebutkan lebih dari dua puluh buku terkenal, semuanya ditulis dan diterbitkan di negara-negara maju, sebagian besar diakui sebagai buku terlaris, dan semuanya membahas, secara langsung maupun tidak langsung, permasalahan peradaban modern. Semua penulis yang terlibat mengatakan atau menyiratkan bahwa di atas kemajuan dalam sains, teknologi, dan pendidikan, manusia membutuhkan rasa peningkatan spiritual, atau kekuatan untuk mengarahkan kemajuan ini menuju kepuasan manusiawi, moral, dan spiritual. Namun, peningkatan tersebut tidak dapat diakses melalui lembaga pendidikan dan penelitian yang canggih.
Ini hampir sama dengan konsep yang sering dibahas oleh Rumi lebih dari tujuh ratus tahun yang lalu dalam buku Matsnawi karangannya. Fasilitas pendidikannya dan yang sarana lainnya tidak bersifat global, tidak diajarkan di sekolah, dan tidak dapat diakses melalui buku, laboratorium, atau fasilitas pendidikan dan akademik. ‘Elm’ yang luar biasa ini adalah pemahaman akan Kebenaran yang berada di luar pemahaman manusia biasa, atau kesadaran akan dunia tak kasat mata yang merupakan satu-satunya aspek nyata dan abadi dari Keberadaannya.

Dalam Matsnawi terdapat banyak kisah dan anekdot yang digunakan Rumi untuk merujuk pada perbedaan antara dua konsep ‘elm. Kisah yang paling terkenal mungkin adalah kisah seorang ahli tata bahasa yang sombong, seorang nahwi, yang naik ke perahu dan bertanya kepada tukang perahu: “Pernahkah Anda belajar nahw (tata bahasa)?” Ketika tukang perahu mengatakan bahwa ia belum pernah belajar tata bahasa, nahwi itu berkata kepadanya: “Oh! Aku merasa kasihan padamu, separuh hidupmu telah sia-sia.”
Tukang perahu itu tidak langsung menjawab dan terdiam beberapa saat, hingga angin melemparkan perahu itu ke dalam pusaran air. Kemudian tukang perahu itu berteriak: “Apakah kamu tahu cara berenang?” Seorang ahli tata bahasa yang sombong berkata bahwa dia tidak akan pernah bisa berenang. Tukang perahu berkata: “O Nahwa! Seluruh hidupmu sia-sia, karena perahunya tenggelam di pusaran air ini”.
Mengikuti anekdot ini, menurut Rumi yang dibutuhkan disini adalah ‘mahw’, penghapusan diri, bukan ‘nahw’. Jika engkau mahw, terjunlah ke dalam laut, dan jangan takut akan bahaya atau mara bahaya apa pun. Memiliki pengetahuan dalam bidang studi skolastik apa pun tidak membuka jendela ke dunia gaib. Yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan itu bukanlah fegh atau sarf atau nahw. Kita membutuhkan feqh-efeah, sarf-e sarf, dan nahw-e nahw. Dengan ungkapan-ungkapan ini, Rumi mengartikan pengetahuan yang diterima melalui hubungan spiritual dengan dunia Ilahi. Ungkapan lain untuk hubungan ini adalah: Pengetahuan dari Sumber Itu, atau az an sar, pengetahuan yang tumbuh dari akar Ilahi.
Ungkapan lain untuk kesadaran semacam itu adalah fath-e bab az sina, atau pembukaan gerbang di hati seseorang: Setiap orang yang di dadanya [atau hatinya] gerbang itu terbuka Akan melihat Matahari dari mana-mana. Dan bagi seseorang yang berlatar belakang religius, gerbang semacam itu hanya dapat dibuka oleh Tuhan. Dalam proses ini, menurut pandangan Rumi, seorang guru, seorang pir atau morshed harus memberikan bimbingan dan membuka jalan bagi para murid.
Dalam banyak ayat Matsnawi, Sulaiman, nabi dan penguasa Yahudi yang terkenal, dan juga Nuh disebutkan sebagai guru, dan dalam perbandingan ini, Rumi menyiratkan bahwa seorang morshed harus dipatuhi sebagaimana seorang nabi: “Seperti Sulaiman, letakkan kakimu di laut, sehingga air, seperti Daud, dapat membuat seratus baju zirah [untuk melindungimu].” “Bahwa Salomo hadir bagi semuanya, tetapi jika kita tidak layak menerima bimbingannya, maka jalan ke depan kita tidak akan dibukakan olehnya.” “Berdiamlah, agar kamu dapat mendengar dari mereka yang berbicara, apa yang mungkin tak terungkap atau tersirat.” “Berdiamlah, agar kamu dapat mendengar dari Matahari, apa yang mungkin tak tercatat dalam buku atau diutarakan.” “Berdiamlah agar roh dapat berbicara untukmu. Di dalam Bahtera Nuh, berhentilah berenang.”
Untuk mengungkapkan konsep ‘elm yang maju, atau ‘elm-e baten, Rumi menggunakan banyak kata dan ungkapan yang berbeda, dan dalam kebanyakan kasus, ia menggunakan antonim dari kata-kata yang sama untuk pengetahuan duniawi. Seseorang yang menyadari ‘elm Ilahi dan misteri keberadaan yang tak terlihat adalah seorang mohaqqeq. Seseorang yang telah mempelajari subjek yang sama melalui program dan diskusi skolastik disebut moqalled atau peniru, karena ia meniru kata-kata dan ungkapan tanpa menyadari realitas atau makna batinnya: “Ada banyak perbedaan antara orang yang mengetahui dan peniru. Orang yang mengetahui bagaikan Daud, sementara peniru hanyalah gema [bukan lagu, bukan penyanyi].”
Di sini saya dapat merujuk pada beberapa ungkapan Rumi lainnya tentang ‘elm-e baten: tahqiq atau ‘elm-e tahqiqi adalah ungkapan lain untuk pengetahuan tentang eksistensi yang hakiki dan abadi, dan di sisi yang berlawanan, terdapat ‘elm-e taqlidi atau pengetahuan imitatif yang mengacu pada apa yang diajarkan di sekolah-sekolah: “Pohon elm konvensional hanya untuk dijual [atau untuk promosi diri]. Ketika menemukan pembeli, ia bersinar dengan gembira. Pembeli pengetahuan sejati adalah Tuhan. Dan untuk pengetahuan semacam itu, pasar selalu berkembang pesat.”
Pengetahuan duniawi adalah hambatan di jalan menuju pengetahuan sejati dan Ilahi. Pengetahuan para pengikut indra eksternal adalah sebuah teka-teki. Untuk ‘elm-e tahqiqi, Rumi juga menggunakan istilah ‘elm-e din, elm-e ahl-e del, pengetahuan tentang agama yang sebenarnya, atau pengetahuan seseorang yang menjadi sadar melalui hatinya. Rumi percaya bahwa akal sehat tidak dapat meminum susu dari pengetahuan yang tinggi itu.
Pengetahuan yang tinggi ini, dalam beberapa ayat Matsnawi lainnya disebutkan sebagai: nazar, başar, did, did-e-son’-bin, cheshm-e rast, cheshm-e del, cheshm-e mahraman, nur-e del, ‘ayan, ‘ayno’l ‘ayan dan ‘elm-e ladoni atau ‘elm-e men ladon. Semua ini merupakan ungkapan Rumi untuk hubungan spiritual yang memungkinkan manusia memahami Wujud yang abadi dan tak kasat mata melalui apa yang Rumi anggap sebagai indra internal atau hawāss-e baten.
Di sisi lain, seperti yang telah saya katakan sebelumnya, Rumi mengambil antonim dari istilah-istilah ini untuk menunjukkan pengetahuan duniawi dan skolastik, misalnya:
- ‘Elmha-ye ahl-e hess, pengetahuan orang-orang yang beriman pada indra material mereka.
- Hess-e khoffash, pengertian seseorang yang tidak mampu melihat Matahari realitas.
- Zann, goman atau shakk, ketidakpercayaan dan keraguan terhadap realitas dan keberadaan dunia tak kasat mata dan banyak ekspresi lainnya.
Dalam pandangan Rumi, manusia tidak diciptakan untuk memuaskan sisi material sebagaimana keberadaannya, tetapi keberadaan materialnya adalah kendaraan yang dengannya ia harus mendekati batas Keabadian. Rumi beranggapan bahwa bersama dengan kelima indra material kita, terdapat lima indra internal yang dengannya dunia abadi dan tak kasat mata kita dapat dicapai. Telinga kepala bagaikan kapas di telinga nurani. Untuk membuka telinga bagian dalam, telinga kepala harus menjadi tuli.
Transisi dari kehidupan material dan sensual menuju pemahaman spiritual tentang keberadaan yang tak kasat mata, bagi kebanyakan orang, tampaknya tak masuk akal atau setidaknya mustahil, dan memang kebanyakan orang tidak diharapkan untuk mengangkat diri mereka ke transisi semacam itu. Namun dalam pandangan Rumi, peningkatan ini dapat diakses oleh setiap orang yang layak mendapatkan rahmat Tuhan dan dukungan-Nya. Rahmat Tuhan akan memungkinkan manusia untuk mengubah indra eksternalnya menjadi indra batin atau hawass-e baten.
Rumi berkata: “Tinggalkan pengasuh di daratan; Engkau berlayar ke lautan realitas spiritual seperti bebek.” Mereka yang mampu berenang di lautan realitas bukanlah budak dari keinginan material atau nafsu mereka. Kebutuhan dan keinginan material mereka telah dimanfaatkan untuk melayani kehidupan immaterial mereka, dan seperti yang dikatakan Rumi, “Mereka percaya bahwa makanan asli manusia adalah Cahaya Tuhan”. Makanan semacam itu tidak boleh dimakan melalui mulut dan tenggorokan kita. Ketinggian spiritual mereka memberi mereka mulut dan tenggorokan lain yang dengannya mereka dapat memperoleh makanan dan minuman immaterial, dan makanan itu tidak lain adalah kesadaran spiritual akan Keberadaan Absolut, hasti-ye motlaq.
Sebagai penutup, saya ingin menyebutkan lagi bahwa tujuan saya bukanlah untuk merendahkan atau mengingkari hasil-hasil berharga dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Rumi juga tidak merendahkan nilai-nilai studi skolastik dan agama pada masanya. Pertimbangan utamanya adalah bahwa seluruh pengetahuan, budaya, dan peradaban sebagai tangga menuju pencapaian ketinggian spiritual dan kemanusiaan haruslah melayani, dan semua sekolah, universitas, dan pusat-pusat penelitian harus bekerja sama dengan ketinggian tersebut.
Manusia kontemporer tidak dapat, dan tidak perlu, menutup sekolah-sekolah, universitas-universitas, dan pusat-pusat penelitian. Ia juga tidak dapat hidup sepanjang waktu di khanaqah atau biara. Dia tidak perlu menjauhkan diri dari kesenangan dan aktivitas duniawi, tetapi dia sangat perlu mengambil beberapa kursus tentang cinta ilahi, dan mencari kebangkitan yang diharapkan dapat menuntun kita menuju stabilitas moral dan spiritual.
Makalah ini awalnya dipresentasikan pada konferensi tentang “Sufisme Persia, Dari Asal-usulnya hingga Rumi,” 11-13 Mei 1992 di Universitas George Washington, Washington, DC.
Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dari naskah aslinya dalam bahasa Inggris yang dimuat pada Jurnal Sufi terbitan no 13 tahun 1992, Khaniqah Nimatullahi London-New York Publication.
Oleh Anna San Taylor, London 6 Oktober 2022.
PEMBELAJARAN ETIKA SPIRITUAL
– Nama Nama
Puisi Spiritual Karya Rumi
Diterjemahkan oleh Robert Bly dari Divan-e-Shams-e Tabrizi
Nama Nama
Cobalah dengarkan nama yang Maha Kudus dan Maha Suci. gunakan untuk segala sesuatu. Ada suatu dalam kalimat yang berbunyi : “Yang Maha Kudus dan Suci mengajarinya nama-nama.”
Sedangkan kita menamakan segala sesuatu sesuai jumlah kakinya. Yang Maha Kudus menamainya sesuai isi di dalamnya.
Musa mengayunkan tongkatnya; ia mengira namanya adalah ‘tongkat’; Namun di dalamnya namanya adalah ‘ular naga’. Mengira nama ‘Umar’ berarti ‘penghasut melawan para pendeta’, dalam kekekalan, namanya adalah ‘orang yang beriman’.
Tidak seorangpun tahu nama kita sampai napas terakhir kita.
Dapat dipahami apabila kita harus mengurangi sedikit demi sedikit ketergantungan kita pada indra material kita dan mencoba menyingkirkan keinginan material kita.
Dengan demikian indra internal kita akan mulai bekerja dan memungkinkan kita memahami apa yang tidak dapat diajarkan melalui program pendidikan dan melalui peralatan canggih dan mahal dari sekolah dan universitas modern: Telinga kepala ibarat kapas di telinga nurani. Untuk membuka telinga bagian dalam, telinga kepala harus menjadi tuli (ayat 1/571).
Transisi dari kehidupan material dan sensual ke pemahaman spiritual tentang keberadaan yang tak kasat mata, bagi kebanyakan orang, tampaknya tak dapat dipercaya atau setidaknya mustahil, dan memang kebanyakan orang tidak diharapkan untuk mengangkat diri mereka ke transisi semacam itu.
Namun dalam pandangan Rumi, peningkatan ini dapat diakses oleh setiap orang yang layak mendapatkan rahmat Tuhan dan dukungan-Nya. Rahmat Tuhan akan memungkinkan manusia untuk mengubah indra eksternalnya menjadi indra batin atau hawass-e baten. Untuk perubahan seperti itu, Ungkapan Rumi adalah gozara shodan-e hawass, atau keluarnya indra dari tabir ketidaktahuan: Ketika indranya telah melewati tabir, penglihatan dan sabda dari Tuhan akan terus berlanjut (ayat 6/1929).
Ungkapan lain untuk perubahan ini adalah taqlib-e rabb atau taqlib-e khodā (lihat: ayat 4/3729, ayat 6221, 3710), sebuah perubahan spiritual yang dilakukan oleh Tuhan, yang dengannya Rumi merujuk pada sebuah tradisi kenabian yang mengatakan bahwa: “hati manusia semuanya berada di antara dua jari Tuhan sebagai satu hati, dan Dia memutar hati yang satu itu sesuka-Nya.”
Untuk menjelaskan perbedaan antara seorang pria yang pantas mendapatkan kebaikan dan dukungan dari Tuhan dan seorang pria yang tidak memiliki kapasitas seperti itu, Rumi memiliki banyak alegori dan perumpamaan yang berbeda dalam Matsnawi. Salah satunya adalah kisah tentang seekor unggas peliharaan yang mengasuh beberapa anak bebek, yang ditetaskannya di bawah sayapnya. Anak-anak bebek keluar dari cangkangnya dan kemudian berjalan menuju tepi sungai bersama induk angkat mereka. Di sungai, mereka langsung mulai berenang, tetapi unggas domestik berjalan di atas air.
Mengikuti perumpamaan ini, Rumi berputar-putar dan tidak berani masuk ke dalam pepatah: Tinggalkan pengasuh di daratan kering: Anda berlayar ke lautan realitas spiritual seperti bebek (ayat 2/3786).
Mereka yang mampu berenang di lautan realitas, bukanlah budak dari keinginan material atau hawa-nafsu mereka. Kebutuhan dan keinginan material mereka telah dimanfaatkan untuk melayani kehidupan material mereka, dan seperti yang dikatakan Rumi, “Mereka percaya bahwa makanan asli manusia adalah Cahaya Tuhan” (ayat 2/1086). Makanan semacam itu tidak boleh dimakan melalui mulut dan tenggorokan kita.
Ketinggian spiritual mereka memberi mereka mulut dan tenggorokan lain yang dengannya mereka bisa mendapatkan makanan dan minuman immaterial (lihat: ayat 1/3890), dan makanan itu tidak lain adalah kesadaran spiritual akan Keberadaan Absolut, hasti-ye motlaq.
Sebagai penutup, saya ingin kembali menekankan bahwa tujuan saya adalah untuk merendahkan atau mengingkari ilmu pengetahuan. Rumi juga tidak merendahkan hasil kemajuan dalam kajian sains dan teknologi pada masanya.
Inti dari nilai-nilai pertimbangan skolastik dan keagamaan adalah bahwa seluruh ilmu pengetahuan, budaya, dan peradaban harus berfungsi sebagai tangga menuju pencapaian peningkatan spiritual dan kemanusiaan, dan semua sekolah, universitas, dan pusat penelitian harus bekerja sama dengan peningkatan tersebut.
Manusia kontemporer tidak dapat, dan juga tidak perlu, menutup sekolah, universitas, dan pusat penelitian. Ia juga tidak dapat hidup sepanjang waktu di khanaqah atau biara. Ia tidak perlu melepaskan diri dari kesenangan dan aktivitas duniawi, tetapi ia sangat perlu mengambil beberapa mata kuliah tentang cinta Ilahi, dan untuk kebangkitan yang dapat menuntun kita menuju stabilitas moral dan spiritual.
Referensi: Karya ilmiah ini dipaparkan pada saat Konferensi Sufi dengan tema “Persian Sufism, From Origins To Rumi” di George Washington University, Washington DC, USA pada tgl 11-13 Mei 1992.
Naskah Diterjemahkan dari bahasa Inggris sesuai aslinya dari Jurnal Sufi London-New York, edisi ke 13, Spring 1992.
Memahami Puisi Spiritual
– Pengakuan Palsu
Oleh D. Alireza Nurbakhsh
Seorang kekasih penyihir hati
Sedang kasmaran,
dan cantiknya seperti bulan purnama penuh
Datang kepintu rumahku
Pada suatu pagi saat subuh
Matanya hitam legam, rambutnya acak-acakan
Dia akan mencuri hati siapa saja
Hanya dengan sekilas tatapan matanya
“Siapa engkau wahai orang yang bijaksana?”, Ia bertanya
“Rajanya pemandu spiritual, Guru ahli gaib?” Aku menjawab
Ia tertawa mendengar kata-kata dan pernyataanku
“Wahai engkau,
Yang tersesat dan tenggelam dalam dosa
Apa yang engkau ketahui tentang Guru ahli gaib dan pemandu spiritual
Engkau yang terpesona pada diri sendiri dan kehilangan arah?”
Tinggalkan dirimu sendiri
dan pilihlah aku —
menjadi kekasihmu satu-satunya
Dan terbakarlah oleh cintaku kembali
Sekarang, dan nanti
Serahkanlah keberadaan jati dirimu
Untuk ombak rambutku
Datanglah dengan dada penuh api
dan helaan nafas”.
Kutinggalkan jati diriku
menyerah menjadi Guru dan pemandu spiritual
Dia Sang Yang Terkasih,
Menganugrahkan aku cahaya
Seindah dan seterang bulan purnama
Alireza Nurbakhsh
Banbury, 31 Agustus 2025
PEMBELAJARAN ETIKA SPIRITUAL DALAM PUISI “PENGAKUAN PALSU”
Oleh Dr. Alireza Nurbakhsh
Pembukaan
Puisi dalam Sufism adalah media atau sarana melahirkan apa yang ada didalam batin. Juga suatu sarana untuk memudahkan pemahaman pengalaman gaib dengan menerangkan dalam bahasa sehari hari yang biasa digunakan.
Karena Sufism adalah tentang perjalanan cinta spiritual melalui jalan lurus kebajikan dan pengakuan kemutlakan keberadaan Tuhan yang Maha Tunggal, sehingga hanya dengan symbol symbol belaka pengexpresian rasa batin bisa diwujudkan secara lahir. Karena pada dasarnya pengalaman batin seseorang tidak bisa mutlak sepenuhnya akan bisa dipahami bagi mereka yang tidak mengalaminya. Dengan menyamarkan pengalaman batin melaui simbul-simbul maka kesakralan akan pengalaman gaib masih tetap terus terjaga.
Dalam puisi “Pengakuan Palsu” mengandung tiga pembelajaran utama dalam Sufi.
Pertama: Menghilangkan jati diri sendiri Apabila seseorang yang telah mencapai puncak kemanunggalan “karsa” antara kawula dan Gusti, maka akan hilang keberadaan dirinya. Yang disebut keberadaan diri disini adalah sifat sifat yang menyangkut nafsu keduniawian: pangkat, harta dan tahta dan segala yang menyertainya. Maka apabila ada seseorang yang mengaku ngaku sebagai guru spiritual namun masih terus mencari harta tahta dan nama, maka orang tersebut adalah Guru palsu.
Kedua: Setiap orang memiliki jalan spiritual masing masing Jalan spiritual adalah sebanyak jumlah manusia hidup didunia. Setiap orang diberi satu atau bahkan lebih kesempatan untuk berjalan di jalan spiritual yang ditunjukkan baik secara terbuka (melalui kejadian antara hidup dan mati, menyaksikan suatu keadaan bahagia atau kesedihan disekitarnya maupun melihat keindahan alam disekitarnya). Dan secara tertutup (tergugahnya hati pada saat tertentu yang tidak diketahui penyebabnya).
Adalah pilihan masing masing orang untuk terus mengikuti “gejolak hatinya” yang berdetak berbeda sejak saat “jalan spiritual” itu ditunjukkan. Atau memilih kembali ke detak jantung yang biasa dilaluinya. Dan melanjutkan kehidupan seperti biasanya tanpa ada perubahan. Karena sangat jarang orang yang mengikuti petunjuk jalan spiritual, sehingga orang orang yang masuk kelompok ini dianggap sudah gila atau tidak waras. Pendapat umum itu betul adanya.
Karena orang-orang ini meninggalkan kebiasaan hidupnya yang mungkin nyaman dan tidak kekurangan apapun juga. Nabi Muhammad misalnya. Beliau meninggalkan kebahagiaan hidupnya demi mengikuti gejolak hati dalam mencari kebenaran sejati, rela menjadi abdi Illahi tanpa bayaran tanpa ada tanggungan kesejahteraan hari tua. Hanya dengan bekal “Cinta Kasih Tulus Iklas” kepada Tuhannya beliau meninggalkan kenikmatan hidupnya menuju masa depan tidak menentu demi mengikuti petunjuk spiritual yang diterimanya.
Ketiga: Menunjukan “saat” penulis sedang dalam kontemplatif dan merasakan saat “kemanunggalan”. Saat kemanunggalan adalah saat dimana seseorang lupa akan jati dirinya, karena dalam kesadarannya hanya Sang Yang Maha Tunggal lah yang hadir. Tidak seorangpun bisa menerangkan “rasa saat manunggal” karena memang rahasia gaib yang tidak bisa diceritakan dan dijelaskan dengan kata-kata bagaimanapun banyaknya. Hanya orang-orang yang telah mencapai “kemanunggalan” bisa memahaminya tanpa penjelasan. Karena kemanunggalan adalah bukan suatu wacana namun sebuah pengalaman batin yang hanya dialami oleh para mereka pengembara spiritual yang sudah mencapai “Ikshan” dalam ibadahnya dan kesempurnaan kesucian batin dan lahir dalam kehidupan sehari hari.
Keempat: Penggambaran rasa melalui Penyerahan diri yang iklas atas apapun kehendak Allah. Konsep penyerahan diri total yang tercermin melalui puisi spiritual Dr. Alireza Nurbakhsh juga seiring dan sejalan dalam konsep “Nrimo” ajaran Spiritual dan filsafat kehidupan suku bangsa Jawa terutama di daerah karesidenan Surakarta dan sekitarnya. Nrimo bukan berarti menerima keadaan namun memahami keterbatasan. Dengan demikian “nrimo” bukan sikap mutlak absolut yang diejawantahkan dengan tidak berbuat apapun karena “nrimo”. Namun “nrimo” harus dijadikan suatu awal dalam melakukan pilihan hidup selanjutnya.
Dalam puisi Dr. Nurbakhsh, jelas beliau menerima dengan iklas sebagai Guru, pemandu dan pemimpin spiritual. Walaupun beliau memilih hanya ingin menjadi “seorang kekasih yang tanpa gelar”. Keiklasan beliau menerima tugas sebagai pemimpin spiritual atas pemahaman bahwa pengalaman spiritual yang beliau alami bukan semata mata untuk kepentingan diri sendiri. Namun untuk dibagikan kepada yang lain. Lebih jauh lagi untuk menuntun mereka yang menjalankan laku spiritual agar tidak kehilangan arah tujuan.
Aplikasi dalam kehidupan sehari hari dari puisi spiritual Dr. Nurbakhsh adalah penyelarasan sikap “nrimo”. Yaitu sikap “nrimo” yang positif. Sikap yang mampu menyulut semangat baru dalam bertindak yang berdasarkan kemampuan intelektual kita untuk memilih. Dimana kebebasan memilih adalah bukti kecintaan Tuhan yang tak terbatas kepada manusia. Contohnya saat usaha tidak berhasil, mempunyai sikap “nrimo” baik untuk menghindari stress karena kegagalan. Namun sikap “nrimo” disini juga harus menjadi awal pilihan tindakan selanjutnya untuk menghindari kegagalan dimasa depan dan bukan menjadi “titik akhir”.
Dengan demikian “sikap” nrimo yang positif sebenarnya adalah warisan ajaran hidup sehari hari dari nenek moyang kita untuk hidup dalam keseimbangan. Yaitu hidup dalam kesejahteraan kehidupan duniawi dan kesejahteraan batiniah dan rohaniah. Kesejahteraan duniawi yang diwujudkan dalam perekonomian keluarga yang cukup. Serta kesejahteraan batin yang diwujudkan dengan memiliki kebesaran jiwa untuk menerima dengan iklas dengan tidak mengurangi untuk tetap berusaha mencapai yang terbaik disegala bidang.
Oleh Anna Kelly Taylor
London, 12 February 2026
# Wahana Pembelajaran Etika Spiritual
– Belajar ke Negeri China, Bagian Pertama
Oleh S. Kelly-Taylor
PENJABARAN SUNAH NABI MUHAMMAD SAW TENTANG PERINTAH DAN ANJURAN MENUNTUT ILMU KENEGERI CHINA DAN RELEVANSINYA DI ABAD 21
“Tuntutlah Ilmu, walaupun harus pergi ke China, karena menuntut ilmu adalah kewajiban bagi seorang muslim baik laki maupun perempuan”. Hadis Nabi Muhammad SAW.
PENJELASAN ARTI “Tuntutlah Ilmu, walaupun harus pergi ke China” dalam wacana Ilmu Marifat atau Ilmu Ketuhanan.
Latar belakang nabi Muhammad SAW memberikan petunjuk dan perintah untuk menuntut ilmu ke negeri China dapat digugah dari beberapa sudut pandang.
Pertama adalah sudut pandang sejarah kemajuan China pada saat Nabi Muhammad masih hidup yaitu dinasti Tang yang memerintah dari tahun 618-907 Masehi. Kemajuan dinasti Tang pada di era Nabi Muhammad SAW bukan saja kemajuan di bidang tehnologi, namun juga dibidang seni, budaya dan agama termasuk didalamnya ajaran-ajaran Spiritual yang menjadi landasan moral China pada waktu itu yaitu agama Bhuda, agama Tao dan kepercayaan local serta sedikit pengaruh agama dari Iran yaitu Maniesm dan Zorotarian. Agama Bhuda dan agama Tao merupakan agama resmi dinasti Tang pada saat itu selain agama Kong Hu Cu.
Kedua adalah sudut pandang keharmonisan kehidupan dalam bermasyarakat dan bernegara serta tumbuh dan berkembangnya sikap toleransi yang tinggi dibawah pemerintahan dinasti Tang pada saat itu terhadap pendatang asing. Masyarakat China pada waktu itu menerima dengan baik segala sesuatu yang berhubungan dengan atribut budaya dan kepercayaan yang dibawa para pendatang asing. Terbukti adanya perkawinan antar penduduk asli China dengan para pendatang asing dan adanya penduduk asli China yang menjadi pemeluk kepercayaan yang dibawa pendatang asing. Salah Satunya adalah Manisme, agama minoriti dari Persia juga Islam dan yang terbesar adalah Bhuda. Sehingga terwujud keharmonisan dalam tata kehidupan bermasyarakat dan bernegara dan dinasti Tang mencapai puncak kemakmuran sehingga termasyur sampai kenegeri Arab dimana Nabi Muhammad SAW berkedudukan.
Latar belakang Nabi Muhammad SAW dalam memberi perintah dan petunjuk untuk belajar ke negeri China pada waktu itu dimungkinkan juga akan perbedaan sikap dan sifat masyarakat Arab terutama di Medinah dimana masyarakat Medinah menolak dan mengusir Nabi Muhammad SAW saat beliau pertama kali menyebarkan Islam secara terbuka di Medinah. Perbedaan sikap dan watak antara orang Arab yang merupakan bangsa Nabi Muhammad sendiri yang mengusir Nabi Muhammad dari kota kelahirannya saat awal penyebaran Islam dibandingkan dengan sikap serta perilaku bangsa China yang menerima pendatang dari bangsa-bangsa lain diluar China dengan tangan terbuka dan menghormati kepercayaan serta adat istiadat yang dibawa merupakan suatu contoh sikap perilaku utama yang wajib ditiru. Sehingga Nabi Muhammad mengeluarkan himbauan dan juga perintah untuk belajar ke negeri China.
Kemungkinan kedua adalah bahwa secara bersamaan pada waktu Nabi Muhammad berdiam di Medinah, China pada waktu itu mengalami masa keemasan. Dimana ditandai dengan kemampuan membeli barang-barang impor dari para pedagang asing, yang menandai kehidupan yang makmur.
Kedua berkembangnya tehnologi dan penemuan-penemuan yang bermanfaat seperti:
- Penemuan Percetakan blok kayu: Memungkinkan produksi masal buku-buku dengan harga murah, sehingga bisa terjangkau oleh banyak orang. Dan menjadikan China pada saat itu satu satunya negara yang rakyat biasapun bisa menulis dan membaca.
- Bubuk Senjata atau amunisi: Dengan penemuan ini dan pengembangannya dalam militer, persenjataan dinasti Tang menjadi tolak ukur kekuatan militer sebagai dinasti yang mempunyai kekuatan militer dan menjadi negara “Super Power” pada masa itu. Dalam arti suatu negara yang kekuatan militernya tidak tertandingi oleh bangsa manapun didunia hingga abad 10 bahkan hingga abad 12.
- Produksi Porselin: Kemampuan untuk menghasilkan porselin mutu tinggi dan menjadi barang dagangan berharga baik di pasar domestik maupun International. Porselin China telah menjadi komoditi exspor utama pada saat itu dalam perdagangan dunia, baik lewat darat maupun lewat laut. Bukti bahwa porselin China masa Dinasti Tang adalah komoditi expor China utama ke seluruh dunia dapat dirujuk dari penemuan porselin kuno di berbagai negara di dunia yang bertahun saat dinasti Tang. Dan juga ditemukannya sisa-sisa kapal yang terdampar di bawah laut dengan muatan porselin China dengan bukti cetakan saat dinasti Tang maupun Song.
- Pembuatan Peta: Kemajuan dan kemampuan dalam membuat peta dengan tingkat keakuratan yang tinggi. Hal ini memungkinkan bangsa China menjelajah dunia di abad 7M hingga abad 14M. Pada abad ke tujuh Masehi dinasti Tang mampu memiliki armada dagang dan armada diplomasi yang mencapai Afrika dan Timur Tengah. Rute pelayaran inilah yang memungkinkan empat sahabat Nabi Muhammad melakukan kunjungan persehabatan hingga empat kali. Armada dagang berlayar ke Timur Tengah melalui selat Persia ke Iran, dilanjutkan hingga mencapai sungai Euphrates di Iraq, serta dataran Arab termasuk Mesir melalui Ethiopia. Armada laut China terbukti telah menjelajah dunia jauh sebelum bangsa Eropa yang hanya dimulai pada abad 14 M.
- Tehnologi Gas Alam: Mereka menemukan tehnologi baru yaitu menampung gas alam dalam kemasan silinder, sehingga memungkinkan gas alam bisa menjadi aman digunakan dan bisa di angkut antar wilayah.
- Jam Matahari dan Obat-obatan: Peningkatan keakuratan pembuatan jam matahari dan meningkatnya riset dibidang obat-obatan untuk memastikan keamanan dan manfaat maksimal dari setiap bahan. Obat-obatan dan metode Pengobatan China berkembang dan merupakan salah satu cabang kedokteran di bidang “Natural Remidy” yang hingga saat ini masih terus dipakai dan tersebar di seluruh dunia.
Semua penemuan dan pengembangan tehnologi pada masa Dinasti Tang tidak akan mungkin tercapai tanpa adanya kemakmuran dan harmonika dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Kemakmuran serta kemajuan tehnologi serta keharmonisan dan kedamaian yang ada dalam sistem kemasyarakatan dan bertata negara di China diketahui oleh Nabi Muhammad SAW pada saat itu, yang memungkinkan beliau memerintahkan dan memberi petunjuk kepada para sahabatnya untuk belajar ilmu ke China.
Keterbukaan China saat itu dalam menerima para pedagang asing dari penjuru dunia (Timur Tengah, India, Asia Tenggara, dan Eropa) kemungkinan besar yang menarik perhatian Nabi Muhammad SAW untuk memerintahkan dan menghimbau para pengikutnya untuk belajar ke negeri China. Toleransi yang tinggi masyarakat China untuk berinteraksi dan berhubungan dengan pendatang asing pada waktu itu juga kemungkinan salah satu dasar mengapa Nabi Muhammad SAW menganjurkan dan memerintahkan pengikutnya untuk mencari ilmu ke negeri China.
Pertimbangan alasan tersebut bisa diterima, karena toleransi adalah juga merupakan salah satu ajaran dalam bermasyarakat di dalam Islam sesuai dengan ayat dalam Quran terutama Surat Al A’Raf ayat 199 yang berbunyi: “Engkau harus menggunakan maaf sebagai cara menyelesaikan perkara, mengamalkan toleransi dan tidak memperdulikan mereka yang tidak tau (bodoh)”. Bersikap toleransi atau bertenggang rasa penting dalam Islam sebagaimana isi surat Al-Baqarah ayat 109 tentang kemuliaan memaafkan, ayat 221 tentang diperbolehkan untuk menikahi wanita dari agama lain, dan 256 tentang kebebasan beragama. Sikap toleransi semakin ditekankan dalam Surat Al Maidah 5:87 tentang pelarangan menimbulkan kekacauan dan menggangu orang lain.
Selanjutnya adalah latar belakang budaya, sifat dan sikap orang Arab yang tidak mempunyai toleransi pada saat itu. Nabi Muhammad SAW memberi perintah untuk belajar ke China dimungkinkan karena perbedaan sikap masyarakat Arab di Mekkah yang menolak dan mengusir beliau saat pertama kali menyebarkan Islam secara terbuka. Sedangkan di China pada waktu yang bersamaan adalah masa keemasan peradaban di bawah kekuasaan dinasti Tang, kemudian dinasti Song. Masyarakat dibawah dinasti Tang bisa hidup bersama dan saling menghormati, bahkan bisa menerima dengan terbuka para pendatang asing baik pedagang maupun penyebar agama, sastrawan, serta negarawan.
Kemungkinan latar belakang yang keempat adalah kemajuan di bidang Spiritual di China pada waktu itu. China telah memiliki ajaran agama Tao dan Kong Hu Cu (551-479 BCE) jauh sebelum agama Buddha dan agama luar lainnya masuk. Keduanya adalah ajaran filsafat China yang mengandung pedoman utama etika moral, tatanan sosial serta bernegara dan berbangsa. Nilai-nilai filsafat dan kepercayaan tradisional asli inilah yang membentuk kepribadian dan karakter bangsa China.
Pada masa Nabi Muhammad (570-8 Juni 632), China sudah merupakan suatu kekaisaran yang maju dalam segala bidang: tehnologi, budaya, tata negara, perdagangan maupun agama. Bahkan China adalah salah satu negara pertama di dunia yang telah mempunyai tempat-tempat khusus untuk makan (restaurant) dan hiburan untuk masyarakat umum. Negara China sudah berinteraksi dengan Arab jauh sebelum Nabi Muhammad lahir, yaitu sejak abad 2 sebelum Masehi melalui rute perdagangan “Jalan Sutra”. Jalan Sutra menjadi perantara pertukaran ilmu, tehnologi, budaya, agama, dan bahasa. Sebagai seorang pedagang, tidaklah mengherankan apabila Nabi Muhammad mengetahui kemajuan tehnologi dan keharmonisan kehidupan bermasyarakat dan bernegara di China pada jamannya.
Sehingga pada saat beliau menjadi pemimpin Islam, beliau memerintahkan dan memberi petunjuk kepada para pengikutnya untuk belajar ke negeri China. Petunjuk Nabi tersebut terlaksana saat empat pengikut dan sahabat terdekatnya yaitu Ibnu Said bin Wakkas (594-674 Masehi), Ibnu Ja’far bin Abu Talib, Jashih bin Riyab dan satu orang lagi yang tidak tercatat namanya berlayar ke China. Pada tahun 615-616 Masehi, keempat sahabat nabi mulai berlayar dari wilayah kerajaan Aksum (Afrika Timur hingga Saudi Arabia Selatan). Mereka tiba di China tahun 616 Masehi dan kembali ke Arab tahun 617 Masehi. Setelah ketiga kalinya berlayar kembali ke China, akhirnya Ibnu Said Bin Wakkas menetap di China dan menjadi pembawa Islam secara resmi pada saat dinasti Tang di bawah kekaisaran Gaozong tahun 651 M. Dua puluh tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, Islam akhirnya tiba di China. Said Ibnu Abu Wakkas merupakan delegasi resmi yang dikirim oleh Khalifah Rashid yang ketiga dan menjadi duta resmi Khalifah Rashid di China.
Beberapa alasan mengapa Said Ibnu Abu Wakkas dikirim sebagai pemimpin delegasi:
- Beliau merupakan salah satu dari 10 sahabat yang dijanjikan surga oleh Allah SWT karena jasanya membela awal penyebaran Islam.
- Beliau termasuk sahabat yang masuk Islam sejak awal.
- Beliau adalah paman Nabi Muhammad SAW dari pihak ibu dan juga keponakan.
Selanjutnya kita akan membahas sunah Nabi yang memerintahkan pengikutnya untuk mencari ilmu ke China di bidang Spiritual. Keharmonisan dan kesejahteraan kehidupan rakyat di China pada jaman Nabilah yang membuat Nabi Muhammad SAW menganjurkan pengikutnya untuk belajar ke sana. Situasi kerajaan yang damai dan perekonomian yang makmur merupakan wujud nyata pengamalan ajaran agama Kong Hu Cu, Tao, dan Bhuda yang membentuk karakter bangsa China.
Agama Kong Hu Cu
Agama Kong Hu Cu merupakan salah satu tonggak pembangun karakter bangsa China. Ajaran utamanya adalah: Keharmonisan dan Keteraturan dalam bernegara dan bermasyarakat yang dicapai melalui pelaku pemerintahan dan anggota masyarakat yang bertindak sebagai “manusia sempurna”.
- Manusia Sempurna: Manusia yang mampu memahami tanggung jawab pribadi sebagai pelaku dalam bermasyarakat, bernegara, dan berbangsa. Dicapai melalui pengembangan diri di bidang moral dan menjadikan diri sendiri sebagai contoh pelaku kebajikan.
- Etika Kebajikan: Etika yang mementingkan perbuatan kebajikan di atas segala norma sosial yang ada. Perbuatan kebajikan adalah perbuatan yang manfaatnya berguna bagi orang di sekitarnya serta bangsa dan negara.
- Pokok Ajaran Moral: Mengabdi kepada orang tua, berlaku jujur, murah hati, selalu berusaha melakukan kebajikan, kasih sayang terhadap sesama, dan tidak menggangu orang lain dalam bentuk apapun. Menimba ilmu pengetahuan sangat penting untuk menjadi dasar kemampuan bertindak bijaksana, adil, dan benar.
Untuk mencapai keharmonisan dalam bernegara dan bermasyarakat ada dua tiang utama:
- Pemerintah: Pelaku negara yang bekerja semata-mata demi kesejahteraan rakyat sebagai tindak kebajikan yang bernilai tinggi.
- Rakyat: Rakyat yang menyadari tanggung jawab pribadi untuk tidak melanggar hukum dan norma sosial. Kepatuhan kepada hukum adalah wujud peran aktif dalam menciptakan kedamaian.
Penerapan ajaran etika kebajikan dalam kehidupan sehari-hari:
- Pertama: Membela Kebenaran. Membela kebenaran berarti menegakkan keadilan. Tanpa keadilan, tata tertib dan keharmonisan akan terganggu karena hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggara negara.
- Kedua: Berlaku Jujur. Kejujuran akan memupuk keharmonisan dan meningkatkan kesejahteraan bersama karena adanya rasa saling percaya dan hormat.
- Ketiga: Berbuat Kebajikan. Dibagi menjadi beberapa pokok:
- Dalam Keluarga: Pengabdian tulus dan penghormatan tanpa batas kepada orang tua dan Guru. Termasuk merawat dan membantu kesulitan orang tua dengan kasih sayang.
- Upacara Adat/Agama: Melaksanakan upacara (menghormati leluhur, musim semi/gugur, tahun baru, kelahiran, pernikahan, penguburan) secara konsisten untuk menjaga keharmonisan alam, manusia, dan kebersamaan.
Tata Cara Kehidupan: Penuh sopan santun sesuai kedudukan, usia, dan hubungan kekerabatan. Menunjukkan penghormatan tinggi kepada orang tua, orang yang dituakan, Guru, dan atasan.
Kesimpulannya, pemilihan negeri China oleh Nabi Muhammad didasari bahwa pada saat beliau masih hidup, kekaisaran Tang merupakan negara yang adil, makmur, sejahtera, dan mempunyai toleransi tinggi terhadap orang asing. Dinasti Tang menunjukkan tatanan negara ideal yang pantas dicontoh oleh para pengikut Nabi. Melihat kemajuan tehnologi dan posisi China di era Global saat ini, sunnah nabi untuk belajar ke negeri China masih berlaku dan sangat kompeten. Pembelajaran moralnya tetap relevan karena bangsa China adalah satu-satunya bangsa yang tidak pernah menjajah bangsa lain sebagaimana bangsa Eropa, dan mampu bertahan sebagai kesatuan utuh negara berdaulat sejak jaman kuno hingga era digital saat ini.
Kesimpulan akhir menunjukkan bahwa Sunnah Nabi sepenuhnya mengandung kebenaran karena merupakan petunjuk sakral bagi umat.
S. Kelly-Taylor
London, 12 Februari 2026
– Belajar ke Negeri China, Bagian Kedua
Oleh S. Kelly-Taylor
PERINTAH YANG TERLUPAKAN
“PERGILAH KE CHINA PELAJARI TENTANG BUDAYA, KEPERCAYAAN DAN KEHIDUPAN MEREKA” – Nabi Muhammad SAW, Nabi agama Islam. (570-632 M)
Dahulu kala, ada perintah dari Nabi Muhammad SAW, yang berbunyi: “Pergilah ke China, dan carilah pengetahuan di China. Belajarlah dari orang China dan pelajarilah tentang kehidupan mereka.” Namun tak seorang pun mendengarkan kecuali beberapa orang. 14 abad telah berlalu sejak sunnah diberikan, sepertinya sudah terlupakan. Hanya sedikit yang mendengarkan kata-kata Nabi yang sangat mereka cintai, saat ini, kata-kata Nabi itu sepertinya diabaikan.
Sebagian orang mencoba menafsirkan sesuai dengan kebutuhan mereka sendiri: mengecilkan arti perintah nabi, seakan tidak berarti. Sebagian orang mencoba menyesatkan, “tidak ada kata-kata seperti itu yang keluar dari nabi,” kata mereka. Sebagian orang sengaja menciptakan kebingungan di antara orang-orang beriman, memberikan penjelasan dengan kata-kata yang bertele-tele, menyamar sebagai intelektual dan akademisi serta pemikir.
Wahai orang beriman, bacalah dan bacalah dan bacalah, carilah ilmu ke China dan belajarlah tentang bangsa China. Carilah pengetahuan sebanyak-banyaknya dari mereka. Kata-kata Nabi adalah sakral dan penuh petunjuk kebenaran. Tak pernah terlambat untuk mendengarkan dan mentaati.
Pergilah ke China dan carilah pengetahuan tentang Bangsa China. Pergilah ke China dan pelajari tentang keindahan alam mereka dan kemegahan bangunan mereka. Semoga engkau menjadi seseorang yang mampu bersyukur dan mengagumi Sang Yang Penciptanya yang Maha Agung dan Maha Berpengetahuan, Tuhan Maha Perencana dan Pencipta tujuh tingkatan langit surga dan alam semesta dalam kesempurnaan.
Pergilah ke China dan pelajari budaya serta masyarakat mereka. Semoga engkau menjadi ahli dalam menghargai semua keindahan dan keberagaman ciptaan Tuhan. Pergilah ke China dan pelajari tentang legenda besar mereka, peristiwa dan tokoh bersejarah, musik mereka, puisi mereka, dan lukisan mereka. Semoga hatimu menjadi lembut dan terbangun dalam nirvana rasa dan menjadi ahli seni pemberi keindahan dan kasih sayang kepada semua.
Pergilah ke China dan pelajari bahasa mereka. Semoga engkau menjadi seorang pembicara tentang keindahan cinta. Pergilah ke China dan pelajari tentang huruf-huruf mereka. Semoga engkau menjadi ahli dalam menguraikan simbol dan tanda rahasia cinta.
Pergilah ke China dan pelajari tentang masakan mereka. Semoga engkau menjadi ahli bersyukur atas segala hasil panen dari bumi, pohon, ladang, hutan, dan gunung-gunung, ikan dari laut sungai dan danau, obat-obatan dari lembah dan padang rumput, tambang minyak dan mineral dan padang pasir. Semua berharga dan dirawat dengan cinta. Setiap butir, setiap tetes cairan adalah nutrisi kehidupan. Setiap butir setiap tetes cairan adalah jerih payah cinta.
Pergilah ke China dan belajarlah tentang tata krama dan sopan santun mereka. Semoga engkau menjadi ahli tata krama, di antara saudara kandung, di antara teman dan keluarga, rekan kerja dan tetangga, kekasih dan orang tercinta.
Pergilah ke China dan belajarlah tentang “pengetahuan umum mereka”. Semoga engkau menjadi ahli pemikir disegala bidang, belajar tanpa henti hingga mencapai tujuan dalam memecahkan masalah dan menaklukkan semua ilmu pengetahuan di dunia.
Pergilah ke China dan pelajari tentang ketahanan hidup mereka dalam keprihatinan. Semoga kamu menjadi ahli sabar saat menerima cobaan. Pergilah ke China dan belajarlah tentang tata negara mereka. Semoga engkau menjadi ahli diplomasi ketika berbagi kemakmuran dan saling menghormati kedaulatan adalah kunci perdamaian dan persahabatan antar negara di dunia.
Pergilah ke China dan belajarlah tentang perekonomian mereka. Semoga engkau menjadi ahli strategi ekonomi ketika keahlian perdagangan, pengorbanan, kehati-hatian dan ketekunan serta kerja keras dipertahankan tanpa lelah dan dengan cinta.
Pergilah ke China dan pelajari etos kehidupan bernegara mereka. Semoga engkau menjadi ahli dalam keadilan dan rasa hormat kepada semua bangsa dan semua ciptaan Tuhan. Pergilah ke China dan pelajari keyakinan pemikiran mereka. Semoga engkau menjadi rendah hati di hadapan Tuhan dan menjadi ahli dalam pengabdian.
Pergilah ke China dan pelajari tentang kepatuhan ibadah mereka kepada guru dan orang tua serta pemimpin. Semoga engkau menjadi hamba yang iklas berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Pergilah ke China, dan pelajari tentang rasa hormat dan penghormatan mereka kepada leluhur mereka. Semoga engkau menjadi ahli dzikir, mengingat Sang Yang Kekasih, Gusti Yang Maha Hidup Kekal Abadi.
Pergilah ke China dan pelajari tentang kehidupan spiritualitas mereka. Semoga engkau menjadi ahli pengetahuan tentang alam gaib dan tujuh alam semesta beserta tujuh tingkat kerajaan langit dalam keheningan.
Pergilah ke China dan pelajari tentang kepercayaan mereka. Semoga engkau menjadi ahli dalam menerapkan sifat-sifat kemanusiaan yang terbaik. Pergilah ke China dan belajarlah tentang bagaimana cara berserah diri kepada Cinta. Pergilah ke China dan belajarlah tentang bagaimana caranya mengabdi kepada Kebenaran Sejati. Semoga engkau menjadi kekasih sejati yang memberimu persatuan abadi dengan Sang Yang Kekasih Yang Maha Sakral dan Maha Tunggal.
S. Kelly-Taylor
London, 21 Januari 2026
Jurnal Etika Spiritual edisi Maret 2026 – Pembelajaran Etika Spiritual
– Upacara Ritual Inisiasi dalam Tarekat Tasawuf
Oleh Terry Graham
(Terjemahan asli dari bahasa Perancis)
Istilah ‘ordo’, sebagaimana digunakan dalam dunia Kristen, mengungkapkan suatu bentuk asosiasi yang memiliki karakter religius yang harus ditentukan oleh kata-kata setelahnya, yang menetapkan hubungannya dengan pribadi yang terhubung secara ilahi, orang suci, atau dengan praktik tertentu. Istilah ini sendiri menyiratkan perspektif non-transendental dan murni organisasional.
Perjalanan ini penuh risiko dan hanya dapat dilakukan di bawah bimbingan seorang pembimbing spiritual, seorang mursyid. Mursyid bertanggung jawab untuk menerima atau menolak calon yang akan melakukan perjalanan. Jika guru menerima seseorang, maka dialah yang menentukan syarat-syarat penerimaan dan akhirnya, menyampaikan kepada calon tersebut sarana rahmat yang memungkinkan perjalanannya efektif. Saya akan kembali membahas masalah penilaian guru terhadap kualifikasi calon, tetapi pertama-tama saya akan mengkaji bentuk-bentuk ritual yang sesuai dengan syarat-syarat penerimaan dan sarana penyampaian rahmat dalam inisiasi.
Bentuk-bentuknya, dengan variasinya yang banyak sekali, dapat disederhanakan menjadi tiga macam, yang dapat dan sering digabungkan, khususnya dua yang pertama. Bentuk-bentuk tersebut terdiri atas ikrar (‘ahe bay’a, mubāya’a); penanaman dzikir atau rumusan permohonan (talqin a dzikir); dan penobatan dengan jubah initatik (lubs al-khirqa).
Ikrar dan ijab kabul dianggap telah ditetapkan oleh Nabi dan didukung oleh otoritas kitab suci. Di sisi lain, penobatan dengan jubah (khirqa), khususnya seperti yang dipraktikkan di Timur Islam, -meskipun ada upaya untuk menemukan preseden dalam kehidupan Nabi.
Ikrar merupakan ritus inisiasi yang paling fundamental dan memiliki konfirmasi kitab suci yang paling kuat, karena ia bertumpu pada pakta metahistoris antara Tuhan dan manusia yang sudah ada sejak keturunan Adam (QS. Al-A’raf: 172) dan pakta historis antara Nabi dan orang-orang beriman di Hudaibiyya (QS. Al-Kahfi: 10 & 18). Tiga kata yang digunakan dalam Al-Quran untuk mengungkapkan gagasan perjanjian berasal dari akar kata bahasa Arab ‘-h-d, ‘-q-d dan w-th-4, yang memiliki makna dasar yang sama, yakni ‘menghubungkan’ atau ‘at-ach’.
Namun, istilah yang lazim digunakan dalam kosakata ‘perintah’ (turuq), bay’a (atau bentuk turunannya mubāya’a) sangat menarik karena, secara etimologis, tak terpisahkan dari bentuk konkret yang dalam praktiknya memperkuat janji awal, yaitu pengalaman kontak tangan-ke-tangan. Akar bahasa Arab yang menjadi asal kata bay’a memiliki dua bentuk: satu, b-w-’, mengandung konotasi ‘mengulurkan tangan’, ‘merentangkan lengan’; dan yang lainnya, b-y-’, yang dalam bentuk verbal bā’a, yabi’u, memberikan makna luas ‘mengikat kontrak’.
Dengan demikian, istilah ini menunjukkan tindakan di mana seseorang menyegel pakta, mengikrarkan komitmen, dengan jelas merujuk pada gestur yang menandai-dan masih menandai-dalam bahasa Semit.
SUFI
bagian dari sang guru, sebuah tindakan penerimaan (sesuai dengan tindakan penyerahan diri di pihak murid): ini juga merupakan tindakan transmisi. Sang guru memberikan kepada murid, ex opere operato, infus rahmat (baraka, madad) yang menghidupkan kehidupan spiritualnya, memberinya kapasitas untuk melintasi tahapan-tahapan Jalan.
Transmisi rahmat lebih menonjol dalam talqin al-dzikir, yang, pada saat yang sama, hampir selalu dikaitkan dengan pakta tangan kosong. Sha’rānī (abad ke-16), mengutip salah satu gurunya sendiri, menggambarkan ritual di mana sang guru memberikan hak kepada inisiat untuk mempraktikkan penyebutan salah satu Nama Ilahi (Shaʻrānī 1962, hlm. 40) sebagai ‘inseminasi’. Dengan demikian, murid menerima kemungkinan untuk ‘menyadari’ Nama Ilahi ini, untuk mengidentifikasi dirinya dengannya.
Hal ini dapat memberikan efek langsung pada individu-individu luar biasa, sementara benih-benih potensi efektivitas ditaburkan pada orang lain.
Ada sebuah catatan sangat rinci yang ditinggalkan oleh seorang Sufi Mesir abad ke-18, Ahmad al-’Adawi al-Dardir (w. 1786), yang menggambarkan bagi kita, dari sudut pandang penerimanya, sebuah inisiasi jenis ini. Proses ini berlangsung dalam serangkaian tahap yang disusun sesuai dengan skema tujuh kali lipat.
Selalu dikaitkan dengan pakta tangan kosong. Sharani (abad ke-16), mengutip salah satu gurunya sendiri, menggambarkan ritual ‘Inseminasi’ sebagai ritual di mana guru memberikan hak kepada inisiat untuk mempraktikkan penyebutan salah satu Nama Ilahi (Sha’räni 1962, hlm. 40). Dengan demikian, murid menerima kemungkinan untuk ‘menyadari Nama Ilahi ini, mengidentifikasi diri dengannya’. Hal ini dapat berdampak langsung pada individu-individu luar biasa, sementara benih-benih potensi efektivitas ditaburkan pada orang lain.
Ada catatan yang sangat rinci yang ditinggalkan oleh seorang Sufi Mesir abad ke-18, Ahmad al-’Adawi al-Dardir (w. 1786), yang menggambarkan bagi kita, dari sudut pandang penerimanya, sebuah inisiasi jenis ini. la berlangsung dalam serangkaian tahap yang disusun menurut skema tujuh lapis yang umum ditemukan.2 Ahmad al-Dardir bertemu dengan orang yang akan menjadi gurunya, Syekh al-Hifni (atau Hifnawi) pada bulan Muharram 1160 (Januari 1747). Setelah akad tangan kosong (di sini disebut musafaha), al-Hifni menyampaikan bagian pertama syahadat: La ilaha illa Llāh, kepadanya sebagai rumus doa.
“Sejak saat itu,” al-Dardir bercerita, “berkat barakahnya, aku terjauhkan dari pikiran-pikiran tercela yang begitu melimpah dalam diriku, mendorongku untuk mencintai dunia yang rendah ini.” la menambahkan bahwa “doa ini membakar tubuhku dan melahap dagingku hingga tak tersisa kulit di tulangku.” Enam bulan kemudian, Nama Allah dikomunikasikan “ke telinga kananku.” Sang guru mengucapkan Nama ini dengan begitu bersemangat sehingga muridnya jatuh pingsan.
Pada tahun 1163, dua tahun setelahnya, serelah pertemuan pertamanya, Ahmed al-Dadir menerima suara di telingga kanannya nama “ HAWA”, “ HE” yang menyebabkan dia menjadi rendah hati dihadapan Tuhan dan menimbulkan perasaan sedih dalam hatinya.
Kesedihan dan kerendahan hati dalam dirinya terus menerus hingga mendengar lagi suara. Tiga bulan kemudian, Nama al-Haqq (‘Kebenaran’), kemudian, pada Rajab 1164, Nama al-Hayy (‘Yang Hidup’), dan pada bulan Syawal tahun yang sama, Nama al-Qayyum (‘Yang Mandiri’), diberikan kepadanya. Nama terakhir tersebut memberikan daya tarik yang sangat kuat (jadhba) padanya, sebuah ‘tarikan ekstatis’ batin yang, meskipun demikian, tidak memengaruhi perilaku lahiriahnya.
Akhirnya, pada bulan Ramadan 1165 (Juli/Agustus 1752), Nama al-Qahhar (‘Yang Maha Menang’), yang dipancarkan ke telinga kiri, membangun kondisi ketenangan dalam dirinya. Proses ini, dengan demikian, berlangsung selama lebih dari lima tahun. Bahkan saat itu pun, pelatihan mistiknya masih belum selesai. Baru pada tanggal 21 November 1758, dua belas tahun setelah pertemuan pertama mereka, al-Hifni memberikan ijāza (lisensi) kepada Ahmad al-Dardir, tanpa diminta, yang memberinya wewenang untuk menginisiasi para calon dengan haknya sendiri (Dardir 1964).
Dua ritual sebelumnya menarik tidak lebih dari keberadaan manusia itu sendiri saat dilahirkan di dunia dan akan dilahirkan kembali pada saat Hari Kiamat. Penobatan dengan d. Khirqa yang mengharuskan penggunaan suatu alat merupakan bentuk ritual yang kurang ‘primordial’ dibandingkan dua ritual sebelumnya.
Adam awalnya telanjang; baru setelah ‘dosanya’ ia menutupi dirinya “dengan daun-daun Surga” (min waraq al-janna). Lubs al-khirga merupakan suatu cara inisiasi, tetapi seringkali juga tampak sebagai pelengkap inisiasi, seperti ritual yang dirancang untuk mentransmisikan peningkatan rahmat kepada seorang murid yang telah diinisiasi.
Fungsi tambahan inilah yang dimaksud Ibn ‘Arabi ketika ia menulis tentang kedatangannya di Timur Islam dan menemukan praktik yang belum dilakukan di Maghrib. la menjelaskan bahwa ketika seorang guru ingin membimbing seorang murid menuju kesempurnaan dengan mengomunikasikan kondisi spiritualnya sendiri (ahwal), ia melepas pakaian yang dikenakannya saat mengalami kondisi tersebut dan mengenakannya kepada muridnya, yang kemudian menerima rahmat yang dianugerahkan olehnya (Ibn ‘Arabi 911, hlm. 185-187).
Kita hampir tidak perlu menjelaskan analogi antara fenomena ini dan situasi yang diketahui oleh para penulis Muslim (Tha’labi 1951, hlm. 154), di mana Elisa mengenakan jubah Elia dan ‘putra-putra para nabi’ dari Yerikho menyatakan, “Roh Elia hinggap pada Elisa” (2 Raja-raja 2:13-15). Sebagaimana ditunjukkan oleh pengalaman Ibn ‘Arabi sendiri, di mana ia menceritakan bagaimana ia ditahbiskan sebagai khirga di Mosul, kata ‘khirqa’ memiliki konotasi yang sangat luas. Awalnya, kata ini diterapkan pada jubah tambal sulam para Sufi. Namun, dalam banyak kasus, transmisi spiritual dilakukan melalui pemberian topi katun sederhana, seperti yang terjadi pada Ibn ‘Arabi (Ibn ‘Arabi 1971, hlm. 157, Catatan 69), atau kain atau benda lain, seperti tongkat atau ikat pinggang.
(Tbn Arabi 1971, hlm, 157, Catatan (69) atau kain dari benda lain, suele adalah tongkat atau ikat pinggang.
Bagi ‘Uittne Suhrawardi (w. 1234) karya Shihab al-Din Abu Har, sebagai seorang kontemporer, ‘Awarif al-ma’arif adalah prototipe rary Teh Arabi dan yang perintahnya, penobatan dengan Khiriqa adalah aturan sebagian besar Sufl berikutnya, benar-benar sebuah inisiasi dalam arti yang sebenarnya. “Mengenakan khirga,” sebagaimana ia jelaskan, “membangun hubungan antara guru dan murid, yang terakhir menempatkan dirinya di bawah otoritas gurunya…. Ini berfungsi untuk menunjukkan bahwa murid telah menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada gurunya (tafwid), telah tunduk kepadanya (taslim), bahwa ia telah masuk ke dalam ketaatan kepada gurunya, Tuhan dan kepada Rasul-Nya, mengaktualisasikan kebiasaan (sunah) baiat. (mubāya’a) kepada Nabi. Khirga adalah ambang pintu yang melaluinya seseorang masuk ke dalam kelompok (suhba) guru spiritual” (Suhrawardi d., V, hal. 78).
Suhrawardi kemudian memperkenalkan perbedaan yang sama validnya dengan bentuk-bentuk hubungan inisiat lainnya. la menjelaskan bahwa ada dua jenis khirga: khirqat al-irada, yang melibatkan inisiasi penuh, yang mengharuskan kepatuhan penuh murid kepada disiplin yang ditentukan oleh sang guru, dan khirqat al-tabarruk, sekadar berkah yang diberikan kepada mereka yang merasa belum siap untuk menjalani asketisme penuh ini namun tetap ingin menempatkan diri di bawah perlindungan sang guru dan țarīga-nya. Yang terakhir datang untuk membentuk lingkaran luar dan, dalam arti tertentu, merupakan apa yang bisa disebut ‘tersier’ dengan analogi anggota ordo ketiga dalam tradisi Kristen.
Bagaimanapun, dalam hal khirqat al-irāda, ritual yang terlibat berfungsi, seperti bay’ah dan talqin, untuk mewariskan kepada murid suatu gudang rahmat yang, sebagaimana diungkapkan oleh seorang penulis abad ke-17 yang mendukung sebuah praktik yang klaimnya dilembagakan oleh Nabi sangat diperdebatkan, “menyebar dalam dirinya seperti anggur yang menyebar ke seluruh tubuh” (Qushāshi 1909, hlm. 95).
Sebagai mata rantai terakhir dalam rantai inisiasi (silsilah) yang kembali dari guru ke guru kepada Nabi dan melalui beliau kepada Tuhan, guru dipandang memiliki kekuatan ganda yang agak analog dengan yang terdapat dalam suksesi apostolik Kristen: kekuatan ‘perintah’ dan ‘yurisdiksi’. Dengan bergabung dengan garis spiritual gurunya, sang murid dengan demikian dibantu secara supranatural dalam upayanya mencapai kesempurnaan. Sha’rānī berkata:
Penerimanya menjadi seperti salah satu mata rantai dalam rantai besi. Ketika ia bergerak karena alasan apa pun, sisa rantai ikut bergerak bersamanya, karena setiap wali [dalam silsilah] yang berdiri di antara beliau dan Nabi bagaikan mata rantai dalam rantai ini. Berbeda halnya dengan seseorang yang belum menerima zikir (yaitu, rumus doa) melalui transmisi yang teratur. Status orang tersebut, pada dasarnya, adalah mata rantai yang terisolasi. Ketika sesuatu datang untuk menggoyahkannya, tidak ada mata rantai lain yang ikut menggoyahkannya, karena ia terpisah dari mata rantai lainnya. (Sha’rānī 1962, hlm. 40 dst.)
Untuk menerima inisiasi, tidak cukup hanya memintanya, setidaknya secara prinsip. Merujuk pada praktik yang sudah mapan, Hujwiri pada abad ke-11 menganggap bahwa masa percobaan tiga tahun harus menjadi prasyarat (Hujwīrī 1936, hlm. 54). Meskipun beberapa teks membayangkan periode yang tepat dan cukup panjang, kebijaksanaan sang guru dalam hal ini bersifat mutlak. Yang penting adalah, baik melalui ilham tertentu maupun melalui penggunaan metode tertentu, dengan teknik-teknik tersebut, sang guru memahami kualifikasi yang dibutuhkan dalam diri masing-masing calon.
Sebuah risalah singkat Suriah dari akhir abad ke-19, yang ditulis oleh seorang Sufi Naqsybandi (Khani 1895, hlm. 10 dst.), menyoroti instruksi yang diberikan mengenai hal ini yang dapat ditemukan dalam banyak karya sebelumnya, khususnya, bahwa seseorang tidak boleh terburu-buru mengajak calon yang mengajukan diri untuk mengikuti sebuah silsilah, melainkan menunggu tanda izin Ilahi (idhn).
Sebuah ritual khusus, yaitu istikhara, dibayangkan sebagai sarana untuk memunculkan tanda tersebut, di mana calon tersebut melakukan salat dua rakaat, membaca litani permohonan maaf (istighfar), kemudian membaca ‘shalawat Nabi’, dan mempersembahkan pahala atas amal saleh ini kepada sang guru tarekat. la kemudian harus tidur, sebaiknya sendirian, dan menceritakan mimpinya kepada sang guru keesokan paginya. Penafsiran mimpi inilah yang akan mengungkapkan apakah syarat-syarat inisiasi telah terpenuhi. Jika guru tidak menemukan petunjuk yang jelas dalam mimpi, ia dapat memberhentikan kandidat atau memintanya untuk mengulangi prosedur inisiasi.
Tindakan pencegahan ini, atau tindakan pencegahan serupa lainnya, sering disebutkan dalam literatur Sufi. Tindakan pencegahan ini, seringkali, tidak dipatuhi. Kepentingan untuk meningkatkan keanggotaan, dalam memberikan bukti nyata keunggulan suatu tarekat atas para pesaingnya, sering kali mengarah pada kelonggaran tertentu dalam bidang ini, yang dikecam dengan sia-sia oleh para guru yang lebih ketat. Perbedaan bijaksana yang dibuat oleh risalah-risalah antara inisiasi sejati (li l-irāda) dan rekrutmen (li l-tabarruk) yang tidak memaksakan kewajiban yang sama atau menghasilkan hasil yang sama jarang dipertahankan dengan kejelasan penuh, sehingga ‘inti keras’ tarekat berisiko menjadi sangat terdilusi.
Jika penerimaan seorang murid baru tunduk pada syarat-syarat yang pada prinsipnya mencegah inisiasi sembarang orang, tentu saja bahwa kenaikan ke ‘kepemimpinan’ harus mengikuti aturan-aturan yang bahkan lebih ketat. Kita telah melihat bagaimana, dalam kasus Ahmad al-Dardir, periode pelatihannya berlangsung selama dua belas tahun.
Sebuah contoh yang luar biasa. Banyaknya contoh lain menunjukkan bahwa periode ini, jika ada, relatif singkat.
Pencapaian status guru spiritual-dan, dengan demikian, kekuatan untuk berinisiatif-harus (pada prinsipnya) memenuhi dua syarat. Syarat pertama berkaitan dengan kesempurnaan batin yang telah dicapai calon guru melalui pelatihannya (tarbiyya), yang telah ia terima dari gurunya sendiri. Terserah kepada yang terakhir, dan hanya kepada dirinya sendiri, untuk menilai apakah murid tersebut memiliki kualitas-kualitas yang dibutuhkan. Keteguhan moral, ketaatan yang ketat terhadap hukum suci, pelepasan keduniawian, ‘kepahlawanan dalam kebajikan’, semuanya diperlukan tetapi tidak cukup. Menurut Ahmad al-Tijānī (w. 1845), pendiri tarekat yang menyandang namanya, agar seseorang memenuhi syarat untuk membimbing orang lain, seseorang harus “mengalami terangkatnya semua tabir yang menghalangi penglihatan sempurna akan kehadiran Ilahi” (Harizim 1963, I, hlm. 160).
Amir ‘Abd al-Qadir, seorang guru terkemuka dalam Jalan, menyatakan bahwa seseorang harus, lebih lanjut, memiliki kesadaran yang mendalam tentang “kekurangan-kekurangan yang menjadi hambatan dan penyakit-penyakit yang menghalangi pencapaian makrifat [yang melibatkan] ilmu yang teruji oleh praktik terapeutik, [termasuk keakraban dengan] watak-watak temperamental dan pengobatan yang tepat untuk mereka.” Amir ‘Abd al-Qadir melanjutkan dengan mengatakan bahwa, ketika “inspirasi-inspirasi supranatural dan kilatan teofani [muncul, seseorang harus] menjelaskan kepada murid apa, dalam menghadapi semua ini, yang harus diterima atau ditolak, apa yang benar dan apa yang rusak” (Jazā’irī 1967, Bab 197, hlm. 430-431).
Semua ini membawa kita kembali pada poin bahwa idealnya, kemahiran harus sejalan dengan kesucian, yaitu kesucian mistis. Dengan demikian, hanya ketika ia mengamati semua tanda dalam diri muridnya, sang guru memutuskan bahwa waktu untuk ‘menyapih’ (fitam) telah tiba. Penggunaan istilah ini secara luas mendorong kita untuk mencatat bahwa istilah ini sebenarnya mengungkapkan gagasan bahwa sang guru bukan hanya figur ‘ayah’ tetapi juga memiliki fungsi ‘keibuan’.
Syarat kedua untuk kemahiran adalah syarat formal: apa yang disebut ijazah (‘lisensi’ atau ‘izin’). sion’), yang merupakan tanda nyata penerimaan Ilahi. Hal ini dapat dilakukan secara lisan (umumnya, meskipun tidak selalu, di hadapan para saksi) atau dilambangkan dengan pemberian suatu benda, seperti sorban, sepasang sandal, atau sajadah, tetapi biasanya dikonfirmasi dengan pemberian dokumen tertulis (khilafat-nāma dalam terminologi Sufi Persia) yang dengannya sang guru, setelah menetapkan legitimasinya sendiri dengan mengutip silsilahnya, menganugerahkan kekuasaan yang kurang lebih luas kepada penerimanya.
Spesifikasinya mungkin bersifat spasial (menunjukkan kota atau wilayah yurisdiksi tertentu) atau mungkin berkaitan dengan hakikat wewenang yang diberikan (menentukan cara pemanggilan atau disiplin inisiasi tertentu). Namun, ketika ‘penyapihan’ telah tuntas, yaitu ketika murid telah dinilai mampu memiliki otonomi penuh, ijazah menjadi tak terbatas, dan penerima mewarisi seluruh apa yang diterima gurunya dari guru sebelumnya.
Bisa saja penerima tidak ingin memanfaatkan wewenang yang telah diberikan kepadanya. Menurut salah satu penulis biografinya, penyair mistik besar Jāmī tidak pernah menganugerahkan zikir kepada siapa pun, dengan menyatakan, “Aku tidak sanggup menanggung beban kemahiran” (Ibn Wāʻiz al-Kāshifi 1977, I, hlm. 249-250).
Ijazah bukanlah sebuah ritual. Ijazah hanyalah sebuah pengesahan, atas legitimasi ‘yuridis’ seorang syekh baru. Namun, sebagaimana telah saya tunjukkan, ijazah menjamin keabsahan ritual inisiasi bagi murid yang berkomitmen untuk taat kepada pemegangnya.
Lebih lanjut, perlu ditegaskan bahwa institusi ijazah sama sekali tidak eksklusif bagi Sufisme. Ijazah sangat kuno dan terkait dengan karakter lisan fundamental peradaban Arab-Islam. Persamaannya adalah dengan ijazah akademis dalam ilmu-ilmu Islam tradisional, yang tanpanya seseorang tidak berwenang untuk mengajarkan suatu subjek tertentu- baik itu tata bahasa, astronomi, tafsir Al-Qur’an, maupun yurisprudensi. Sertifikasi ini merupakan bukti bahwa seseorang telah terlatih dengan baik, bukan sekadar mendapatkan keuntungan dari pemahaman yang semata-mata berdasarkan bacaan pribadinya3 (Vajda, edisi ke-2).
Suyūśi (wafat 1505) dikritik keras oleh beberapa orang sezamannya karena mengaku mengajarkan ilmu pengetahuan, yang sebagian pengetahuannya ia peroleh hanya dari buku-buku (Sartain 1975, I, hlm. 74).
Namun, seperti inisiasi, ijazah, dalam pengertian Sufi sejati, tidak selalu diberikan dengan cara yang paling ketat. Ijazah dapat diberikan kepada orang-orang yang ingin dibantu, atau bahkan kepada anak-anak. Kasus ekstremnya adalah otorisasi carte blanche, di mana seseorang hanya perlu mengisi namanya untuk menunjukkan kewibawaan yang semu. Saya memiliki satu ijazah semacam itu, tertanggal 1390 . (1970-71), yang dikeluarkan oleh seorang syekh Qadiriyyah.
Sekitar satu dekade yang lalu, seorang syekh Naqsybandi Irak, dalam perjalanannya ke Paris, memberikan seorang pemuda Tunisia yang telah mengenalnya selama tiga hari sebuah sertifikat semacam ini, yang mengangkatnya sebagai khalifah (wakil) dan memberinya wewenang untuk memprakarsai dan mengajar para calon imam dalam metode-metode spiritual tarekat, yang diuraikan pada beberapa lembar ketikan. Agak terkejut dengan promosi mendadak ini, pemuda Tunisia ini bertanya kepada saya apa yang harus ia lakukan dengan penobatan yang tidak diminta ini. Saya mendesaknya untuk tidak melakukan apa pun dengannya, dan saya yakin ia mengikuti saran saya.
Kita bahkan menemukan kasus-kasus yang lebih luar biasa, meskipun, terlepas dari penampilannya, kasus-kasus tersebut termasuk dalam kategori yang sangat berbeda dari yang baru saja disebutkan. Pada tahun 1695, ‘Abd al-Ghani al-Nabulusi, seorang Sufis dari periode Ottoman, mengeluarkan fatwa sebagai jawaban atas pertanyaan yang telah diajukan sejak zaman Nabi di Madinah, kali ini oleh seorang pria di Timbuktu, di mana ia mengakui keabsahan ijazah yang dikabulkan dalam mimpi (Nābulusī, MS. Zahir-iyya 9119, ff. 7-13).
Dengan demikian, pintu tampaknya terbuka bagi klaim-klaim yang paling fantastis, dan orang-orang yang membuat klaim semacam itu pantas dikutuk sebagai penipu. Meskipun demikian, Nābulusī tidak sendirian dalam pandangannya, karena fatwa yang dikeluarkannya disahkan oleh tradisi yang panjang, yaitu keabsahan wali Uwaysī, yang berkaitan dengan Uways al-Qarani, yang hidup di zaman Nabi.
yang, meskipun tidak pernah bertemu langsung dengannya, menempatkannya di antara para sahabatnya (al-sahaba) yang dikonfirmasi oleh banyak tradisionalis. Meskipun disangkal oleh yang lain, realitas historis orang ini tetap ada. Meskipun demikian, mayoritas penulis biografi yang tidak pasti memberinya posisi terkemuka.
Menurut para Sufi, hubungan misteriusnya dengan Nabi bukanlah model dan pembenaran bagi afiliasi spiritual yang didasarkan pada kontak fisik, melainkan pada hubungan halus antara murid dan guru yang berada jauh atau sudah meninggal. Ini mungkin tampak aneh, tetapi, bagi mereka yang menganggapnya tidak lebih dari sekadar pengetahuan eksotis, mari kita ingat bahwa, berdasarkan tradisi hagiografi Islam, Santo Paulus akan diklasifikasikan.
Seorang Uwaysi, yang diangkat ke jabatan stelsel “bukan karena manusia, juga bukan oleh” (Gal. 1: 1). la memulai misinya tanpa berkonsultasi dengan siapa pun, tanpa pergi ke Yerusalem kepada mereka yang telah menjadi rasul sebelum [dia]” 1:15-17). Seperti halnya Uwaysi, St. Paulus mengalami sebuah visioner di bawah yang berfungsi sebagai dasar kewenangannya.
Kata ‘mimpi’, yang saya gunakan sehubungan dengan fatwa Nabulusi yang bertentangan, jangan disalahartikan. Mimpi ini bukan berarti mimpi biasa, melainkan pengalaman yang sangat terstruktur yang menjalin kontak antara seorang nabi atau wali. Mimpi ini bisa berupa pengalaman satu kali dan ‘bentuk spiritual’ (rūhaniyya)6 atau bisa juga berulang dalam jangka waktu yang lama. Inisiasi Uwaysi tidak mengecualikan kemungkinan inisiasi konvensional oleh seorang guru yang hadir secara fisik. Situasi gabungan semacam itu memiliki keuntungan dalam mempertahankan norma di mata orang lain.
Jadi, pasangannya Baha’ al-Din Naqsyband memiliki guru fisik, Amir Kulāl, tetapi guru sejatinya, sejauh yang ia ketahui, adalah ‘Abd al-Khaliq Ghuj-for dawānī, yang telah wafat jauh sebelum ia lahir (Khānī 1888, hlm. 9).
Ibn Arabi memiliki banyak guru, namun menurut pengakuannya sendiri, melalui Yesuslah ia “kembali kepada Tuhan” (Addas 1989, hlm. 58-59, terjemahan bahasa Inggris: 1993, hlm. 39-42). Di akhir retret empat puluh hari, Abu l-’Abbas bin ‘Ulwan pada abad ketiga belas membuat pakta inisiasi dengan khalifah Abu Bakar, yang tangannya secara ajaib muncul dari sebuah batu, sementara sebuah suara mengatakan kepadanya bahwa ia telah dilantik sebagai pemimpin (Sharji 1903, hlm. 20). Pada abad keenam belas, Syekh Hasan al-’Iraqi memiliki seorang pemimpin, yaitu Mahdi, imam yang dianggap akan menegakkan keadilan di akhir zaman. la bertemu dengan Mahdi pada petang hari di Damaskus setelah salat magrib di Masjid Umayyah. la kemudian melakukan perjalanan ke Iran, India, Tiongkok, lalu ke barat menuju Maghrib dan akhirnya ke Mesir, tempat ia menetap. Mungkin hal ini terjadi karena, berbeda dengan Uwaysī lainnya, status spiritualnya yang eksentrik tidak cukup sesuai dengan prosedur yang diwajibkan, ‘tiang’ setempat, orang suci yang memiliki yurisdiksi saat ini atas kota tersebut, membuangnya ke pemakaman (Sha’rānī 1954, II, hal. 139).
Pada abad ke-17, Sufi Maroko, ‘Abd al-’Aziz al-Dabbagh, mendirikan tarekat Khadriyya, setelah diinisiasi dan diajar oleh seseorang selain Khidr sendiri, narasumber Musa dalam Al-Qur’an dan orang yang memperoleh keabadian dengan meminum air dari mata air kehidupan (Ibn ubārak 1984, I, hlm. 51-52). Adapun Mad Tijānī pada abad ke-18, meskipun berafiliasi dengan berbagai ila, ia menerima mandatnya langsung dari Nabi Muhammad (rizim 1963, I, hlm. 51).
Contoh Tijani mendorong saya untuk menunjukkan bahwa karena afiliasi ganda ini-Muhammad al-Sanūsi (w. 1849) menghitung tidak kurang dari tiga puluh lima turuq yang terhubung dengannya7-cukup sering seorang syekh yang sama, yang diberi ijazah oleh salah satu gurunya, berhak memberikan sejumlah inisiasi kepada murid-muridnya dan memaksa mereka mempraktikkan berbagai disiplin spiritual. Namun, secara umum, salah satu jalur inisiasi ini cenderung mendominasi, yaitu jalur yang memiliki pengaruh paling kuat pada orang yang bersangkutan.
Legitimasi afiliasi ganda ini, bagaimanapun, masih menjadi bahan diskusi. Dalam hal ini, Sya’rānī mencatat sebuah pepatah yang dikaitkan dengan Bāyazīd.
Bastami: “Orang yang tidak memiliki seorang guru pun adalah seorang musyrik di Jalan (mushrik fi l-tariq)”— istilah Arab ‘mushrik’ yang merujuk pada orang yang menyekutukan Tuhan, seorang musyrik. la kemudian menyatakan, “Sudah diketahui umum bahwa para ulama terdahulu… tidak hanya membatasi diri pada satu syekh, tetapi beberapa di antara mereka bahkan memiliki lebih dari seratus syekh, tetapi ini karena mereka telah disucikan dari kotoran dan kesia-siaan…. Namun, ketika penyakit [spiritual] berlipat ganda, sehingga seseorang harus mencari pengobatan, para syekh terpaksa membatasi diri pada satu guru. Hal ini agar kondisi sang murid tidak terpecah-pecah dan Jalan tersebut tidak terlalu panjang baginya” (Shaʻrānī 1962, I, hlm. 64).
Mengacu pada otoritas seorang Sufi India yang terkenal, Muhammad Ghawth, dalam hal ini, Qushashi berpendapat bahwa dalam kasus baiat ganda, hanya baiat pertama yang sah- posisi yang serupa dengan yang harus diambil umat Muslim ketika dihadapkan pada pilihan antara dua khalifah yang bersaing. Namun, afiliasi berturut-turut ke furuq yang berbeda dapat diterima dalam kasus-kasus force majeure, seperti menjauhnya atau wafatnya syekh sebelumnya (Qushāshi 1909, hlm. 32-33).
Untuk menyelesaikan kontroversi yang berkecamuk di Suriah dalam beberapa tahun terakhir, Muhammad al-Hashimi (wafat 1961), seorang guru Aljazair yang berbasis di Damaskus, telah menulis sebuah risalah singkat yang membenarkan pengabaian sebuah tarekat dan perpindahan ke tarekat lain, tidak hanya dalam kasus-kasus yang dibayangkan oleh Qushāshi, tetapi bahkan ketika waktu telah berlalu tanpa murid tersebut membuat kemajuan di bawah bimbingan syekh aslinya, sehingga ia takut akan kesulitan selama sisa hidupnya. la tetap harus meminta izin kepada syekhnya, meskipun, jika syekh tersebut menolak, ia berhak untuk pergi sendiri dan menyerahkan dirinya kepada seorang syekh yang lebih ia sukai (Hashimi 1964).
Sebaliknya, bagi Ahmad Tijani, 8 masuk ke Tijaniyya merupakan komitmen yang mutlak dan eksklusif, sampai pada titik di mana seorang Sufi Tijani tidak boleh mengunjungi atau sering mengunjungi para guru turuq lain, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal: makam seorang wali non-Tijani terlarang baginya. Secara keseluruhan, dalam ajaran Muslim, dalam komunitas yang sangat homogen (di mana afiliasi dengan tarekat Sufi cenderung ditentukan oleh keluarga atau tradisi lokal), perpindahan dari satu tarekat ke tarekat lain sering kali memicu konflik serius, seperti yang terjadi antara Petrus yang Mulia dan Santo Bernardus mengenai perpindahan seorang kerabat Santo Bernardus dari Cluny ke Clairvaux. Terkadang, lembaga administratif dan yudisial dapat terlibat, seperti ketika pada tahun 1881 Pasal 15 dari surat edaran tentang organisasi tarekat di Mesir melarang penerimaan seorang murid yang sudah tergabung dalam tarekat lain (De Jong 1978, hlm. 197).
Suksesi kepada seorang guru yang telah meninggal dunia juga melibatkan jenis komplikasi lain. Seorang inisiat yang telah diakui oleh gurunya memiliki kualifikasi yang diperlukan dapat diberikan, seperti yang telah saya katakan, sebuah ijazah yang menjadikannya seorang inisiator. Dengan demikian, ia dimampukan untuk melakukan serangkaian pendelegasian wewenang yang cukup luas. Statusnya memungkinkan ia menunjuk orang lain untuk mengisi posisi khalifah (‘wakil’) atau muqaddam (‘pengawas’). Namun, ia jarang menjadi satu-satunya penerima ijazah dalam penerusan seorang pemimpin yang telah meninggal. Dengan demikian, dalam hal suksesi langsung, tidak ada aturan baku yang berlaku untuk semua tarekat atau bahkan secara konsisten dalam satu tarekat.
Namun, untuk semua tujuan praktis, kita dapat mereduksi keragaman kasus menjadi empat cara prototipikal untuk melanggengkan kekhalifahan yang dilakukan oleh Nabi, sebagai cara untuk menunjuk para pemimpin awal masyarakat. Cara-cara tersebut adalah (1) penunjukan langsung oleh petahana melalui kiasan (isyāra), seperti isyarat simbolis, seperti dalam kasus Abu Bakar; (2) penunjukan langsung yang ditunjukkan dengan pernyataan tegas, seperti yang dibuat Abu Bakar mengenai ‘Umar; (3) penunjukan tidak langsung oleh petahana, seperti ketika Khalifah ketiga, ‘Utsman, dipilih oleh dewan rahasia yang anggotanya telah ditunjuk oleh ‘Umar; dan terakhir, (4) pemilihan oleh anggota masyarakat, seperti halnya dengan ‘Ali. Pertanda surgawi, seperti penglihatan wawasan yang identik yang diterima oleh beberapa anggota pada saat yang sama, dapat mengarahkan proses tersebut. Tentu saja, godaan untuk memojokkan fungsi demi keuntungan dinasti keluarga merupakan faktor yang sering mengganggu.
Bagaimanapun pemimpin baru dipilih, jika pilihannya bulat, para pengikut pendahulunya akan memperbarui janji setia kepadanya. Namun, kebulatan suara sangat jarang. Keterlibatan aktif di antara para khalifah, yang bahkan jika murni bermotivasi spiritual, pasti melibatkan pertimbangan gengsi atau kepentingan pribadi, dapat memicu pembentukan partai-partai yang berseberangan; dan tidak jarang mereka berkelahi-bahkan bentrok dengan pisau. Ketika periode pergolakan berakhir, kesatuan tarekat tersebut terbentuk kembali.
Hasil dari konflik semacam itu umumnya berupa ledakan menjadi sejumlah tarekat yang baru merdeka. Untuk mendapatkan gambaran tentang frekuensi fenomena ini, kita hanya perlu membaca lampiran yang dilampirkan J. Spencer Trimingham pada karyanya The Sufi Orders in Islam (1971, hlm. 271-281) dan di dalamnya ia mencantumkan cabang-cabang tarekat besar. Misalnya, ia menghitung dua puluh empat untuk Rifa’iyyah dan tiga puluh empat untuk Qadiriyyah. Di Maghrib, ia menyebutkan sepuluh kelompok yang berasal dari Jazūliyyah, yang sendiri tidak lebih dari sebuah cabang (muncul pada abad ke-15) dari Syadziliyyah. Di Mesir dan Suriah, ia juga menghitung sekitar dua puluh tarekat yang berasal dari Syadziliyyah.
Daftar Trimingham terkenal tidak lengkap, sehingga angka-angka yang baru saja saya kutip hanya memberikan gambaran yang sangat mendekati tentang segmentasi progresif ini.9 Dua hal perlu diperhatikan pada titik ini. Pertama, situasi aktual dalam ordo-ordo tersebut tidak menunjukkan adanya hubungan dengan skema piramida kaku yang diproyeksikan oleh para penulis abad ke-19 terhadap dunia Muslim, yang, tentu saja, dihantui oleh sebagian sikap kolonialis dan sebagian lagi oleh ‘konspirasi Masonik’. Bagaimanapun, terdapat terlalu banyak konduktor orkestra sehingga semua ordo Sufi tidak dapat memainkan musik yang sama.
Perhatian kedua, meskipun konflik-konflik kecil di inti sebuah ordo yatim piatu karena kehilangan tuannya, membangkitkan asosiasi yang paling remeh dengan pertikaian tentang persembahan di kotak pengumpulan, seseorang dapat mengamati bahwa perpecahan yang secara berkala terjadi atas suksesi tuan umumnya tidak menghasilkan kekacauan atau anarki, tetapi entah bagaimana menemukan resolusi dalam kohesi baru dalam bentuk percabangan berturut-turut yang keluar dari satu batang organisasi. Karisma tuan dan kebutuhan akan adaptasi ulang normatif terhadap kebutuhan komunitas tampaknya menghasilkan kohesi tertentu, karena pengelompokan baru menyatu di sekitar tuan baru dan prosesnya terus berlanjut, sesuai dengan perintah kebijaksanaan kuno yang terkandung dalam pepatah populer di kalangan Sufi: “Jalan itu sebanyak napas makhluk ciptaan” (al-Tara’iq bi ‘adad anfās al-khalā’iq).
Sebagai kesimpulan, untuk memberikan klarifikasi yang lebih mendalam terhadap studi perbandingan yang telah kita lakukan, saya ingin mengemukakan beberapa poin penting yang mungkin terlewatkan dalam pembahasan rinci makalah saya. ‘Tarekat’ adalah bentuk yang mengekspresikan gagasan yang melekat dalam inti Islam tertua, tetapi kemudian diungkapkan dalam istilah sosial pada abad ketiga belas. Ini adalah gagasan tentang jalan menuju kesempurnaan (ihsan, ‘kemurahan hati’) yang terbuka bagi mereka yang ingin melampaui Islam, ‘ketundukan’ lahiriah kepada Hukum Ilahi, dan ‘iman’, ‘keyakinan’ atau kepatuhan batiniah terhadap kebenaran yang diwahyukan. 10 Secara khusus untuk kewalian (walāya). Setiap tarekat yang prinsipnya sendiri, memiliki tujuan akhir yang secara khusus disebut dengan ch ves ct-as e e Kesempurnaan ini adalah nama lain yang muncul dari seorang wali (walī) dan, dalam menghasilkan para wali. Dengan demikian, kewalian dipandang berada di titik persimpangan dua sumbu: vertikal, yang membentuk ‘pemilihan’, dan horizontal, yang membentuk ‘tradisi’. Hanya mandat surgawi yang dapat mengesampingkan hal ini, yang dengannya para wali tanpa guru duniawi dan, karenanya, tanpa silsilah dapat muncul. Bahkan pengecualian ini, meskipun diterima secara formal, pada kenyataannya, hampir selalu diintegrasikan kembali ke dalam situasi normatif, di mana wali ‘melegalkan’ otoritas spiritual yang ia jalankan ke dalam sebuah inisiatif yang teratur. Yang ilehnya dusebut sebagai suatu hubungan yang turputus.
Tentu saja, pencapaian ke posisi guru tidak harus selalu ditopang oleh ‘konsekrasi’ atau ‘tahbisan’. Hal ini sering kali disertai dengan gestur dan rumusan berkat. Hal ini tidak dikondisikan oleh ketaatan pada ritual khusus. Ini pada hakikatnya merupakan masalah pengakuan sang guru bahwa benih yang ditabur melalui inisiasi telah siap untuk mekar dan sang murid dapat ‘disapih’.
Penyapihan ini menyiratkan pengakuan guru yang membungkuk Inteom atas potensi otonomi spiritual dalam diri murid, baik yang dikonfirmasi oleh dokumen tertulis maupun tidak. Meskipun ini menandakan bahwa murid telah ‘menyelesaikan kursus’, hal itu tidak menghapuskan hubungan tersebut, karena hal itu akan secara efektif memutus rantai ‘transmisi’. Hal itu hanya memodifikasi hubungan murid dan calon penerus sehubungan dengan guru yang sedang menjabat. Lebih lanjut, bahkan seseorang yang mengaku mendirikan tarekat yang sepenuhnya baru, memanfaatkan silsilah pendek (tanpa perantara antara dirinya dan Nabi), yaitu melalui koneksi Uwaysi, berupaya keras untuk memperkuat hubungan ini dengan menjadi terhubung, juga, dengan satu atau lebih yang lebih panjang rantai, yaitu dengan diinisiasi kepada seorang guru yang hidup dalam rantai atau rantai-rantai tersebut, kembali tanpa terputus, dari generasi ke generasi, kepada Rasul Allah.
Hanya sedikit murid yang mencapai tahap penyapihan. Bagi sebagian besar murid, kaul ketaatan yang tersirat dalam pakta inisiasi tetap berlaku sepenuhnya hingga kematian mereka atau kematian guru mereka. Setidaknya secara teori, hal ini TENDER w/w www untuk Пленни, hanya tempat untuk interpretasi maresealt. Mereka menulis dengan sangat baik seorang pembimbing spiritual, surat singkat kepada para bapa dan saudara-saudara dari Perusahaan-Nya di Portugal, Santo Ignatius de Loyola memerintahkan agar tiang kering disiram setiap hari tanpa henti jika atasannya berkehendak. Dalam literatur Sufi, kita sering menemukan model-model seperti ini, yang berfungsi untuk menggambarkan kepasrahan murid teladan.
Kepasrahan ini tentu saja dapat menghasilkan jenis-jenis pelecehan yang dikecam tidak hanya oleh para penentang Sufisme, seperti kaum Wahabi, tetapi bahkan oleh beberapa perwakilan mistisisme Islam yang paling terkemuka. Namun, hal ini harus dipahami sebagai asketisme yang tak terelakkan yang mengarah pada ‘penyangkalan diri’, pada pengakuan akan kemiskinan ontologis manusia. diungkapkan sebagai ‘kebaktian’ atau ‘pengabdian’ (‘ubudiyya). Penyalahgunaan terjadi ketika murid yang naif secara membabi buta tunduk kepada seorang penipu (mengingat bahwa ijazah palsu berlimpah ruah dan, seperti yang telah kita lihat, bahkan kepemilikan ijazah asli pun tidak menjamin keabsahannya). Namun demikian, meskipun ketaatan berisiko direbut oleh perantara yang biasa-biasa saja atau tidak layak, ketaatan tetap hanya memiliki satu tujuan sejati, yaitu Tuhan. Oleh karena itu, ketaatan selalu menghasilkan buah kesucian. Bagi murid yang tulus, tarekat, sebagai sebuah ‘jalan’, tidak pernah berhenti menjadi rute terpendek menuju Tuhan, yang dari-Nya ia berasal dan berakhir.
Terjemahan baskah asli bahasa Perancis oleh Terry Graham
Terjemahan dalam bahasa Indonesia oleh Anna Taylor
CATATAN
- Mengenai tiga bentuk ritus inisiasi, sumbernya banyak dan seringkali berulang. Kami akan membatasi diri pada beberapa teks yang sangat penting karena kejelasannya dan otoritas penulisnya. Mengenai bay’a, Qushāshī (w. 1660-1661) (1909), hlm. 36-40; tentang talqin al-dzikir, Shaʻrānī (w. 1565), (1962), I, 27s.; tentang khirqa, Ibn ‘Arabi (w. 1240) (1911), I, hlm. 185-187, dan al-Kitāb nasab al-khirga, MS. Esad Effendi 1507, ff. 87-98b (1986) publikasi perjanjian ini belum lengkap; dan Suyūtī (1959), II, hlm. 191-195. Teks-teks penting lainnya akan disebutkan di bawah ini.
- Lihat, misalnya, inisiasi Syekh 1769), sebagaimana dijelaskan dalam Mujahid (tt), hlm. 28-29. Demikian pula, kita memiliki transmisi berurutan dari tujuh Nama yang dipraktikkan Theed dalam Qndutyya fariga menurut sebuah manual Ifordisciples oleh Ismá ib. Muhammad Sa’id (tt), hlm. 275.
- Mengenai ijazah, lihat Ensiklopedia Islam. lih. ijazah, artikel oleh G. Vajda. Menurut Nabia Abbott (1983), 1. hlm. 295, penggunaan ijazah telah dibuktikan sejak zaman Zuhri (w. 742).
- Kita teringat novel Hadrian VII karya Frederic Rolfe, alias ‘Baron Corvo’, di mana dalam satu hari sang pahlawan menerima tahbisan kecil, kemudian tahbisan besar, dan akhirnya menemukan dirinya di atas takhta Santo Petrus, meskipun sejarah Kepausan memang tidak membuat fiksi ini tampak sepenuhnya mustahil.
- Lihat, misalnya, Abū Nu’aym al-Isfahani (1932-38), 11, hlm. 79-87; dan Hujwiri (1936), hlm. 83-84. Mengenai kesucian Uwaysi, lihat A.S. Hussaini (1967), hlm. 103-13; dan Julian Bal-dick (1993), passim.
- Mengenai kata ini, lihat artikel saya di edisi kedua Ensiklopedia Islam.
- Muhammad al-Sanūsī (1868). Meskipun disebutkan sosok tersebut 40 dalam judul, hanya tiga puluh lima silsila yang dibahas dalam teks.
- Posisi ini agak aneh mengingat pengalaman inisiasi Tijānī sendiri, sebagaimana disebutkan di atas, di mana ia pertama kali menjalani inisiasi Uwaysī, kemudian inisiasi konvensional.
- Kita dapat menemukan catatan bermanfaat tentang perubahan-perubahan setelah wafatnya syekh dalam tarekat Mesir kontemporer, Hamid-iyya-Syādhiliyya, dalam dua buku karya Michael Gilsenan (1973) dan (1980), Bab 10.
- Perbedaan antara islām, īmān, dan ihsan didasarkan pada sebuah hadis terkenal (Bukhārī, tafsir s, 31, īmān, 37; Muslim,
REFERENSI
Abbott, N. 1983. ‘Sastra Hadits’. Dalam Sejarah Sastra Arab Cambridge. Cambridge. Inggris.
Addas, C. 1989. Ibn ‘Arabi ou la quête du Soufre rouge. Paris. Terjemahan bahasa Inggris oleh Peter Kingsley. Quest for the Red Sulphur 1993. Cambridge.
Baldick, J. 1993. Muslim Imajiner. London.
Bukhari. Şahih.
Dardir, Ahmad al-’Adawi. 1964. Tuhfatal-ikhwan. Kairo.
De Jong, F. 1978. Turūq dan Lembaga-lembaga yang Terkait dengan Turūq. Leyden.
Gilsenan, M. 1973. Saint dan Sufi di Mesir Modern. Oxford.
1980. Mengenali Islam. London.
Harāzim ‘Ali. 1963 (1383 A.H.). al-Jawahir wa l-ma’ānī. Beirut.
Hasimi, Muhammad. 1964. al-Hal al-sadid li-mā stashkalahu l-murid. Damaskus.
Hujwiri. 1936. Kashf al-mahjub. Diterjemahkan oleh R.A. Nicholson. London.
Hussaini, A. D. 1967. ‘Uways al-Qarani dan Uwaysi Süfis. Dunia Islam. Jil. LVII. Hartford, CT, AS
Ibnu ‘Arabi, M. 1911 (1329 A.H.). al-Futūhat al-makkiyyah. Bulāq.
1971. Sufi Andalusia. Termasuk al-Rüh al-quds dan al-Durrah fākhira. Diterjemahkan oleh R. Austin. London.
batalkan penerbitan. MS. Asad Effendi. 1507 (edisi 1986 tidak lengkap).
Ibn al-Mubarak, Ahmad. 1984. Kitab al-Ibriz. Damaskus.
Kham, Abd al- Majid 1888 (1106 H.), al Hada’ iq, al- Wardiyya, Damaskus.
Khani, Muhammad 1895(1313 A… Kitab al-sa’adat al-abadiya fima ja’a bihi I-naghs-bandiyya, Damaskus
Mujahid, Zaki Mohammad, n.d. al-Manaqib al-bayami. Kairo.
Nabulus Abd al-Ghani. n.d. Rawd al-anam untuk bayan al-ijaza untuk 1-manăm. MS. Zahiriyya 9119.
Qushashi, 1909 (1327 H.). al-Simţ al-majid. Hyderabad.
Sa’id, Ismail b. Muhammad. n.d. al-Fuyudat al-rabbaniyya fi l-ma’athir wa l-awrad al-qadiriyya. Kairo.
Sanūsi, Muhammad. 1968. al-Salsabil al-ma’in fi 1-tara’iq al-arba’in. Beirut.
Sartain, EM 1975. Jalal al-Din al-Suyuţi. Cam-bridge, Inggris
Serjeant, R. 1983. ‘Prosa Arab Awal’. Dalam Sejarah Sastra Arab Cambridge. Cam-bridge, Inggris
Sya’rani. 1954. al-Tabaqat al-kubra. Kairo.
_.1962. al-Anwar al-qudsiyyah. Kairo.
Sharji, Ahmad. 1903 (1321H). Tabaqat al-khawwās. Kairo.
Sergent, R. 1983. Prosa Arab Awal”. Dalam Sejarah Sastra Arab Cambridge. Ca Bridge, Inggris
Sharani. 1954. al-Tabaq l-kubra. Kairo.
1962. al-Anwar al-qudsiyya. Kairo
Sharji. Ahmed. 1903 (1321 H.FF.). Tabaqat al-khawwas. Kairo.
Suhrawardi, Shihab al-din Abu Flafs ‘Umar. ‘Awarif al-ma’arif. Dalam edisi Ihya” ‘ulum’ al-Din. Kairo.
Suiūți. 1959. al-Hawi li l-fatawi. Kairo.
Tha’labi (Itu terlalu berlebihan). 1951 (1371 A.H.). Qiyas al-Anbia, Kairo.
Trimingham, JS 1971. Tarekat Sufi dalam Islam, Oxford.
Vajda G” ijaza”. Dalam edisi Ensiklopedia Islam. Leiden.
Seni & Budaya
– Seni Kaligrafi Dalam Islam Sebagai Sarana Media Ke Alam Gaib Dalam Tasawuf
Oleh : Deirdre Conway
“Tulisan Tangan Adalah sebagai alat mengutarakan kata hati”. – Plato
Seni dalam Islam memberikan semangat pemersatu yang tidak dapat dipisahkan bagi seluruh umat Muslim, terutama bagi mereka yang berbagi keyakinan umum. Hal ini mencerminkan ikatan dengan tepat dalam lingkungan dan kehidupan mereka. Citra pertama yang tertangkap dalam refleksi ini adalah aksara Arab. Aksara Arab merupakan inti dari budaya Islam, yang tercermin dalam bentuk huruf-hurufnya, memberikan dimensi visual.
Sebagai sebuah refleksi, keberadaannya adalah ajaran, Al-Quran, sebagai titik pusat pembelajaran dalam Islam. Surat yang berjumlah 114 merupakan matahari petunjuk dan pembelajaran bagi umat Islam. Melalui perantaraan Malaikat Jibril, Tuhan menyampaikan firman-Nya dalam bahasa Arab kepada Muhammad, utusan-Nya: “Bacalah! Tuhanmu adalah Yang Maha Pemurah, yang dengan pena mengajarkan manusia apa yang tidak dia ketahui” (96: 3-5).
Keharusan mencatat pesan ilahi Al-Qur’an menjadi kekuatan di balik perkembangan bentuk-bentuk kitab suci. Bentuk-bentuk tersebut diilhami oleh rasa keindahan sakral sehingga mampu mengungkapkan wahyu Illahi.
Dikatakan bahwa “keindahan kaligrafi mengekspresikan kemurnian jiwa.” Aksioma ini mengakui hubungan erat antara kaligrafi sebagai seni dan tindakan mengingat Sang Ilahi sebagai disiplin kontemplatif. Dengan demikian, seperti bintang yang memantulkan mataharinya, Kaligrafi Arab menjadi sumber iman agama dan kepercayaan. Terutama kepercayaan kepada yang maha gaib itu sendiri yaitu Allah SWT. Sehingga kaligrafi itu sendiri merupakan gambaran Kesakralan itu sendiri.
Keindahan gambaran kesakralan kaligrafi dalam Al-Quran dapat ditemukan pada karya Rumi “Mathnawi”, yang menceritakan, ketika seekor semut, berjalan diatas Qur’an dengan tulisan kaligrafi yang indah. Si semut dengan penuh kekaguman berseru dan menyadari bahwa dia berjalan disebuah taman hurup yang sangat indah. Dalam menapaki setiap hurup yang indah dia lebih menyadari bahwa “semua bukan datang dengan sendiri nya. Namun merupakan sebab dari hasil sebuah maha karya yang sakral dan indah (Al Qur’an) dari sebuah Tangan yang Sakral dan Gaib”, yaitu Allah SWT.
Dalam kaligrafi, pergerakan tangan dalam menuliskan hurup-hurup merupakan pergerakan hati. Dan gerakan yang dilakukan terus menerus mengikuti kata hati, maka pada suatu saat akan sampai kepada pengetahuan akan Tuhan sebagai sumber dari segala kehidupan dan penciptaan. Tuhan adalah Sang Yang Maha Awal Penulis Keindahan. Yaitu Tuhan sebagai sumber segala-galanya yang ada di alam semesta dan jagad raya.
Kaligrafi itu sendiri merepresentasikan kodrat Illahi. Sebuah ilustrasi tentang hal ini dapat ditemukan dalam Matsnawi karya Rumi dan seekor semut diatas. Tuhan, sebagai Kaligrafer Pertama, mengambil Pena Akal Pertama dan menuliskan kata-kata Illahi pada Tablet Jiwa Universal, dengan demikian mewujudkan esensi spiritual segala sesuatu: “Ketika Tuhan menetapkan sesuatu, Dia hanya perlu berkata: ‘Jadilah’, maka jadilah” (16:40).
Tetesan tinta pertama dari Pena Ilahi, menurut sebuah hadis Nabi, adalah huruf bā, yang menandai asal mula ruang geometris sekaligus titik asal mula penciptaan. Ini adalah huruf pertama dari rumus saleh, besmellāh ar-rahman ar-rahim (‘Dengan Nama Allah, Yang Maha Pengasih dan Penyayang’), yang memulai surah al-Fatihah (‘Yang Maha Kuasa’). Al-Fatihah sebagai Pembukaan dan karenanya seluruh Al-Qur’an. “Barangsiapa menulis besmellāh dengan indah, ia akan memperoleh berkah yang tak terhitung banyaknya” tercatat sebagai hadis Nabi lainnya dan dipraktikkan oleh ‘Umar ketika ia mendesak khalifah pertama Abu Bakar untuk menulis Al-Qur’an.
Perkembangan Aksara Arab
Karena suku-suku Arab pra-Islam bergantung pada tradisi lisan untuk menyampaikan fakta dan cerita, tulisan datang kepada mereka relatif terlambat. Dengan demikian, perkembangan tulisan yang terjadi dengan cepat (dengan penyempurnaan berkelanjutan di sepanjang perjalanan) dimotivasi oleh kebutuhan untuk mencatat dan melestarikan wahyu ilahi.
Aksara Afrika Utara awal yang disebut jazm menyebar pada akhir abad ke-5 dan awal abad ke-6 ke Hijaz di Jazirah Arab, dengan pusatnya di kota Mekah, tempat Umar, Utsman, dan Ali, khalifah Islam pertama, belajar menulisnya. Selanjutnya, Muawiyah, yang kemudian mendirikan Dinasti Umayyah Kekaisaran Muslim pertama (661-750) – mengikuti jejak mereka.
Dua kategori dasar kaligrafi yang berkembang selama periode ini adalah lengkung dan bulat, di satu sisi, dan memanjang dan bersudut, di sisi lain. Yang terakhir dikenal sebagai aksara Kufi karena dikembangkan di kota Kufah dan menjadi aksara favorit pada awal Al-Qur’an karena sifatnya yang tegas dan linier. Dengan bentuk-bentuk sudutnya yang sangat cocok untuk pahat tukang batu, Kufi juga merupakan aksara ideal yang digunakan untuk menghiasi struktur arsitektur, terutama masjid, dengan nama-nama suci dan prasasti. Kualitas batu yang tahan lama memungkinkan studi aksara Kufi awal.
Sebaliknya, sampel aksara kursif awal Umayyah yang digunakan terutama untuk dokumentasi sekuler dihancurkan oleh dinasti Abbasiyah berikutnya (750-1258). Dengan berdirinya Baghdad (762) oleh Abbasiyah, sebuah kota baru berkembang yang menjadi pusat budaya Islam yang sangat maju saat itu. Di sini aksara kursif mengalami perkembangan penting berdasarkan penemuan dan ajaran menteri Ebn Moqla (w. 940), yang berjasa dalam pembentukan setta, enam gaya utama penulisan klasik: tholth, naskh, rayhani, mohaqqaq, tawqi, dan reqā’.
- Tholth berukuran besar dan rumit, serta digunakan dalam judul dan tajuk Al-Quran.
- Naskh, istilah yang terkadang digunakan untuk menggambarkan semua gaya kursif, mengalami peningkatan dramatis sebagai aksara utama dalam penulisan Al-Qur’an.
- Mohaqqaq menjadi pilihan para juru tulis profesional, terutama setelah diperkenalkannya kertas (sekitar tahun 750).
- Rayhani, yang disukai untuk edisi Al-Qur’an format besar, berkaitan dengan tholth dan mohaqqaq.
- Tawqi, gaya yang kuat dan berwibawa, digunakan sebagai aksara untuk lambang kerajaan para khalifah dan kanselir.
- Reqā’, yang berasal dari kata naskh dan tholth, menjadi aksara populer untuk penulisan cepat dan masih digunakan hingga saat ini.
Selain keenam aksara di atas, terdapat tomar yang besar dan berat, yang digunakan untuk Al-Qur’an berformat besar, dan kebalikannya, aksara ghobar atau aksara ‘debu’ yang kecil, yang terutama digunakan untuk aksara merpati.
Enam setta, yang kesempurnaan matematisnya dicapai oleh Ebn Moqla, memperoleh keanggunan dan keelokan melalui Ebn al-Bawwāb (w. 1022) dengan Yaqut al-Mosta’semi (w. 1298), yang menciptakan sintesis gaya dari dua seniman sebelumnya.
Terpisah dari perkembangan yang terjadi di pusat tanah Islam, gaya maghrebi berkembang dari Kufi Barat di wilayah Islam bagian barat, dan pada tahap matang, garis-garisnya yang mengalir dengan lengkungan terbuka yang memanjang mencirikan skrip ini dengan ringan dan anggun.
Bangsa Persia Safawi (1502-1722) mengembangkan ta’liq atau “gaya gantung” untuk penulisan puisi pada miniatur bergambar. Aksara ini terikat oleh aturan khusus kaligrafer Mir ‘Ali Tabrizi (w. 1416). Menurut legenda, ia terinspirasi oleh mimpi tentang seekor burung terbang, karena lekukan huruf-hurufnya mengikuti bentuk sayap. Nasta’liq adalah bentuknya yang lebih halus dan elegan.
Makna Spiritual dalam Kaligrafi
vHuruf-huruf kaligrafer adalah bejana berisi rahmat Tuhan, melambangkan dunia ini sebagai piala yang menampung rahmat keberadaan. Huruf dan kata-kata suci terbentang di sepanjang halaman dalam permainan bayangan gelap dan terang. Meskipun tintanya gelap, kata-katanya dipenuhi dengan cahaya. Mereka yang mendengarkan dan melihat dengan telinga dan mata hati menemukan makna dalam huruf jauh melampaui bunyi fonetik dan bentuk kitab sucinya
Banyak sekali tulisan tentang sifat-sifat kabalistik dari bentuk-bentuk huruf, terutama dalam karya-karya Horufis, yang karyanya ‘Elmo’l-Horuf pada abad ke-14 mencoba mensistematisasikan ilmu huruf. Masing-masing dari dua puluhp delapan huruf dalam alfabet Arab bersesuaian dengan nilai numerik. Misalnya, alef (ا) dengan padanan numeriknya 1, yang juga merupakan huruf pertama dari kata Allah, melambangkan Keesaan Ilahi – Tuhan Yang Maha Esa. Namun, meskipun studi-studi ini rumit dan menarik, mereka yang mencari jalan hati tahu bahwa rahasia kata dan huruf tidak akan mengungkapkan-Nya.
Banyak penyair mistik Islam yang hebat sering menggunakan huruf-huruf untuk menggambarkan hubungan antara kekasih. Bibir Kekasih yang merah delima atau semerah batu rubi, dan rambutnya yang keriting dibuat dengan mim (م), dan matanya yang mempesona membentuk “Ayn” (ع) atau membentuk “shad” (ص) untuk sedih. Mewakili sang kekasih, alef (ا) yang bangga dan lurus, dalam merasakan kehadiran Sang Kekasih, menjadi membungkuk dengan kerendahan hati seperti dal (د) yang tiba-tiba hancur seperti nun (ن).
Sang kaligrafer menyiapkan alat tulis dengan membelah ujung pena buluh menjadi dua, lalu memotong ujungnya. Demikian pula, Sang Kaligrafer Ilahi menuntut sang kekasih untuk mematahkan ego dan memenggal kepala akal budi, dan dalam kata-kata ‘Attar, “seperti pena, dengan lidah terpotong, untuk mengarahkan kepalanya ke tablet pemusnahan.
Melalui ingatan yang terus-menerus dan penuh doa, sang pencari di jalan cinta menjadi instrumen pena di tangan Tuhan untuk melakukan apa pun yang Dia kehendaki. Pena yang dipotong dari alas buluh hati hanya berkata, “taslim” (dengan senang hati menerima). Sebagai sarana untuk menghubungkan multiplisitas dengan Kesatuan, hati Sufi yang murni mengubah pena dan kertas, wol dan tulisan, menjadi Sang Kekasih dan ia mengklaim, seperti yang dilakukan Rumi, “Setiap pena pasti akan patah begitu mencapai kata ‘Cinta’
Sebuah ayat Al-Quran dalam aksara naskh. Surat Al-Baqarah ayat Kursi
Terjemahan Ayat Kursi: Ya Allah, tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri. Dia tidak mengantuk dan tidak tidur.
Milik-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya? Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu pun dari ilmu-Nya melainkan apa yang dikehendaki-Nya.
Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, karena Dia Maha Tinggi, Maha Besar.
Terjemahan tulisan kaligrafi gaya “Tholth”. Tiga Alur Dimensi dalam Ketuhanan.
Daftar Referensi artikel “Kaligrafi”
- Jurnal Etika Spiritual Publikasi Khaniqahi Nimatullahi.
- Safadi, Y. (1978). Kaligrafi Islam, Thames & Hudson.
- Schimmel, A. (1984). Kaligrafi dan Budaya Islam, New York University Press. Cemerlang.
- Buku. (1970). Kaligrafi Islam, Leiden: EJ.
- (1978). Matahari Kemenangan, London: Bagus Sulzberger, J. (1991). ‘Beberapa Catatan tentang Kaligrafi Arab’, Parabola, vol. XVI, No. 3, 1991.
- Welch, A. (1979). Kaligrafi dalam Seni Dunia Muslim, The Asia Society.
- Critchlow, L. (1976). Pola Islam, Thames & Hudson.
- Ettinghausen, R. (1962). Lukisan Arab, London.
- Khatibi, A. dan Sijelmassi, M. (1977). Splendor Kaligrafi Islam, Thames dan Hudson (terj. 1976), Rizzoli International.
- Martin, R. (1982). Islam, Prentice-Hall.
- Nasr, S. H. (1988). Ide dan Realitas Islam, George Allen & Unwin.
- (1980). Kebenaran Cinta: Puisi Sufi.
# Kisah Para Sufi
– Cinta Seorang Murid
Beberapa Kenangan Tentang Bapak Kobari
“Jangan katakan Sang Kekasih telah pergi dan Kota cinta kosong. Dunia ini penuh dengan guru yang sempurna, tetapi di manakah murid yang tulus?”. oleh Alireza Nurbakhsh
Saya selalu bertanya-tanya apa yang membuat orang-orang tertentu memiliki keyakinan yang begitu kuat pada jalan dan guru spiritual, jenis keyakinan yang tak tergoyahkan yang kita miliki, misalnya, pada terbitnya matahari setiap pagi. Menurut saya, ada dua jenis orang yang memiliki keyakinan agama yang begitu kuat.
Jenis pertama, sangat umum di zaman sekarang, benar-benar dogmatis tentang apa yang mereka yakini sampai-sampai mereka merasa berkewajiban untuk memaksakan keyakinan mereka kepada orang lain, terkadang bahkan dengan paksaan. Orang-orang seperti itu fanatik dan tidak ada hal menarik yang bisa dikatakan tentang mereka.
Di sisi lain, ada orang lain yang tidak banyak bicara, yang tidak tertarik untuk mengubah kita menjadi apa yang mereka yakini. Sekeras apa pun seseorang mencoba, seseorang tidak dapat benar-benar memahami apa sebenarnya keyakinan mereka. Mereka, keberadaannya, adalah sebagai seorang mistik sejati. Dan mereka mendekati kehidupan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia dari sudut pandang yang sama sekali berbeda. Ini menjadi suatu perwujudan dari sedikit bicara banyak kerja. Hidup penuh dengan perbuatan sebagai makna pengabdian. Mereka berbicara kepada kita melalui perbuatan dengan sedikit perhatian tentang apakah kita percaya pada mereka atau tidak.
Singkatnya, teruslah menjalani kehidupan spiritual kita dengan perbuatan nyata, tanpa menghabiskan waktu kita dengan perdebatan tentang apa itu spiritualitas.
Hasan Kobari adalah orang seperti itu. Dibesarkan di provinsi Gilan di tepi Laut Kaspia, Tuan Kobari sudah menjadi pria paruh baya ketika ia pertama kali datang ke khānaqah Nimatullahi di Teheran. Selama tiga puluh tahun ia telah mengabdikan dirinya untuk pekerjaan pemerintah, dan, ia, pada saat kedatangannya di khānaqāh adalah seorang pejabat tinggi di Kementerian Keuangan dengan kekuasaan dan kewibawaan yang besar. Namun, setelah inisiasinya ke jalan Sufi oleh Dr. Nurbakhsh, seorang syekh muda saat itu, ia mengundurkan diri dari jabatan pemerintahannya dan menyerahkan semua yang telah dicapainya di dunia untuk mengabdikan dirinya sepenuh hati pada jalan Cinta pilihannya.
Bapak Kobari hampir tidak pernah berbicara tentang Sufi; sebaliknya, ia menjalani kehidupan seorang Sufi. Jika anda mendesaknya, anda mungkin akan mendapatkan beberapa patah kata tentang Sufi, tetapi itu pun jarang. Anda harus bekerja sangat keras untuk menunjukkan kepadanya bahwa anda membutuhkan nasihatnya untuk tujuan praktis sebelum ia berbicara.
Saya ingat, seseorang pernah bertanya kepadanya tentang makna spiritual dari mimpi yang dialaminya. Bapak Kobari menjawab “Saya tidak tau apa pun tentang arti mimpin dan saya mohon maaf karena tidak mengetahuinya”. Kemudian memberi tahu pria itu bahwa bagi seseorang yang bermimpi yang penting bukanlah memahami mimpinya tetapi menerimanya, seperti hal lainnya, sebagai anugerah Tuhan dan terus mengingat-Nya. Dan kemudian dia meminta pria itu untuk menjalankan tugas untuk khanaqah, mengatakan bahwa ini jauh lebih bermanfaat.
Bagi orang Barat, pendekatan spiritualitas ini pasti terdengar aneh. Orang akan berpikir bahwa hal-hal spiritual harus dipahami pada tingkat tertentu terlebih dahulu sebelum mempraktikkannya. Jika saya tidak tahu, misalnya, makna dan arti penting dhekr( dzikir) = mengingat, bagaimana saya bisa mempraktikkannya? Pendekatan Pak Kobari adalah bahwa pemahaman datang kemudian setelah seseorang mempraktikkan apa yang seharusnya dipraktikkan dan melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Baginya, kehidupan spiritual adalah kehidupan yang penuh dengan perbuatan tanpa pamrih, dan memahami makna dan nilai dari perbuatan tersebut hanya terjadi setelah seseorang benar-benar tenggelam di dalamnya. Saya ingat dia pernah berkata bahwa untuk benar-benar memahami apa itu rasa sakit, seseorang harus merasakannya, mengalaminya, dan bahwa membaca berbagai teori tentang rasa sakit, meskipun menarik, tidak akan pernah memungkinkan seseorang untuk memahaminya sepenuhnya.
Saya pertama kali bertemu Bapak Kobari ketika saya masih cukup muda dan, tentu saja, sangat naif. Meskipun demikian, dia menerima saya dengan keterbukaan dan rasa hormat, sebagaimana beliau menerima semua orang. Beliau tidak pernah bersikap superior secara spiritual, meskipun beliau telah menjadi seorang darwis selama bertahun-tahun, dan selalu memperlakukan saya setara dengannya. Hasilnya, saya merasa cukup nyaman di dekatnya dan mulai mengikutinya berkeliling hampir sepanjang hari. Karena selalu ada kegiatan di sekitar khanaqah, beliau mengizinkan saya membantunya dengan berbagai tugas, seperti menyiram tanaman, menyajikan teh, atau menyiapkan buku-buku yang diterbitkan oleh khanaqah untuk penerbitkan. Beliau sangat yakin bahwa berbagai pekerjaan di sekitar khanaqah harus dilakukan dengan cara yang paling ekonomis dan sesulit mungkin.
Pada suatu saat, saya bosan menggunakan pot kecil untuk menyiram banyak tanaman di sekitar khanaqah dan memutuskan untuk menyiram menggunakan selang. Begitu Bapak Kobari melihat saya dengan selang, beliau menegur saya karena malas, mengatakan bahwa saya membuang-buang air dan telah mengambil jalan pintas. Ia melanjutkan dengan menjelaskan bahwa bekerja di sekitar khanaqah adalah untuk mendisiplinkan nafs (ego) seseorang, dan bahwa nafs(nafsu) seseorang selalu ingin mengambil jalan keluar yang termudah. Pada saat itu, nasihatnya tidak masuk akal bagi saya. Dalam kenaifan saya, saya pikir, tentu saja, yang penting adalah menyelesaikan pekerjaan, bukan bagaimana anda melakukannya. Baru bertahun-tahun kemudian saya akhirnya melihat kebenaran kata-katanya.
Bapak Kobāri terus-menerus berjuang melawan nafsnya, melawan keinginan duniawinya, sampai-sampai terkadang saya bertanya-tanya apakah dia memiliki rasa diri sama sekali. Namun, satu pikiran negatif saja sudah cukup untuk membuatnya mengambil tindakan drastis untuk memperbaiki dirinya sendiri. Suatu ketika, di hadapan sekitar dua puluh darwis, kami sedang mengoreksi sebuah buku dengan naskah berbahasa Arab. Karena dia menguasai bahasa Arab dengan baik, dia membacakan teks bahasa Arab dengan keras dari naskah tersebut sementara saya harus memeriksa apakah versi cetaknya sesuai dengan itu. Kami sedang berada di tengah-tengah pekerjaan ini ketika bel pintu berbunyi dan seorang mullah yang punya janji bertemu dengan guru datang dan duduk bersama kami menunggunya.
Begitu mullah itu duduk, ia meminta teh dan mulai berkhotbah kepada semua orang. Bapak Kobari mendengarkannya selama beberapa menit dan kemudian menoleh ke saya dan berkata bahwa kami harus melanjutkan pekerjaan kami. Saya sangat terkejut, ia mulai melafalkan bahasa Arab dengan tidak benar, terutama ayat-ayat Al-Qur’an. Begitu mullah itu mendengar pembacaan Al-Qur’an Tuan Kobari yang salah, ia mulai mengoreksinya. Selama setengah jam berikutnya, mullah itu terus-menerus mengoreksi Tuan Kobari dengan cara yang sangat kasar dan menjengkelkan. Setiap kali ia melakukannya, Tuan Kobari akan meminta maaf, meminta pengampunan dari mullah.
Setelah apa yang terasa seperti berjam-jam, mullah itu akhirnya dipanggil untuk menemui guru itu. Saat meninggalkan ruangan, ia memerintahkan Bapak Kobari untuk berhenti membaca sama sekali, mengingatkannya bahwa membaca ayat-ayat Al-Qur’an secara tidak benar adalah penistaan. Selama kejadian ini, saya terpaksa menahan diri untuk tidak menghina atau memaki sang mullah. Saya juga benar-benar bingung dengan tindakan Tuan Kobari. Ketika akhirnya saya menemukannya sendirian di kemudian hari, saya bertanya kepadanya tentang makna perilakunya terhadap sang mullah dan mengapa ia sengaja salah mengucapkan bahasa Arab tersebut. “Saat saya melihat sang mullah,” jawabnya, “saya langsung berpikir bahwa saya lebih baik darinya. Saya merasa sangat malu dengan pikiran ini sehingga saya harus menebus kesalahan kepada sang mullah dan memohon ampun atas kesombongan dan rasa superioritas saya.”
Meskipun ia mampu mempertahankan gaya hidup yang sangat nyaman, Bapak Kobari justru menjalani hidup sederhana. Ia menyumbangkan separuh uang pensiunnya untuk kebutuhan sehari-hari khānaqah dan separuhnya lagi untuk keluarganya, yang terdiri dari istri dan seorang pembantu tua yang ia perlakukan seperti saudara perempuan. Rumahnya hanya berisi dua kamar, dapur kecil, dan taman. Di pagi hari, ia berkeliling Teheran, menjalankan berbagai tugas untuk khānaqāh: memastikan para pencetak melakukan pekerjaan mereka, membeli bahan makanan, pergi ke bank, dan melakukan berbagai layanan lain yang penting untuk operasional khānaqah sehari-hari. Dalam melakukannya, ia selalu berusaha sehemat mungkin. Sebagai contoh, ia sebisa mungkin menghindari transportasi umum, berjalan kaki kecuali jika hal ini tidak memungkinkan, lalu naik bus jarang naik taksi, tanpa memikirkan kesulitan yang ditimbulkannya.
Bersama Bapak Kobari, segalanya menjadi pengalaman belajar. Suatu hari saya mendapat izin untuk menemaninya dalam suatu urusan penting. Mengingat kebiasaannya menghindari transportasi umum, saya mempersiapkan diri untuk berjalan kaki yang sangat jauh. Namun, yang mengejutkan saya, ia bersikeras naik taksi hari itu karena saya adalah tamunya. Melihat kebingungan dan kekecewaan saya, ia menambahkan: “Sufisme adalah kenihilan keterikatan pada apa pun, bahkan menolak naik taksi pun bisa menjadi keterikatan.”
Mencintai malam-malam Majlis pertemuan, Meskipun ia telah mengabdi bertahun-tahun kepada khanaqah dan mendapatkan tempat kehormatan tertinggi, ia tetap duduk di ruang masuk tempat para darwis akan meninggalkan sepatu mereka.
Pada suatu malam musim dingin, seorang murid yang tidur di salah satu ruang Khanaqah tidak bisa tidur. Tiba-tiba dalam kegelapan dia melihat Bapak Kobari berjalan ke lemari penyimpan bahan bakar. Setelah membuka lemari, Kobari mengeluarkan sekaleng minyak tanah dan mulai mengisi pemanas di kamar tempat para darwis tidur. Kemudian dia pergi diam-diam seperti saat dia datang. Keesokan harinya, sang darwis bertanya kepada Bapak Khobari tentang malam sebelumnya. Dia ragu sejenak, lalu menjelaskan bahwa setelah pulang ke rumah dan pergi tidur, terlintas dalam benaknya bahwa pemanas minyak tanah mungkin kehabisan bahan bakar di kamar tempat para darwis tidur dan dia takut itu akan menjadi terlalu dingin dan mengganggu mereka. Akibatnya, dia bangun dan di tengah malam musim dingin yang dingin berjalan kembali ke khānaqāh untuk memastikan bahwa para darwis akan cukup hangat. Tentu saja, jika bukan karena sang darwis melihatnya malam itu, tidak seorang pun akan pernah tahu tentang tindakan kebaikan tanpa pamrih ini. Memang, siapa yang tahu berapa kali Bapak Kobari melakukan tindakan seperti itu? Itu adalah hidupnya.
Ruang minum teh khanaqah tempat Tuan Kobari selalu duduk dan bekerja di siang hari menjadi semacam sekolah pelatihan bagi para darwis, setidaknya bagi para darwis yang memiliki kesadaran untuk memahami apa yang sedang terjadi. Ia akan mengajar melalui teladan, menawarkan jasanya dengan tulus kepada semua yang membutuhkan tanpa pernah diminta atau mengharapkan imbalan apa pun. Meskipun ia bertanggung jawab atas semua urusan khanaqah, saya tidak pernah mendengarnya memerintah siapa pun secara langsung. Sebaliknya, ia akan memberi tahu para darwis apa yang perlu dilakukan, apa yang benar, melalui tindakannya, dengan selalu menjadi yang pertama mengerjakan apa pun, memulai tugas yang paling sulit dan yang paling tidak menyenangkan, tetapi tidak pernah sedikit pun muncul rasa bangga atau kepuasan diri.
Setiap hari setelah menyelesaikan tugas sehari-harinya, Bapak Kobari akan pulang untuk makan siang bersama istrinya. Meskipun ia jarang mengundang siapa pun ke rumahnya, ia selalu menyambut mereka yang datang, dan orang-orang selalu datang ke rumahnya tanpa diundang dengan harapan dapat menghabiskan beberapa menit bersamanya. Saya sendiri sering mendapat kehormatan untuk pergi ke rumahnya untuk makan siang. Kami akan makan siang, lalu setelah itu menonton televisi selama setengah jam di televisi hitam putih kecil yang ia terima sebagai hadiah dari putrinya. Hebatnya, bahkan saat menonton televisi, Bapak Kobāri tak kuasa menahan diri untuk tidak diliputi oleh rasa Ilahi.
Suatu hari, misalnya, kami kebetulan sedang menonton Gunsmoke. (Beberapa acara Amerika sangat populer di televisi Iran pada saat itu.) Dalam episode khusus ini, salah satu tokoh akhirnya mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan seseorang yang hampir tak dikenalnnya. Tuan Kobāri begitu terhanyut oleh episode tersebut hingga ia mulai terisak pelan, lalu, dengan seluruh tubuhnya gemetar, ia menoleh ke arah saya dan dengan suara lembut berkata, “Inilah cinta, namun aku masih begitu jauh darinya.” Bersamaan dengan itu, saya pun mulai menangis, benar-benar terhanyut dalam suasana hati Bapak Kobāri. Kemudian, setelah pulang ke rumah, saya menyadari bahwa inilah perbedaan antara seorang hamba Tuhan dan kita semua: ia melihat keindahan Ilahi di mana kita hanya melihat sampah.
Selama dua puluh lima tahun, Bapak Kobāri pergi ke khanaqah Teheran setiap hari dari pukul dua siang hingga pukul sepuluh malam, tidak pernah pergi selama orang lain masih ada di sana. Dia selalu mengambil pekerjaan yang paling sulit dan paling kasar di khanaqah, memberi contoh bagi semua darwis. Pada saat yang sama, tidak ada tugas yang terlalu kecil baginya jika pelayanan kepada darwis lain terlibat, siapa pun darwis itu dan apa pun keadaannya.
Suatu ketika, seorang darwis yang baru diinisiasi sedang duduk di pertemuan pada salah satu malam pertemuan. Tuan Kobāri kebetulan lewat dan darwis itu, karena tidak tahu apa-apa, meminta teh kepadanya. Sejumlah darwis segera mencoba bangun untuk pergi minum teh di tempat Tuan Kobāri, tetapi dia menyuruh mereka semua duduk dan pergi minum teh untuk pendatang baru itu sendiri.
Sejak Tuan Kobari tiba di khānaqāh hingga saat ia pergi, ia selalu sibuk karena pengabdiannya kepada sang guru dan para darwis lainnya, yang kesejahteraannya selalu ia utamakan di atas dirinya sendiri. Kisah berikut, yang diceritakan kepada saya oleh salah seorang darwis yang lebih tua, menggambarkan hal ini dengan baik. Darwis ini pernah tinggal di khānagāh Teheran selama musim dingin yang sangat dingin. Suatu malam, ia melihat Tuan Kobari meninggalkan khānaqāh pukul sepuluh seperti biasa. Sekitar dua jam kemudian, sang darwis masih terjaga, tidak bisa tidur. Tiba-tiba, dengan terkejut, ia melihat Tuan Kobari menyelinap kembali ke dalam khanaqah. Bingung, ia memperhatikan untuk melihat apa yang sedang dilakukannya. Ternyata beliau mengecek semua pemanas diruangan dan mengecek semua darwis apakah sudah nyaman semua.
Setiap orang yang berhubungan dengan Bapak Kobari, termasuk mereka yang tidak pernah mengenalnya sebagai seorang Sufi, mau tidak mau akan terpengaruh olehnya dengan kesan yang mendalam. Beliau memperlakukan semua orang dengan penuh hormat sekaligus bersikap sangat lugas. Pada salah satu dari sekian banyak perjalanan kami bersama, saya menemaninya ke percetakan tempat kami harus bertemu dengan pria yang bertanggung jawab atas bagian penjilidan. Ia adalah seorang pria paruh baya yang sangat menyayangi Bapak Kobari dan selalu memberi harga yang pantas untuk penjilidan buku-bukunya. Seperti biasa, Bapak Kobari sangat sopan kepadanya.
Ketika kami duduk untuk membahas biaya penjilidan buku yang akan terbit, tiba-tiba beliau menoleh kepada Tuan Kobari dan berkata, “Tolong, bisakah masalah ini ditunda? Saya ingin meminta pendapat Anda mengenai masalah yang jauh lebih serius.” Penerbit itu kemudian melanjutkan dengan memberi tahu Bapak Kobari bahwa beliau telah memutuskan untuk menjadi seorang Sufi dan akan sangat berterima kasih jika Tuan Kobari bertanya kepada sang guru tentang kemungkinan beliau diinisiasi. Tanpa ragu, Tuan Kobari menggelengkan kepala dan memberi tahu penerbit buku itu bahwa Sufi tidak baik untuknya. Tercengang mendengar jawaban itu karena dia tahu Bapak Kobari adalah Sufi, tapi mengapa ia tidak mendukung keinginannya untuk menjadi Sufi?. Katanya dalam hati. Karena pengabdiannya kepada Sufi, pria penerbit itu kemudian bertanya “ Mengapa Sufi tidak baik untuknya. Bagaimana mungkin?”. “Karena,” jawab Bapak Kobari, “jika Anda menjadi seorang Sufi, Anda tidak akan bisa lagi meminta bayaran untuk penjilidan buku-buku kami. Apakah Anda pikir Anda bisa merelakan uang ini?” Pria itu menundukkan kepala dan terdiam lama. Akhirnya, Tuan Kobari memecah keheningan, berkata kepadanya, “Jika Anda benar-benar ingin tahu kebenarannya, saya telah sampai pada kesimpulan bahwa setiap orang adalah seorang Sufi dengan caranya masing-masing tanpa menyadarinya. Sekarang mari kita bicarakan biaya penjilidan buku karena masalah ini jauh lebih mendesak.” Bertahun-tahun setelah Kobari meninggal, si penjilid menerima syarat yang telah ia tetapkan dan diinisiasi ke dalam jalan tersebut.
Menjelang akhir hayatnya, Bapak Kobari menjadi sangat lemah secara fisik sehingga ia hampir tidak mampu untuk bepergian dari rumahnya ke khānaqāh. Karena itu, suatu hari sang guru memintanya untuk pindah ke khānaqah. Tuan Kobari sangat gembira atas undangan sang guru, karena pindah ke khanaqah selalu menjadi impiannya. Berkali-kali ia mengatakan kepada saya bahwa satu-satunya hal yang masih ia inginkan dari Tuhan adalah dapat hidup dan mati di khanaqah bersama para darwis dan dekat dengan sang guru. Tak perlu dikatakan lagi, awalnya ia sangat bersemangat untuk tinggal di khanaqah. Setelah dua puluh lima tahun selalu berada di khānaqāh, akhirnya ia bisa tinggal di tempat yang sangat ia sayangi.
Namun, tak lama kemudian, ia menyadari bahwa jauh lebih mudah untuk pergi ke khanaqah setiap hari daripada tinggal di sana. Tinggal di khanaqah, ia selalu khawatir, terkadang sampai terobsesi, dengan kesejahteraan para darwis dan keadaan khānaqāh. Begitu ia pindah ke khānaqāh, ia mendapati dirinya tidak bisa tidur lagi, selalu merasa wajib untuk memeriksa dan memeriksa ulang semuanya, sehingga ia segera jatuh sakit parah. Akhirnya, situasinya menjadi begitu buruk sehingga ia meminta izin kepada gurunya untuk pulang dan meninggal dengan tenang. Dan itulah yang ia lakukan. Pada tanggal 23 Maret 1978, beberapa minggu setelah kembali ke rumah, Tuan Kobāri meninggal dunia dengan damai di tempat tidur dirumahnya sendiri.
Mungkin epitaf yang paling tepat untuknya adalah deskripsi murid yang diberikan dalam “In The Tavern of Ruin “ oleh Dr. Nurbakhsh, guru yang kepadanya ia begitu berbakti: “Murid adalah pencari sejati yang terbebas dari segala keterikatan. Ia merindukan Tuhan saat ia meninggalkan ‘dirinya’; ia menempuh jalan tanpa membicarakan dirinya sendiri. Ia tak punya kisah untuk diceritakan tentang ‘aku’-nya; ia tak pernah bisa mengeluh tentang Sang Kekasih. Murid adalah kekasih yang hatinya merana dan lelah. Ia telah melampaui kedua dunia dan bersatu dengan Kebenaran. Ia mencari Tuhan semata, dan dalam kata-katanya hanya ada pembicaraan tentang Tuhan. Ia mendekati Sang Kekasih dan terjerat oleh Cinta. Dari waktu ke waktu, ia terus-menerus memurnikan cermin hatinya dari noda ‘diri’, dan melalui rahmat Tuhan, cermin itu bersinar cemerlang dengan cahaya-Nya” (hlm. 118 In The Tavern of Ruin).
Referensi :
Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dari bahasa Inggris: Love’s Disciple: Some recollection about Mr. Kobari. By Alireza Nurbakhsh.
Naskah asli Sufi Jounal Terbitan no 17, Khaniqah Publication, London-New York. Musim Semi 1993.
KISAH TENTANG SUFI
– Kisah Darwis Yang Gelisah Dan Kalifah Yang Tidak Cerdas
Oleh DR. ALIREZA NURBAKHSH
Pada suatu malam seorang darwis mulai khawatir, berpikir “Aku tidak lagi merasakan kerinduan yang kuat di hatiku”. “Hatiku dulu dipenuhi cinta. Tahun-tahun dan malam-malamku kuhabiskan dalam kerinduan dan mabuk”. “Sekarang, aku tidak dapat menemukan jejak semangat dan kerinduan itu di dalam diriku; aku harus menemukan jalan keluar lain dari kegelapan ini untuk kembali mencapai cahaya sejati”.
Maka, ia mengepak tas punggungnya dan memulai perjalanannya untuk mencari raja yang hilang. Niatnya jelas, tapi bukan tujuannya. Demi untuk menemukan cinta dalam jiwa dan raganya.
Setelah menempuh perjalanan jauh dari rumah dan kota, dia bertemu dengan sekelompok pria dan wanita dalam sebuah karavan. Ia bergabung dengan rombongan itu dan, karena merasa nyaman di antara mereka, ia bertanya tentang perjalanan mereka dan caranya. Salah satu dari mereka berkata, “Kita sedang menuju kebenaran. Kita sedang berziarah kepada raja jalan ini”. Sang darwis gembira mendengar hal ini dan berkata, “Wahai saudara-saudari, aku ingin bergabung denganmu dalam perjalanan ini”.
Dia mengikuti rombongan ini selama beberapa hari dan mendengarkan pujian kepada Tuhan dan objek pemujaan mereka. Namun sang darwis tertekan di dalam hatinya dan jiwanyapun tidak memiliki cinta serta merasa sangat sengsara. Yang lain tampak dalam keadaan rindu untuk bertemu dengan kekasihnya, tetapi dia merasa tidak bahagia, ditinggalkan, dan tidak berdaya. Tidak peduli seberapa dalam dia mencari cahaya murni di dalam dirinya, dia tidak dapat menemukan jejaknya di dalam dirinya.
Tiba-tiba dia mendengar suara teriakan dari kejauhan dan kemudian dia melihat bahwa itu berasal dari seekor hewan yang sedang sakit. Dia melihat di belakangnya ada seekor anjing yang sangat lemah, rapuh, rentan, dan tak berdaya. Sang darwis yang penuh kasih sayang mendekatinya dengan lembut, dan mulai membelainya dengan hangat seperti angin semilir.
Para peziarah tidak memahami dengan apa yang dilakukannya dan mengecam keras tindakannya. Mereka menyuruh si Darwis untuk meninggalkan anjing itu dan mencari Tuhan. “Bagaimana Anda bisa menyamakan cinta seekor anjing dengan cinta HU!?”.
Kata Darwis kepada mereka, “Anjing ini adalah kesayanganku, siapa pun yang merawatnya akan terbebas dari egonya”. “Aku telah melihat Tuhan di matanya dan mendengar Tuhan dalam tangisannya”.
Si Darwis duduk di sebelah anjing yang merana itu dan merawat kakinya yang terluka dengan tangannya sendiri. Kemudian dia mengambil roti dari tas bahunya. Jantung anjing itu mulai berdebar kencang karena gembira.
Tanpa diduga sebuah cahaya dari yang tak terlihat bersinar padanya dan tiba-tiba sebuah hembusan cinta dan kasih sayang membuatnya penuh gairah dan hidup lagi. Jiwa sang Darwis dihidupkan kembali oleh kasih sayang. Rasa sakitnya disembuhkan oleh cintanya kepada anjing itu.
Jalan cinta dan persahabatan dapat ditemukan di mana-mana. Tetapi di manakah mata yang dapat melihat jalan itu? Terinspirasilah dan berusahalah untuk membahagiakan orang lain dan untuk menyembuhkan dunia dengan hati yang gembira.
Keterangan Dokumen:
Penulis: Alireza Nurbakhsh, Banbury, 20 September 2024
Penterjemah: Anna San Taylor, London, 5 Oktober 2025
Bahasa: Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dari naskah asli Bahasa Inggris
– Manusia Sempurna
Oleh Dr. Alireza Nurbakhsh
Andalusia abad ke-12 adalah negeri yang penuh gejolak dan gemilang. Kerajaan-kerajaan terpecah belah akibat perang, namun kota-kotanya gemerlap dengan puisi, filsafat, dan musik mistik. Córdoba, dengan masjidnya yang luas dan gang-gangnya yang berliku-liku, memancarkan keresahan sekaligus keajaiban.
Di tengah dunia ini, berdirilah Abū Madyan, seorang guru Sufi yang kata-katanya bagaikan parfum yang tercium di seantero negeri Islam. Ia mengajarkan bahwa jiwa tidak dimurnikan dengan penyangkalan, melainkan dengan penerimaan bahwa seseorang harus menghadapi badai emosi di dalam dirinya, dan melalui badai itu, memoles hati hingga jernih. Tidak seperti para petapa yang mengasingkan diri dari dunia, ia dan murid-muridnya hidup di antara manusia, melayani, mengajar, dan mengubah beban sehari-hari menjadi jalan kenangan mereka.
Jauh di Fez, seorang “pencari” muda yang gelisah bernama Ibnu ‘Arabi mendengar kisah-kisah tentang guru ini. Ia telah membentuk visinya tentang Manusia Sempurna—makhluk yang hatinya, terpoles bebas karat, dapat mencerminkan Keilahian secara utuh. Namun satu simpul mengganggunya: jika manusia seperti itu mencerminkan Keilahian, bagaimana mungkin mereka masih bisa menanggung munculnya pikiran-pikiran gelap? Tak ada buku atau meditasi yang dapat menjawab pertanyaan ini. Maka ia pun berkelana melintasi negeri-negeri menuju Córdoba untuk mencari nasihat sang guru.
Ketika akhirnya dia menemukan Abū Madyan di dekat Masjid Agung, dia membungkuk dalam-dalam dan berbicara dengan nada mendesak: “Guru, aku tahu semua makhluk adalah cermin Ilahi. Kebanyakan cermin berkarat dan hanya memantulkan sedikit. Namun, ada yang dipoles begitu sempurna sehingga bersinar tanpa cacat, inilah yang kusebut Manusia Sempurna. Namun, inilah kesulitanku: jika Manusia Sempurna mencerminkan Ilahi, bagaimana mungkin mereka tersentuh oleh pikiran buruk? Pikiran datang tanpa diundang—baik yang mulia maupun yang jahat. Lalu, bagaimana kesempurnaan bisa bertahan dalam bayangannya?”.
Abu Madyan menatap cakrawala dalam diam. Akhirnya, ia bertanya: “Katakanlah kepadaku, Ibn ‘Arabī— apakah kamu sendiri seorang Manusia Sempurna?”
“Tidak,” aku sang pencari muda. “Karena bayangan-bayangan masih melintas di benakku.”
“Lalu bagaimana kamu tahu bahwa kesempurnaan seperti itu ada?”
“Karena keindahan Ilahi tak terhingga,” jawabnya. “Jika kita adalah cermin-Nya, pasti ada hati yang memantulkan-Nya lebih murni daripada hatiku. Jiwaku tak dapat meragukannya.”
Bibir sang guru melengkung membentuk senyum tipis. “Apabila bicara hanya dari sudut pandangmu sendiri. Kebenaran yang dipinjam tak akan harum. Namun, datanglah—aku akan membawamu kepada seseorang yang mungkin akan menunjukkan lebih banyak kepadamu daripada aku.” Kata sang Guru.
Mereka menyusuri jalan-jalan sempit Córdoba hingga tiba di sebuah jalan buntu tempat sebatang pohon jeruk merunduk di atas pintu sederhana. Abū Madyan mengetuk. Seorang perempuan paruh baya. Ketika membuka wajahnya, memancarkan kehangatan sederhana. “Semoga damai menyertai Anda, Guru,” katanya.
“Dan salam sejahtera bagimu, jawabnya. “Saya membawa seorang teman bernama Ibn ‘Arabi. Dia punya pertanyaan untukmu”. Kata Abu Madyan.
Di dalam, Ibn ‘Arabi terpukau: rumah kecil itu dipenuhi anak-anak—dua puluh, mungkin tiga puluh—yang membaca, bermain, meringkuk tertidur di sudut-sudut. Tawa mereka menggema bagai kicau burung di dinding yang sunyi. Ia menoleh ke arah sang guru dengan diam. Dan mata yang bertanya-tanya.
“Mereka adalah anak-anak yatim piatu akibat perang,” Abū Madyan menjelaskan dengan lembut. “Perempuan ini melindungi mereka, memberi mereka makan, menyayangi mereka, tanpa meminta imbalan apa pun. Warga Córdoba memberikan apa pun yang mereka bisa untuk mendukung pekerjaannya. Bagi saya, dia adalah Manusia Sempurna.”
Abu Madyan menoleh pada wanita itu dan bertanya dengan lembut. “Katakan padaku, Saudari—apakah kau pernah punya pikiran buruk?”
“Tentu saja,” jawab wanita itu dengan jujur dan tenang. “Tapi aku membiarkan mereka lewat, seperti awan yang berlalu di langit. Mereka datang, dan aku membuka jendela, dan mereka pun pergi.”
Abu Madyan memandang Ibnu Arabi. “Itulah jawabanmu. Kesempurnaan bukanlah ketiadaan bayangan, melainkan kebebasan yang tidak diatur oleh bayangan.”
Dan pada saat itu, sesuatu dalam diri pencari muda itu berubah. Sebuah wahana terangkat. Ia melihat bahwa kesempurnaan bukanlah cermin tanpa noda dan debu, melainkan hati yang begitu luas sehingga tak ada debu yang dapat meredupkan cahayanya. Manusia Sempurna tidak didefinisikan oleh ketiadaan pikiran, melainkan oleh kehadiran cinta yang tak terbatas.
“Jangan mencari cermin yang bersih; carilah hati yang bersinar melalui debu.”
Alireza Nurbakhsh London, 18 September 2025
– Kisah Seorang Pemburu Dan Burung Pipit
SEBUAH PELAJARAN KEHIDUPAN SEHARI-HARI TENTANG: KECINTAAN KEPADA ALLAH SWT MELALUI MENGINGAT SECARA LUMINTU SEBAGAI BENTENG PERTAHANAN DIRI DI ERA DIGITALISASI DAN GLOBALISASI
Ya Haqq Pada suatu hari Si A yang suka berburu di hutan rimba lebat berhasil menangkap burung Pipit yang sedang berteduh dibawah pohon. Si burung berteduh karena panasnya udara yang dua kali lipat dari biasanya. Panasnya udara saat itu dapat dibandingkan dengan suhu udara di London saat ini, yang bersuhu sekitar 34 derajad Celsius. Padahal biasanya pada musim panas rata rata suhu hanya mencapai 17 derajad. Karena lonjakan suhu udara itu membuat banyak binatang merasakan panas menyengat dan mereka mencari perlindungan di tempat – tempat teduh. Sebagaimana burung pipit yang ditangkap si pemburu itu.
Saat berada dalam genggangman si pemburu tiba-tiba burung pipit berbicara “Wahai sang pemburu, apabila engkau melepaskan aku maka aku akan memberikan 3 harta yang tiada ternilai harganya namun engkau boleh percaya boleh tidak”. Mendengar burung bisa berbicara, si pemburu ketakutan namun juga sangat gembira mendengar akan diberi 3 nuah harta yang tidak ternilai harganya. Secepat itu pula dia melepaskan burung dari genggamannya.
“Sekarang berikan harta yang kau janjikan karena engkau telah kulepaskan”. Kata pemburu. Mendengar kata-kata si pemburu burung Pipit itu tertawa terbahak-bahak dan berkata Harta yang pertama sudah ku katakan yaitu “jangan mudah tertipu dari perkataan manis dari orang yang tidak kau kenal”. “Apalagi menjanjikan harta yang tiada nilainya namun dia mengharapkan sesuatu yang sangat berharga yang kau miliki”.
Si pemburu menjadi marah dan berkata “Engkau telah menipuku, sekarang berikan harta kedua yang kau janjikan”. Harta kedua adalah “Jangan bersedih apabila engkau kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupmu. Kesedihan hanya akan membawa ke sengsaraan. Relakanlah apabila kehilangan sesuatu karena kebodohan sendiri. Kejadian itu, jadikanlah sebagai suatu peingatan akan pengalaman yang pahit dan sebagai pelajaran hidup. Supaya kelak tidak terulang lagi. Dan juga menjadi peringatan untuk tidak mudah tergoda lagi di masa depan. Apabila engkau tidak mempunyai nafsu untuk mendapatkan harta yang dijanjikan maka engkau tidak akan tertipu oleh kata kata manisku”. Jawab burung itu.
Pemburu itu semakin marah dan minta harta ketiga yang dijanjikan. Burung Pipit itu lalu menjawab “Bagaimana aku akan memberikan harta ketiga, apabila engkau tidak mampu mencerna dan memahami serta menelaah kedua harta yang aku berikan tersebut?. Namun karena aku telah berjanji maka aku tepati janjiku. Harta ketiga adalah “Takutlah pada dirimu sendiri apabila engkau masih selalu terpikat pada gemerlapnya dunia dan tidak tergugah untuk berbuat kebajikan dan membasuh segala kesalahan”.
Tuhan adalah maha pengasih dan penyayang. Selama engkau iklas mencintai Allah semata, segala mala petaka terhindarkan. Sebagaimana orang yang sedang kasmaran dan jatuh cinta, maka yang diingat hanya yang dicintai saja. Demikian juga apabila engkau mencintai Allah SWT engkau hanya akan mengingat Allah semata. Dengan demikian engkau tidak ingat yang lainnya dan tidak ingin yang lainnya. Sehingga engkau tidak akan mudah tergoda dan tergiur janji-janji manis yang diberikan oleh orang orang yang tidak kau kenal sebelumnya maupun yang sudah lama kau kenal. Dengan demikian engkau tidak akan tertipu dan tidak akan mengalami mala petaka. Tidak menderita kekecewaan. Tidak merugi baik harta maupun jiwa. Kerugian terbesar dalam kehidupan adalah merasakan kesengsaraan di dunia ini akibat kebodohan dan hawa nafsu serakah dari diri sendiri.
Karena dengan selalu mengingat Allah SWT kita tidak akan tertipu oleh janji-janji manis yang menjerumuskan kepada keserakahan dan ketamakan untuk memiliki dunia tanpa usaha. Yang pada akhirnya membawa kesengsaraan dan kekecewaan hidup belaka. Ya Haqq Ya Haqq
Aplikasi moral yang bisa dipetik dari Kisah Pemburu dan Burung Pipit di era komunikasi global tak terbatas melalui Internet. Mengingat Allah SWT secara terus menerus merupakan pertahanan hati, pikiran dan perasaan untuk tidak tergoda maupun tergiur pada situs-situs terlarang yang pada akhirnya kita tertipu harta benda dan juga berdampak negatif teehadap kesehatan mental kita. Karena kekecewaan dan kesedihan akan kehilangan dan merasa tertipu akan mempengarui perasaan dan pikiran dalam kegiatan hidup sehari-hari. Apabila tidak segera melepaskan diri dari belenggu kekecewaan dan kesedihan maka akan terjerumus pada kesengsaaran batin yang berkepenjangan dan tidal lagi bisa menikmati hidup.
Menyadari seoenuhnya bahwa Allah bersama kita, pada setiap detak nafas kita merupakan suatu benteng perlindungan untuk tidak mudah tergoda dan tergiur pada janji- janji manis palsu yang menipu. Menyadari sepenuhnya bahwa Allah bersama kita adalah juga merupakan benteng keselamatan lahir batin saat kita menjelajahi dunia maya. Terutama saat berkomunikasi melalui Media sosial. Mulai dari Instagram, TikTok, YouTube, WhatsApp, Facebook, Email, Signal, Telegram dan semua platform yang tersedia melalui internet yang dapat diakses secara bebas dan gratis, tanpa batas waktu maupun tempat.

Dengan sarana smart phone dan tersedianya Internet tanpa batas tempat dan waktu menjadikan “browsing” atau penjelajahan dunia maya menjadi privat atau sangat personal dan dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja. Hanya diri pribadi dan orang yang berkepentinganlah dan alat elektronik yang digunakan yang mengetahui apa yang diakses atau di unduh selama menjelajah dunia maya. Dan tentu saja Allah menyaksikannya segalanya. Kebebasan tidak terbatas dan kerahasiaan yang bisa dijaga oleh diri sendiri, menjadikan banyak orang terlena saat menjelajah dunia maya. Dan tidaklah mengherankan apabila mereka dan kita- kita tergoda untuk menjelajah jauh diluar kehidupan keseharian kita. Karena memang itulah salah satu kodrat manusia: Ingin tau dan ingin menjelajahi dunia baru.
Disamping itu, Internet telah memungkinkan terbukanya perpustakaan tanpa batas yang memungkinkan kita bisa melihat dunia dan seisinya secara virtual. Baik alam semesta dan segala isinya, maupun kecerdasan manusia yang tertulis melalui buku-buku dan dokument-dokument serta peninggalan- peninggalan barang-barang kuno yang menunjukan perkembangan kecerdasan manusia sesuai perkembangan jaman dan pada segala bidang ilmu pengetahuan.
Bagi Sufi Nimatullahi, Internet merupakan sarana untuk semakin mendekatkan para Sufi kepada Allah SWT. Karena Internet telah memungkinkan para Sufi untuk menyaksikan segala ciptaan Tuhan yang sangat luar biasa komplek dan sempurna serta tudak terbatas dalam keindahan dan manfaatnya di dunia ini. Kemampuan untuk menghargai segala ciptaan Tuhan yang terpampang terbuka dan tanpa batas yang bisa diunduh melalui perpustakaan terbuka dengan internet sebagai sarananya, adalah suatu tahap keintiman terhadap keajaiban Tuhan melalui segala ciptaannya. Karena pada tahap ini para Sufi memahami bahwa tidak ada satupun yang bisa menandingi kesempurnaan dan keaneka ragaman ciptaan Tuhan. Pemahaman ini menjadikan para Sufi untuk merenungkan ke- Agung-an Tuhan dengan segala kebesarannya dan mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan penuh rendah hati dan kepasrahan mutlak. Menyadari bahwa kuasa Tuhan tiada bandingnya.
Selanjutnya, bagi para pencari ilmu, Internet yang memungkinkan terbukanya perpustakaan dunia tak terbatas yang memungkinkan siapapun dan dimanapun bisa menjadi ahli pada satu bidang tertentu apabila memang menginginkannya. Belajar sendiri atau otodidak menjadi pilihan terbaik bagi mereka yang mempunyai disiplin diri, intelektual dan moral integritas. Di Inggris misalnya, sepertiga anak usia sekolah adalah home school. Saat mengikuti ujian nasional sesuai dengan umur, mereka mampu mencapai standard kecerdasan sama bahkan lebih tinggi dari anak anak seusianya yang mengikuti sekolah-sekolah formal. Banyak dari mereka yang langsung bekerja pada bidang yang disukai dan dipelajari dari kecil, sehingga mereka menjadi ahli walaupun masih di usia muda. Juga banyak yang melanjutkan belajar di universitas-universitas paling terpercaya serta mempunyai ranking tinggi di fakultas- fakultas tertentu. Contohnya Oxford, Cambridge, St Andrew, UCL, Imperial College, Queen College, Central St Martin, dls.
Semua yang disebutkan diatas adalah sisi positip dari Internet dan media sosial. Sayangnya kita lebih banyak mendengar dampak negatif dari Internet dari pada sisi positipnya. Kita sebagai manusia dengan segala kekurangannya mudah sekali untuk “lupa”. Menjelajah dunia maya mempunyai kecenderungan kita melupakan waktu dan tempat tanpa disengaja karena keasikannya. Karena keasikannya inilah kita melupakan pula apa tujuan kita menjelajah dunia maya. Kelupaan inilah yang menjadikan banyak orang kehilangan kontrol akan jati diri dan pikiran serta akal sehatnya, sehingga terperosok pada situs- situs yang tidak pantas untuk dikunjungi.
Mengingat Allah secara terus menerus membentengi kita untuk tidak “melupakan jati diri kita” saat menjelajah dunia maya. Sehingga kita selalu tetap berpegangan pada norma norma etika moral dan sosial yang berlaku dan selalu ingat untuk berpijak pada kenyataan hidup sehari- hari. Dengan penuh kesadaran bahwa Allah selalu bersama kita, maka kita tidak akan mudah tergoda dan tergiur oleh situs situs di dunia maya yang menjajikan “harta karun”. Baik berupa harta benda maupun hubungan asmara dan hubungan sosial lainnya. Dengan demikian kita tidak akan mengalami kekecewaan maupun kerugian harta benda. Dan kita dapat menjalani hidup sehari-hari dengan tentram dan penuh rasa syukur. Karena sadar bahwa kita telah memiliki harta karun yang tiada bandingnya yaitu kesadaran bahwa “Allah selalu Bersama kita”. Karena mengingat Allah yang selalu bersama kita dan selalu berjalan di jalan “Cinta yang Lurus”, merupakan “Harta Karun” yang tiada bandingnya baik di dunia maupun di akherat. Ini adalah rahasia. Jagalah rahasia ini. Ya Haqq
Keterangan: Berjalan di Jalan lurus adalah menjalani hidup sesuai laku utama seorang ksatria. Berjalan di Jalan “Cinta” adalah menjalani hidup dengan penuh kasih sayang kepada seluruh ciptaan Tuhan. Berjalan di jalan “Cinta Yang Lurus” adalah menjalani hidup sesuai watak ksatria yang didasari rasa kasih sayang terhadap sesama. Yang juga merupakan jalan hidup para Sufi. Ya Haqq
Adaptasi dan implementasi naskah:
Anna Taylor London, 2 July 2025 Revisi Naskah London 11 February 2026 Anna Kelly Taylor Raw Pudley
# Puisi Spiritual
Karya Pemimpin-Pemandu dan Guru Spiritual Sufi Nimatullahi: Dr. Javad Nurbakhsh (RIP) dan Dr. Alireza Nurbakhsh (London)
– Wacana Pemikiran
Oleh DR. JAVAD NURBAKHSH
Ketika aku berusaha menyerahkan jiwaku demi Dia, Dia berkata, “Itu terserah kepadaku; Aku akan membiarkanmu, jika Aku mau.”
Dia berkata, “Janganlah engkau berdebat tentang pikiran dan pendapatmu.” Aku berkata, “Aku patuh; apa pun yang Engkau kehendaki, akan kulakukan.”
Katanya, “Lepaskan apa pun yang mengatasnamakan cinta.” Aku berkata, “Kuserahkan seluruh keberadaanku, jiwaku, kepada mata-Mu yang penuh cinta.”
Dia berkata, “Siapakah engkau yang berani melangkah ke arah-Ku?” Aku berkata, “Aku menutupi tanah dengan kakimu.”
Dia berkata, “Apa maksudmu dengan tidak menetap di suatu tempat?” Aku berkata, “Harapanku adalah menetap di sekitar jalanmu.”
Dia berkata, “Sudah menjadi kebiasaan Jalan untuk menyimpan rahasia.” Aku berkata, “Tidak ada yang perlu kusembunyikan selain Engkau.”
Dia bertanya, “Apa kabarmu tentang Nurbakhsh?” Aku menjawab, “Aku tidak tahu apa pun tentang Nya yang perlu kuceritakan.”
Diterjemahkan sesuai naskah asli dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia Oleh
Anna Taylor, London, 6 Oktober 2025
Referensi : Sufi Journal, Summer 1995, Khaniqah Publication, London-New York
– Waktu Yang Kau Miliki Adalah Sangat Berharga
Oleh Dr. Javad Nurbakhsh
Saki! Penyaji anggur ! Bawalah kepadaku cawan yang penuh anggur itu.
Waktu yang kau miliki saat ini sangat berharga. Dalam pertemuan, dalam pertemuan waktu dan ruang –
Waktu yang kau miliki Saat ini sangat berharga. Karena langit yang terus berputar ini tak menawarkan jeda kepada siapa pun. Tinggalkan urusan dan kekhawatiran duniawi, bagi kami itu sudah cukup: Waktu yang kita miliki saat ini sangat berharga.
Gelisah dan cemas dalam kesusahan, sang kekasih takkan pernah bisa menjadi Berikan kami cawan anggur, Waktu yang kita miliki saat ini sangat berharga.
Di ambang cinta, intelek tak dapat mengucapkan sepatah kata pun, Semua ucapan dan wacana tak masuk akal Waktu yang kita miliki Saat ini sangat berharga.
Ah, hari ini adalah hari kesenangan, kasmaran dalam cinta. Jangan mencari jejak hari esok, Saat ini sangat berharga. duka hari esok tak dapat dirasakan oleh para kekasih yang cerdik dalam perjamuan kita. Mereka tahu di mana-mana, tersembunyi, terungkap: Waktu yang kita miliki Saat ini sangat berharga.
Dengarkanlah dari Nurbakhsh : Bahwa setiap detik napas berlalu dengan anggur dan Sang Kekasih. Napas itu, saat itu: Saat ini adalah sangat berharga.
– Rindu Untuk melihatmu
Oleh DR ALIREZA NURBAKHSH
Datanglah, cintamu telah membawa kebahagiaan di hatiku Dan bibirmu yang manis telah mengubahku menjadi Farhad. Datanglah, agar aku dapat tenggelam dalam tatapanmu. Ketika engkau menghancurkanku, aku kaupulihkan dan kembali menjadi utuh sepenuhnya. Aku mengikutimu kemanapun engkau pergi Engkau memburuku dan mengubahku menjadi seorang pemburu. Aku membayangkan wajahmu yang menawan Kerinduan untuk melihatmu telah membawa kebahagian ke hatiku.
Tadi malam engkau memberiku secangkir anggur yang menyala, Seteguk, dan aku mengalami kesatuan dari semua kualitas yang berbeda. Kau bertanya padaku, “O kekasihku, apakah engkau merasa mengantuk?”. Godaanmu yang genit membuatku kehilangan akal dan berteriak.
Kau bergoyang seperti pohon cemara dan merenggut hatiku. Aku mengitari keagunganmu seperti angin. Kau menganugerahkan cahaya keagungan pada jiwaku. Bahwa selalu bersamamu, Dan setiap saat Telah membebaskanku dari diriku sendiri.
Alireza Nurbakhsh
Banbury, 5 Oktober 2025
– Kekasih Yang Mempertaruhkan Segalanya
Oleh DR ALIREZA NURBAKHSH
Apa hubungan antara kekasih yang mempertaruhkan segalanya dengan agama? Kekasihnya telah menjadi apa pun yang ia cari dan semua yang ia ketahui. Baginya, yang dicintai adalah semuanya, Baik yang diperbolehkan maupun yang tidak. Segala sesuatu selain yang dicintai, tidak sah baginya. Ia terbakar cinta tiada henti siang dan malam. Jauh dari yang dicintai, bagaimana ia bisa menemukan kedamaian?
Ya Tuhan, tambahkanlah cintaku di setiap nafasku Hingga aku terbebas dari dunia seratus ribu kali lipat. Tak ada yang terlintas di pikiran selain gambaran wajah manis kekasih, di dunia ini dan di masa ini. Wahai kekasihku, berikanlah aku tekad untuk meninggalkan diriku sendiri Sehingga aku menjadi dirimu seutuhnya.
O’Nurbakhsh, agamaku adalah cinta – hanya cinta. Aku tidak punya urusan dengan siapa pun kecuali melalui cinta.
Alireza Nurbakhsh
Banbury, 10 Oktober 2025
– “Love”
Every single letter I wrote to you Expression of the heart of my soul Digging from the dearest feeling of my conscience
It seems repeating and boring Yet, it is one of love most precious quality: “constant, dependant and never change”.
The repeated words that you found it boring Dwelling inside are absolute loyalty and fidelity The quality of those the chosen few
One single word you found it boring on repeated note It is a mantra of divine being Like walnut that you find it ugly outside Inside is a nutritious ingredient That can sustain life and living self
One word that you found it keep repeating again and again It is symbol of resilient to all changing heart Unmoved, stay still regardless
One word “love” that you found it annoying It is a constant prayer May divine love embrace the world Especially those who read and wrote it
One single word you found it annoying It is “Encompassing all beauty of love secret of the Divine”.
Bestowed only to those who dare to jump to flame of love fire from the divine And let the flame engulfed their own very being
Like the moth burnt by the candles flame One who had burnt and lost herself in the fire of divine love Emerge in the form of light Body becoming spirit Spirit becoming the body Time and space no longer exists but the Beloved Alone Forever alive
One word of “LOVE”.
S. Kelly – Taylor London, 11 February 2026
– “How I Miss You”
How I miss you?
I miss you like the branches of Oak tree Waiting for their green leaves to come in Spring
I miss you like the fountain water missing its stream in Summer
I miss you like the singing birds missing the sun
I miss you like the bride waiting her groom to arrive
I miss you like a child crying for love
I miss you and my heart filled with longing
Where are you? If only I knew How much I miss you.
S. Kelly-Taylor
London 11 February 2026
– “How I Remember You”
How sweet would be to sit by your side
Every night under moonlight
How sweet would be to be next to you
Holding your hand and sit site by site
How sweet would be to be sit In front of you and admiring your beautiful face
How sweet would be to catch your willow tree move
How sweet would be to able to have a glimpse while you are walking
Every step is a tune in calming rhythm
How sweet would be to see your smiling face with radiance beauty
I saw you walking under the summer tree
I saw you at the train station
I saw sitting in the balcony
I saw you on your bike,
I saw under sun light
You never ordinary for me
You always be my special one and extra ordinary one in my eye and in my heart
When the calling prayer and the church bell ringing this afternoon
I include you in my of every prayer
Not only five times a day, Not only Sunday and Thursday
But in every corner of my soul
That how I love you in silent
That how you taught me how to love
S Kelly Taylor
London, 25 January 2025
# Kesenian
– Musik: Era Emas Musik Chason dari Perancis 1960-1970 yang dinyanyikan oleh Eva Lanoir dan Lara Fabian.
MUSIK CHASON DARI PERANCIS ERA TAHUN 1960-1970
Pada penerbitan edisi khusus ini kami memetik musik dari Perancis era tahun 60’-70’s yang terkenal dengan keindahan lirik yang bernada puisi dan dinyanyikan dengan kelembutan suara dan penuh penghayatan serta kemerduan suara penyanyinya, Sehinga musik era tersebut disebut masa kejayaan pop romantism di Perancis.
Romantic French Love Songs Vintage 60s–70s Chansons | Timeless Paris Romance
A Love Story in Paris | Relaxing French Romantic Music
– Seni Tari: “Beksan Gambyong Asmarandana”
Penata Tari: Dona Dhian Ginanjar, Penyusun Gending: Nanang Bayu Aji.
BEKSAN GAMBYONG ASMARANDANA
Beksan “Gambyong Asmarandana” disusun oleh Dona Dhian Ginanjar dengan penyusun gending Nanang Bayu Aji pada tahun 2023. Beksan gambyong ini mengambil nama dari gending Ladrang Asmarandana laras pelog pathet barang.
Asmarandana terdiri dari dua kata yaitu Asmara yang diartikan sebagai kasih sayang/ kebahagiaan, dan Dana yang diartikan sebagai sumbangsih. Beksan ini merupakan penggambaran atau refleksi seorang gadis yang sedang bersolek dengan senantiasa menebar rasa kebahagiaan dan kasih sayang kepada semua orang.
Sebagaimana ditulis oleh Dona Dhian Ginanjar pemilik akun @donadhian4438 YouTube.
# Taman Maerokoco
– Ρhenomena Alam: Awan Putih Berbentuk Rubah Sembilan Ekor
Pnenomena alam Awan berbentuk Rubah berekor Sembilan ini terjadi di London, United Kingdon pada Hari Rabu Siang 1 Oktober 2025 Jam 11.14 GMT.
Arti Menyaksikan Pnenomena alam “ Awan berbentuk Rubah berekor Sembilan “ di langit menurut ajaran Spiritual dan kepercayaan bangsa China.
Musim Autumn atau musim Gugur telah berjalan hampir di pertengan di Inggris Raya saat ini (Oktober 2025). Namun suhu udara masih fiatas 10 derajad dan matahari masih bersinar dengan indahnya. Cahayanya menembus awan – awan yang berupaya menjaga penampilan bentuk dan warnanya yang seputih salju. Tiba-tiba angin bertiup lembut dan dalam sekejap formasi awan berubah.
Bukannya menjadi berantakkan namun malah berbentuk Rubah putih betekor sembilan. Sebagaimana terlihat dari suntingan photo dibawah dalam gallery taman photo Maerokoco Jurnal Etika Spiritual terbitan ke III .
Menyaksikan awan berbentuk Rubah berekor sembilan umumnya dianggap sebagai pertanda baik, melambangkan kedamaian, kemakmuran, dan kehadiran penguasa yang baik hati. Peenampilan Rubah berekor sembilan, yang dikenal sebagai jiuwěihú (M), melambangkan keberuntungan besar dan terpenuhinya kebajikan di dunia, terutama dimana Pnenomena awan bentuk Tubah berekor sembilan itu menampakkan diri.
Makna Lambang dan Simbolisme Pnenomena Alam Awan Beebentuk Rubah berekor Sembilan
Keberuntungan:
- Rubah berekor sembilan adalah simbol yang sangat kuat dan positif.
- Angka sembilan adalah dianggap beruntung di China.
- Angka sembilan dikaitkan dengan kecerahan dan budaya puncak dalam bahasa China.
Kemakmuran:
- Sebuah Penampakan rubah berekor sembilan adalah diyakini menunjukkan masa damai dan sejahtera terutama dimana Pnenomena alam awan berbentuk Rubah berekor sembilan ini terjadi.
Pertanda Baik:
- Ketika raja bijaksana dan berbudi luhur, Rubah berekor sembilan akan muncul sebagai sinyal kesejahteraan ini dan keberuntungan.
Konteks Sejarah
- Referensi Teks Kuno:
- Disebutkan dalam teks seperti zaman kuno buku bergambar Ruiying Tupu (), seekor rubah berekor sembilan yang muncul akan menunjukkan seorang pemimpin.yang bijaksana.
Catatan Redaksi Pnenomena alam Awan berbentuk Rubah berekor Sembilan ini terjadi di London, United Kingdon pada Hari Rabu Siang pukul 11.14 GMT
– Aria
Apabila engkau ingin merasakan surga Tersenyemulah seperti Putri Aria Yang memberi senyum ceria kepada siapa saja yang ditemuinya Semua baik semua indah semua cinta dimata Aria Senyumnya mencerahkan jiwa
Apabila engkau ingin merasakan surga, Sapalah semua dengan cinta Seperti Aria menyapa siapa saja dengan cinta tanpa prasangka tanpa curiga
Apabila engkau ingin merasakan surga, Tertawalah seperti Aria, Yang mentertawakan apapun yang dilihatnya, Semua lugu dimatanya, semua cinta dimatanya
Apabila engkau ingin merasakan surga, Berbicarah seperti Aria, Satu dua kata namun benar semua
Aria, putri kecil yang sedang belajar berjalan dan berbicara Tanpa dosa tanpa prasangka Semua indah semua cinta dimatanya
Apabila engkau ingin merasakan surga Sucikan hatimu bersihkan pikiranmu, luruskan langkahmu Saat engkau kembali menjadi Aria, Kembali kepada kesucian dan kemurnian saat penciptaan
Engkau hanya melihat Satu : Cinta Engkau hanya mendengar satu suara : Cinta Engkau hanya berbicara tentang satu kata : Cinta Engkau hanya melangkah dalam satu jalan : Cinta.
Anna Taylor
London, 12 Oktober 2025
– Karavan Cinta
Didalam Mobil van putih itu penuh dengan cinta. Cinta para pekerja asing di London untuk para yang dicinta ; mereka yang ditinggalkan di Bulgaria, Romania, Turki dan Yunani, Polandia dan Albania, Lithuania, Yunani serta Ukraine dan negara-negara sekitarnya. Mobil van putih itu bermuatan cinta , Cinta para pekerja asing di London pada keluarga dan sanak saudara nya.
Mobil Van Putih itu penuh muatan cinta. Setiap koper setiap kardus setiap paket berisi cinta. Cinta para pengirim kepada keluarganya. Setiap tetes keringat siang dan malam menjelma menjadi segala macam barang tanda cinta. Ada sepatu dan baju, ada jaket dan raket. Ada permata ada celana dan kaos klub sepakbola.
Mobil Van Putih itu membawa muatan cinta. Meluncur tersendat sendat sepanjang jalan kampung kampung di London Raya. Setiap saat berhenti pada pintu nomor tertentu menjemput kiriman cinta. Dan saat penghuni London masih dalam mimpi, Mobil Van Putih bermuatan cinta itu telah sampai perbatasan. Semua tertawa keesokan harinya.
Yang menerima tertawa, Yang mengirim tertawa, Pengemudipun tertawa. Tawa Cinta. Cinta, walaupun panjang jalannya ditempuh juga. Cinta, walaupun harus terpisahkan tetap dipertahankan. Jarak bukan alasan. Cinta mendekatkan semuanya.
Apabila setiap nafas adalah nafas cinta , Maka siapa yang bernafas dalam cinta akan hidup selama lamanya.
Ya Haqq S. Kelly- Taylor
London, 13 Oktober 2025
– Jaringan Internet Dunia (World Wide Web – Internet).
Saat ini, setiap sudut dunia tidak lagi terisolasi atau berdiri sendiri. World Wide Web menghubungkan semuanya. Suatu ketika, seorang bijak yang terpilih pernah berkata, “Janganlah mencemari bumi dengan darah dan janganlah mencemari udara dengan kebencian.” Namun hanya sedikit yang mendengarkan atau mematuhinya.
Dahulu kala ada kitab suci yang diberikan kepada mereka yang tinggal di Tanah Suci dan utusan dipilih untuk menyebarkan kata-kata sakral dan suci, pesan yang sama seperti pesan dari orang bijak sebelumnya. Namun selama dua milenium, bumi darah orang-orang tak berdosa memerahkannya, Nyawa dianggap murah, karena tidak ada yang mengeluh dan jarang yang berani menantang kebiasaan. Dan mereka yang mengira masih bisa membodohi dunia, Terus menumpahkan darah dan menebar kebencian dimana-mana. Menganggap dirinya yang hanya pantas menghuni dunia.
Bersyukurlah dengan adanya World Wide Web, Jaringan Internet dunia, Ketika setiap tindakan direkam dan disebarkan ke seluruh dunia, dan tidak ada yang dapat menghentikannya, tidak ada pula yang dapat mengendalikan kebencian yang telah digunakan sebagai dasar menumpahkan darah di bumi selama berabad-abad lamanya. Dan kebencian menguasai pikiran di mana saja dan di setiap sudut bumi, bersembunyi dalam kegelapan pikiran. Tak seorangpun tau dan tidak ada yang peduli hingga pada suatu hari, kedamaian terusik dan ketakutan menjadi nyata.
Hidup tiba-tiba menjadi begitu berharga. Saat Teror menyebar dan memicu ketakutan dibumi tanpa batas negara, tidak ada lagi tempat yang dapat menjamin keamanan dan ketemtraman sepenuhnya. Jaringan Internet Dunia, WWW, Menjadi rantai ketakutan dan teror di dunia. Tidak ada tempat di bumi yang terisolasi atau berdiri sendiri saat ini. Setiap pertanyaan membutuhkan jawaban. Setiap kebencian memicu kebencian di tempat lainnya. Jaringan Internet Dunia adalah rantai penghubung segala rasa.
Sangat mudah untuk menyalakan api hanya dengan satu percikan. Begitu pula dengan memulai kebaikan dengan sebuah senyuman. Sangat mudah menghirup udara, semudah itu pula menebarkan cinta kepada semua melaui WWW. World Wide Web menghubungkan semuanya.
Dahulu kata-kata orang bijak diabaikan, firman Tuhan hanya dianggap dongeng belaka. Namun sekarang, ketaatan dan kepatuhan kepada segala cinta dan kebenaran Harus menjadi batas Jaringan Internet Dunia karena cinta dan kebenaran didunia berasal dari Yang Mahakuasa itu sendiri. Sumber yang menghubungkan segala sesuatu sebelum WWW: World Wide Web ada. Semua firman-Nya benar adanya:
“Jangan pernah menyakiti hati siapa pun jua.” “Agar dunia menjadi tempat yang lebih baik untuk ditempati, dan membahagiakan hati”.
Anna Taylor
London, 15 Desember 2025
Jurnal etika spiritual edisi IV Puisi Spiritual
– Bondi Beach Sydney Australia
14 December 2025
It no longer place for leasure and pleasure today,
But a monument of sadness and despair
That human failed to govern their own ego.
How I could relax on that beach again? I said
When its white sand tinted in red with innocent blood
Not one nor two but dozens.
How I could feel relax on that beach again
When I would remember the horror of the terror that day?
14 December 2025.
My heart in anguish of sadness and desperation remembering it all
The sadness of those who Ignorance to the humanity and life itself
The desperation of the world’s occupant to listen and to obey:
The words of Holly Scriptures :
” Do not break any heart, do not tinted the eart with blood, do not take what is not yours
Speak with the language of love. Spread kindness. And give joy and peace to all.
Bondi beach, today is a monument of sadness
Tomorrow is place to remember to enjoy life
and to treasure what is provided with gratitude.
Life is beautiful, every moment is precious
Spread the joy and loving kindness
And the World Wide Web will return it all to you
Bondi beach monument of leasure and
pleasure once more again in the future.
Ya Haqq
Anna Taylor
London, 15 December 2025
Journal Etika Spiritual 4th Edition
– Embrio Dari Sell Kuliat Manusia
Dilaporkan oleh : James Gallagher Koresponden kesehatan dan sains dari BBC.
London 30 September 2025
Ilmuwan AS, untuk pertama kalinya, membuat embrio manusia tahap awal dengan memanipulasi DNA yang diambil dari sel kulit manusia dan kemudian membuahinya dengan sperma.
Teknik ini dapat mengatasi ketidaksuburan akibat usia tua atau penyakit, dengan menggunakan hampir semua sel dalam tubuh sebagai titik awal kehidupan. Bahkan dapat memungkinkan pasangan sesama jenis untuk memiliki anak yang berhubungan secara genetik. Metode ini memerlukan penyempurnaan yang signifikan – yang dapat memakan waktu satu dekade – sebelum klinik kesuburan dapat mempertimbangkan untuk menggunakannya. Para ahli mengatakan ini adalah terobosan yang mengesankan, namun perlu ada diskusi terbuka dengan publik mengenai hal ini.
Tingkat keberhasilannya pun rendah (sekitar 9%) dan kromosom kehilangan proses penting saat mereka menyusun ulang DNA mereka, yang disebut pindah silang.
Prof Mitalipov, seorang pelopor yang terkenal di dunia dalam bidang ini, mengatakan kepada saya: “Kita harus menyempurnakannya. “Pada akhirnya, saya pikir ke sanalah masa depan akan mengarah karena semakin banyak pasien yang tidak dapat memiliki anak.”
Teknologi ini merupakan bagian dari bidang yang sedang berkembang yang bertujuan untuk membuat sperma dan sel telur di luar tubuh, yang dikenal sebagai in vitro gametogenesis.
BERITA BARU DIBIDANG ILMU PENGETAHUAN
Edisi ke tiga Jurnal Etika Spiritual kali ini mengabarkan tentang tiga penemuan penting di bidang Ilmu Biosciences dan Kedokteran. Yang pertama adalah riset awal yang memungkinkan pembuatan embrio dari kulit sell manusia.oleh ilmuwan dari Amerika. Yang kedua adalah tentang terlahirnya bayi ke delapan di Inggris yang diproses dengan menggunakan tiga DNA yang terbukti tidak lagi membawa penyakit keterunan. Dan berita ketiga adalah pembuatan embrio manusia tanpa sperma dan telur manusia. Penemuan oleh Prof. Alfonzo Martinez Arias. Ketiga berita tersebut dilaporkan oleh James Gallagher; reporter Ilmu dan Tehnologi, dari BBC London, England, UK.
– Bayi Dilahirkan Dengan 3 Dna Yang Berbeda Bebas Dari Penyakit Keturunan
16 Juli 2025
Delapan bayi telah lahir di Inggris menggunakan materi genetik dari tiga orang untuk mencegah kondisi yang menghancurkan dan seringkali berakibat fatal, kata dokter.
Metode yang dipelopori oleh ilmuwan Inggris ini menggabungkan sel telur dan sperma dari ibu dan ayah dengan sel telur kedua dari wanita pendonor. Teknik ini telah legal di sini selama satu dekade tetapi sekarang kita memiliki bukti pertama bahwa teknik ini dapat menghasilkan anak-anak yang lahir bebas dari penyakit mitokondria yang tidak dapat disembuhkan.
Kondisi ini biasanya ditularkan dari ibu ke anak, sehingga tubuh kekurangan energi. Hal ini dapat menyebabkan kecacatan parah dan beberapa bayi meninggal dalam beberapa hari setelah dilahirkan. Pasangan menyadari bahwa mereka berisiko jika anak-anak sebelumnya, anggota keluarga, atau ibu mereka pernah mengalaminya.
Anak-anak yang lahir melalui teknik tiga orang mewarisi sebagian besar DNA mereka, cetak biru genetik mereka, dari orang tua mereka, tetapi juga mendapatkan sedikit, sekitar 0,1%, dari perempuan kedua. Perubahan ini telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Tak ada keluarga yang telah menjalani proses tersebut yang berbicara secara terbuka untuk melindungi privasi mereka, tetapi telah mengeluarkan pernyataan anonim melalui Newcastle Fertility Center tempat prosedur tersebut dilakukan.
‘Terharu dengan rasa syukur’ “Setelah bertahun-tahun dalam ketidakpastian, perawatan ini memberi kami harapan – dan kemudian melahirkan bayi kami,” kata ibu dari seorang bayi perempuan. “Kami melihatnya sekarang, penuh kehidupan dan kemungkinan, dan kami diliputi rasa syukur.”
Ibu dari bayi laki-laki itu menambahkan: “Berkat kemajuan luar biasa ini dan dukungan yang kami terima, keluarga kecil kami menjadi lengkap. “Beban emosional akibat penyakit mitokondria telah terangkat, dan sebagai gantinya adalah harapan, kegembiraan, dan rasa syukur yang mendalam.”
– Mengembangkan Seluruh Embrio Manusia Tanpa Sperma Maupun Telur
Oleh DR. A.M. ARIAS
Para ilmuwan telah menumbuhkan entitas yang sangat mirip dengan embrio manusia awal, tanpa menggunakan sperma, sel telur atau rahim.
Tim Institut Weizmann mengatakan “model embrio” mereka, yang dibuat menggunakan sel punca, tampak seperti contoh buku teks embrio sungguhan berusia 14 hari. Bahkan melepaskan hormon yang membuat hasil tes kehamilan menjadi positif di laboratorium.
Ambisi model embrio adalah untuk menyediakan cara yang etis untuk memahami saat-saat paling awal dalam kehidupan kita. Minggu-minggu pertama setelah sperma membuahi sel telur adalah periode perubahan dramatis – dari kumpulan sel yang tidak jelas menjadi sesuatu yang akhirnya dapat dikenali pada pemindaian bayi. Waktu krusial ini merupakan sumber utama keguguran dan cacat lahir namun kurang dipahami.
“Ini adalah kotak hitam dan itu bukan klise – pengetahuan kita sangat terbatas,” kata Prof. Jacob Hanna, dari Institut Sains Weizmann, Saya.
Penelitian embrio memang bermanfaat secara hukum, etika, dan teknis. Namun, kini terdapat bidang yang berkembang pesat yang meniru perkembangan embrio alami. Penelitian ini, yang diterbitkan dalam jurnal Nature, dijelaskan oleh tim Israel sebagai model embrio “lengkap” pertama yang meniru semua struktur kunci yang muncul pada embrio awal.
“Ini benar-benar gambaran buku teks embrio manusia hari ke-14,” kata Prof Hanna, yang “belum pernah dilakukan sebelumnya”.
Alih-alih sperma dan sel telur, bahan awalnya adalah sel punca naif yang diprogram ulang untuk memperoleh potensi menjadi jenis jaringan apa pun di dalam tubuh. Bahan kimia kemudian digunakan untuk membujuk sel-sel induk ini menjadi empat jenis sel yang ditemukan pada tahap paling awal embrio manusia:
sel epiblast, yang menjadi embrio (atau janin)
sel trofoblas, yang menjadi plasenta
sel hipoblas, yang menjadi kantung kuning telur pendukung
sel mesoderm ekstraembrionik Sebanyak 120 sel ini dicampur dalam rasio yang tepat –
dan kemudian, para ilmuwan mundur dan mengamati.
Here goes your text … Select any part of your text to access the formatting toolbar.
Halaman Pernyataan
- Bahwa Semua pengurus Jurnal Etika Spiritual tidak menerima bayaran ataupun imbalan dalam bentuk apapun juga.
- Semua waktu dan keahlian yang diberikan dalam mengurus Jurnal Spiritual merupakan bentuk pengabdian kepada semua ciptaan. Dan diberikan dengan suka rela serta tidak mengharapkan untuk mendapat imbalan dalam bentuk apapun juga.
- Semua penulis naskah dan nara sumber tidak mendapatkan imbalan jasa dalam bentuk apapun juga.
- Semua naskah yang pernah dimuat dalam Jurnal Sufi International dalam bahasa Inggris terbitan Sufi Nimatullahi Publishing – New York – London. Diterjemahkan oleh Anna Kelly-Taylor, London.
- Jurnal “Etika Spiritual” merupakan bagian dari Yayasan Widyo Suwarno bagian Pendidikan Masyarakat. Bersifat nir laba dan sebagai wujud kepedulian membangun kekuatan moral dan kesehatan mental serta kesejahteraan bangsa.
Jurnal Etiks Spiritual Sufi
Koco Mirangi
https://tarekat-tasawuf-nimatullahi-indonesia.com
https://jurnaletikaspiritual.org
Program Pembelajaran Masyarakat
Sufi Nimatullahi Indonesia Dibawah
Yayasan Widyo Suwarno
Kep.Menkumham Nomor: C-1177.ET.01.02.TH 2005 NPWP : 02.376.997.9-535.00
Daftar List Edisi IV



























